Harga BBM Bersubsidi Naik, Pengusaha SPBU Mengaku Margin Laba Menipis

Senin, 1 Desember 2014 10:01 WIB
352x ditampilkan Bisnis

Pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menjual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meminta pemerintah menambah margin keuntungan. Mereka mengklaim laba yang didapat dari jualan BBM subsidi turun lantaran harga jual BBM subsidi naik.



Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi bilang, saat ini pengusaha SPBU sedang lesu. Pasalnya, semenjak kenaikan harga BBM dan menurunnya harga Pertamax, margin laba jadi menurun. Saat ini margin yang di dapat dari penjualan pertamax sekitar Rp 450 per liter sedangkan untuk premium Rp 300 per liter.

Bila dibandingkan sebelum kenaikan BBM subsidi, tingkat margin tersebut rata-rata turun 20 persen-30 persen. "Kami juga harus membayar pajak lebih besar. Sementara sampai saat ini belum ada insentif dari pemerintah," kata Eri kepada Kontan, Jumat (28/11/2014).

Sebagai gambaran, selama ini  pengusaha SPBU dikenakan pajak sebesar 0,3 persen untuk tiap liter bensin yang dijual. Bila harga BBM naik, bilangan pengali untuk membayar pajak jadi melonjak.  "Dulu 0,3 persen dari Rp 6.500 per liter, sekarang jadi Rp 8.500 per liter," tambah dia.

Sementara itu, pengusaha SPBU juga mengaku merugi lantaran harga Pertamax menurun. Pasalnya, nilai pembelian pertamax dari pengusaha SPBU lebih besar daripada harga jual. Para pengusaha membeli pertamax masih pada posisi harga lama yaitu Rp 10.200 per liter. Sementara harga jual ke masyarakat saat ini menjadi Rp 9.950 per liter.

Namun, menurut Eri, masyarakat kurang memahami dinamika dari bisnis SPBU. Yang terlihat adalah kerap mendapat untung. Makanya, Eri ingin pemerintah memberi tambahan margin ke pengusaha SPBU. Besarnya, Rp 30 per liter seperti tahun lalu.

(Kompas)