2.855 Warga Melawi Kalimantan Menderita ISPA

Kamis, 1 Oktober 2015 08:43 WIB
345x ditampilkan Nasional

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, mencatat sejak dua bulan terakhir, Juli-Agustus 2015, sebanyak 2.855 warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dampak kabut asap.

 

Sekretaris Dinkes Kabupaten Melawi, Oktavianus Naibaho menyatakan, jumlah penderita ISPA mengalami lonjakan sejak bencana kabut asap menyelimuti Kabupaten Melawi.

 

"Pada bulan Juli tercatat ada 1.203 kasus ISPA dari seluruh kecamatan, sedangkan pada Agustus, terjadi peningkatan sebanyak 1.652 kasus ISPA, sehingga telah terdata sebanyak 2.855 penderita, dan jumlah itu belum termasuk kasus ISPA di bulan September karena datanya belum masuk ke kami," ujarnya saat dihubungi, Kamis (01/10/2015).

 

Naibaho menambahkan, kondisi udara yang memburuk karena asap yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan telah berdampak besar pada tingkat kesehatan masyarakat di Melawi.

 

Menurutnya, pihak Dinkes Kaupaten Melawi hanya bisa melakukan upaya agar masyarakat yang terpapar penyakit ISPA dan saluran pernapasan lainnya tidak semakin banyak.

 

"Langkah yang kami lakukan sejauh ini hanya membagikan masker, baik di sekolah-sekolah, maupun Puskesmas. Saat ini masker yang merupakan bantuan dari provinsi sudah didistribusikan dan juga dibagikan ke masyarakat," tuturnya.

 

Penanganan penanggulangan bencana asap, kata Naibaho, memang hanya bisa dilakukan dengan meminimalisir keberadaan titik api di Kabupaten Melawi. Sementara, Dinkes bertugas meminimalisir dampak asap terhadap manusia.

 

"Makanya kita optimalkan pembagian masker, setidaknya bisa mengurangi dampak asap terhadap manusia, karena masker bisa menyaring partikel debu agar tidak masuk langsung ke saluran pernapasan manusia," katanya.

 

Ia menambahkan, angka kasus ISPA yang mencapai 2.855 penderita juga tidak menggambarkan keseluruhan penderita ISPA di Melawi, mengingat tidak semua penderita mendatangi fasilitas-fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, rumah sakit maupun klinik untuk mengobati gangguan saluran pernapasan itu.

 

"Bisa saja ada yang hanya membeli obat di warung untuk mengobati penyakit ISPA-nya. Makanya saya memperkirakan jumlah kasusnya bisa lebih besar dari yang terdata, karena Dinkes hanya merekam data bagi masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan itu," ujarnya.

 

Naibaho mengakui, kabut asap yang pekat sudah sangat mengganggu dan membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.


(OKZ)