TB Hasanuddin: Pesawat Tempur F-16 Merupakan Pengadaan yang Pernah Ditolak Komisi I DPR RI

Kamis, 16 April 2015 13:09 WIB
376x ditampilkan Nasional

Pesawat F16 yang pagi tadi jatuh di Halim Perdanakusuma merupakan hasil pengadaan terbaru tahun 2010-2011 zaman pemerintahan SBY, yang sempat ditolak Komisi I DPR kala itu.


Begitu disampaikan anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin usai mengamati nomor ekor pesawat buatan Amerika serikat itu.

"F16 ini merupakan pengadaan terbaru, itu sempat kita tolak mati-matian," ujarnya saat ditemui di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Kamis, 16/4).

Dijelaskan Kang TB, begitu ia disapa, dalam pembahasan di Komisi I dulu sempat diusulkan agar dana sebesat 650 juta dolar AS digunakan untuk membeli pesawat F16 tipe terbaru yaitu F16 blok 60.

Namun sayang, pemerintah tidak mau mengikuti usulan itu lantaran dana sebesar itu hanya mampu untuk membeli enam buah pesawat. Sementara jika dibelikan pesawat bekas, maka akan mampu membeli empat kali lipat atau sebanyak 24 pesawat.

"Kita mati-matian ingin membeli yang canggih, agar ada efek deterence yang tinggi dengan F16 blok 60 itu. Kalau beli pesawat paling bagus di Asia ini kita dapat enam biji dengan persenjataannya. Tapi pemerintah tidak setuju membeli yang baru dengan alasan hanya dapat sedikit, akhirnya membeli yang bekas dapat 24," sambungnya.

Pesawat bekas, lanjut Kang TB, sudah di grounded di Gurun Arizona yang kemudian dirakit ulang. Tidak hanya itu, F16 yang dibeli Indonesia merupakan pesawat bekas patroli daerah, bukan pasukan yang digunakan sebagai alat tempur.

"Makanya pada 5 Oktober 2014 pesawat itu datang empat buah. Di mana dua di antaranya sudah ada keretakan, konon tidak bisa take off, bahkan tidak ada parasut pengerem," lanjut ketua DPW PDI Perjuangan Jawa Barat tersebut.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar ke-24 pesawat pengadaan baru tersebut dicek ulang dan diinvenstigasi. Ini demi keselamatan pilot yang mengendarai pesawat.

"Saran saya 24 pesawat itu harus dicek ulang dan investigasi. Jangan lagi beli pesawat yang di-direct rekanan, karena yang diomongin cuma untung terus," tandasnya.[rmol/wid]