Menteri BUMN Nyatakan Pembangunan Kereta Cepat Akan Dilanjutkan

Ahad, 6 September 2015 09:04 WIB
309x ditampilkan Nasional

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung tetap akan dilanjutkan.


"Kalau jadi pasti jadi (pembangunan kereta cepat), tinggal speed-nya berapa, karena kami akan kalkulasikan stasiunnya berapa, akan berhenti dimana saja karena itu yang akan menentukkan speednya," ujar Rini di kantornya, Jumat (4/9). 



Rini mamastikan pemerintah tidak akan memberikan dana APBN maupun suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk proyek bernilai sekitar Rp 70 triliunan tersebut. 



Dia menjelaskan, proyek kereta cepat diperlukan. Dia yakin, proyek ini akan mendorong perkembangan kawasan yang dilaluinya. 



"Kami melihat wilayah-wilayah yang dilalui trayek tersebut bisa dikembangkan dengan baik. Karena wilayah Bandung Barat, nantinya, memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi pusat pendidikan,ecotourism, dan lainnya," jelas Rini. 



Dia menuturkan, proyek ini akan tetap dibangun namun berorientasi profit layaknya proyek lain yang digarap oleh BUMN. Rini menyebut akan meminta empat BUMN membentuk konsorsium dan bermitra dengan salah satu perusahaan dari dua negara yang mengajukan proposal tersebut. 



Empat BUMN yang ditunjuk Rini adalah PT Wijaya Karya Tbk (Wika), PT Jasa Marga Tbk, PT Perkebunan Nasional (PTPN) VIII, dan PTKereta Api Indonesia, di mana Wika akan menjadi pemimpin konsorsium. Nantinya keempat BUMN ini akan melakukan kalkulasi bisnisnya. 



Selain pengembangan kawasan, Rini beralasan ingin melanjutkan pembangunan kereta cepat untuk mengoptimalkan penerimaan PT PN VIII setelah perkebunan teh Walini tidak mampu berproduksi lagi karena tingkat polusi yang tinggi. Bahkan rencananya, di lahan seluas 2.952 hektare tersebut akan dibangun convention center. 



Dia berharap pembangunan kereta cepat ini bisa dimulai tahun ini karena menurutnya pembangunan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Dia membuka kesempatan selebar-lebarnya jika ada mitra yang mau bergabung. 



"Operasinya tentu bersifat joint venture. Jika ada mitra yang mau bergabung dipersilahkan saja. Selain itu tentunya kami juga butuh pendanaan, dan kini bisa kami katakan bahwa ada satu lembaga yang bersedia memberikan pinjaman kepada kami untuk melaksanakan proyek itu," ujar Rini tanpa memberi nama lembaga pembiayaan tersebut.

(Rmol)