Pertamina Harus Dipimpin Profesional yang Tahu Sektor Migas

Kamis, 13 November 2014 07:47 WIB
385x ditampilkan Bisnis

Menteri BUMN Rini Soemarno mengaku telah mengirimkan tujuh nama kepada konsultan PT Daya Dimensi Indonesia (DDI) selaku assesor calon Direktur Utama PT Pertamina.

"Ada tujuh nama dari internal dan eksternal," kata Rini saat ditanyai berapakah nama calon yang diusulkan dari Kementerian BUMN, di Jakarta, Rabu (12/11/2014).

Menurutnya, tahapan fit and proper test sudah hampir selesai dan sebagian nama sudah masuk kembali ke kementeriannya.

"Sudah ada yang masuk ke kita (KBUMN). Sebagian masih di PT DDI," tambahnya.

Terkait tahapan yang harus ditempuh, Rini mengatakan bahwa setelah melalui fit and proper test dari konsultan, nama-nama calon Bos Pertamina itu akan dipanggil oleh Kementerian BUMN untuk menjalani interview, setelah direview baru dimunculkan kepada Tim Penilai Akhir.

"Tahapannya yaitu setelah selesai di PT DDI, kemudian disini (BUMN) ada timnya yang melakukan interview, baru masuk ke TPA. Intinya setelah kita mereview, setelah mendapatkan assesment dari konsultan. Baru kita mengusulkan ke TPA," katanya.

Sayang Rini enggan mengungkap ketuju nama tersebut. Menanggapi hal itu,  Wakil Ketua Kadin bagian Perdagangan, Chris Kanter mengatakan pihaknya akan mendukung siapapun calon Dirut Pertamina asalkan memiliki kompetensi di sektor migas.

"Saya mendukung siapapun calon Dirut Pertamina yang baru. Kriteria yang jelas untuk pemimpin perusahaan minyak sebesar Pertamina haruslah orang yang berkompeten di bidangnya, minyak dan gas," kata Chris.

Seperti diketahui, nama-nama calon Dirut Pertamina dari eksternal yang sedang menjalani Fit and Proper di PT DDI adalah Budi Sadikin (Dirut Bank Mandiri), Sunarso, (Direksi Bank Mandiri), Zulkifli Zaini (Mantan Dirut Bank Mandiri), Fahmi Muhtar (Mantan Dirut PLN), Dwi Sucipto, (Dirut Semen Indonesia), dan Rinaldi Firmansyah (Mantan Dirut Telkom) dilakukan secara tertutup. Pasalnya, secara substansial sosok Rinaldi bukanlah orang yang memahami dunia migas dan problem-problem bisnis yang ada di sektor migas.

"Pokoknya mau itu proper test nya terbuka atau tertutup urusan pemerintah. Yang penting, Dirutnya harus memiliki kompetensi di bidangnya dan bisa bertanggung jawab," katanya.

Senada dengan Chris, Direktur Eksekutif Energy Watch Ferdinand Hutahaean menyatakan bahwa Rinaldi adalah orang yang bermasalah pada saat menjadi Dirut Telkom terkait kasus Pengadaan Internet Kecamatan. Dimana pada saat itu ia bersama dengan Arief Yahya yang sekarang sudah jadi menteri, keduanya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan internet kecamatan.

Menurutnya, akan sangat berbahaya ketika Dirut perusahaan plat merah sekaliber Pertamina Pememiliki karakter yang politis. Tentu itu akan berdampak negatif bagi perusahaan.

 

Sumber:Tribun