Rp 2 Jt untuk Berdua

Jumat, 12 Juni 2009 00:00 WIB
160x ditampilkan


NATUNA -Sore itu, langit di Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna tampak cerah. Zuhir, pemuda yang mengenakan baju warna biru tampak berdiri di atas batu tengah melakukan aktivitas borongannya yaitu memecah batu untuk bahan baku pondasi rumah dan gedung-gedung yang ada di Ranai ibukota Kabupaten Natuna.

Pekerjaan ini kerap dia lakukan ketika ada permintaan dari orang-orang yang meminta jasanya sebab pekerjaan memecah batu adalah pekerjaan sekunder untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pekerjaan pokoknya adalah sebagai nelayan. Sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah usai memecah beberapa batu besar menggunakan godam (palu besar, red). Kepada Tabloid Kemilau Melayu dia mulai menceritakan bagaimana cara memecah batu dan kemana batu yang telah dipecah itu didistribusikan. Menurut dia, profesi menjadi tukang batu ini baru beberapa tahun dia tekuni. Setelah batu itu dipecahkan, batu tersebut akan didistribusikan ke pemesan. Satu lori sedang Rp 200 ribu.

Ternyata, tak mudah untuk memecah batu. Perlu kesabaran karena sebelum memecah batu, Zuhir harus menunggu sekian lama batu yang di bakar dengan menggunakan kayu. "Sebelum batu dipecahkan kita harus membakarnya terlebih dahulu dengan kayu bakar, sehingga batu yang besar itu tidak sulit untuk dipecahkan. Saya diupah Rp 2 juta untuk memborong pekerjaan ini," kata Zuhir.

Dia menambahkan, uang Rp 2 Juta ini bukan untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, uang tersebut dia bagi dua dengan temannya. Itu berarti masing-masing diantara mereka hanya mendapatkan Rp 1 Juta. Dari raut wajahnya, ada sebuah harapan untuk hidup yang lebih baik semoga Pemkab Natuna dapat memperhatikan nasib orang-orang seperti Zuhir yang sepertinya sangat memerlukan uluran dan bantuan dari pemerintah setempat.