Alumni IPB Komitmen Akan Perluas Kemanfaatan ke Masyarakat Luas

Senin, 12 Oktober 2015 06:27 WIB
381x ditampilkan Pendidikan

Sebanyak 700 orang alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 22 berkumpul dalam acara Reuni Akbar 30Th Grhasita untuk meneguhkan komitmen memperluas kemanfaatan hidup untuk orang lain melalui tiga gerakan kepedulian yang menerapkan gaya hidup hijau (green living).

 

"Ketiga gerakan kepedulian ini sebagian contoh dari kesadaran dan wujud nyata alumni IPB Angkatan 22, yang lebih memaknai Reuni Akbar 30 tahun pada 11 Oktober ini sebagai hari peneguhan komitmen untuk meluaskan kemanfaatan hidup orang lain," kata Mukhlis Yusuf, mewakili panitia reuni 30 tahun Ghrasita, di Bogor, Minggu.

 

Mukhlis mengatakan, Grhasita bermakna Rumah Persemaian. Tema besar Reuni Akbar Grhasita adalah "Menguatkan Kebersamaan, Meluaskan Kemanfaatan, kepedulian Grhasita kepada tiga pemangku kepetingan yang telah berjasa pada perkembangan pengabdian para alumni, di antaranya almamater IPB, sesama alumni, dan masyarakat pelaku pertanian dalam arti luas. 

 

Dikatakannya, tiga di antara berbagai kegiatan yang dimotori alumni Grhasita adalah, Green Tempe 22 sebagai bagian dari Indonesia Tempe Movement yang dipelopori oleh Wida Winarno dari Bogor. Model peternakan sapi perah terpadu yang dipelopori oleh Taryat Ali Nursidi dari Subang dan Kewirausahaan Sosial yang dipelopori oleh Akhmad Supriyatna dari Serang. 

 

"Ketiga model merupakan gerakan yang menterjemahkan Green 22 yang diluncurkan oleh alum IPB Angkatan 22 pada peringatan Reuni Akbar 30 Tahun Grhasita," kata Mukhlis.

 

Mukhlis mengatakan, ketiga gerakan yang menterjemahkan Green 22 dipelopori oleh tiga alumni IPB yakni Wida, Taryat dan Yatna adalah contoh, di antara banyak yang lainnya. Semua karya tersebut diperoleh dari hasil penempaan oleh Kampus Rakyat IPB.

 

"Bia mengutim padangan alm Prof Andi Hakim Nasoetion, perguruan tinggi bertujuan untuk membekali mahasiswa untuk melatih cara berfikir runtun, mampu mengidentifikasi masalah di masyarakat dan menawarkan solusi di atas permasalahan masyarakat," katanya. 

 

Ketua Panitai Reuni Akbar 30 Tahun Grhasita, Ojat Sujatnika mengatakan, reuni akbar tersebut bukan akhir dari komitmen, melaikan penguatan komitmen untuk terus bekerja bersama-sama. Masing-masing alumni memiliki bidang kepedulian, dan model pengabdian kemanfaatan hidup lainnya. 

 

"Indonesia sedang bekerja, salah satu agenda besarnya adalah mewujudkan kedaulatan pangan dan menggrairahkan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup hijang," kata Ojat. 

 

Sementara itu, Green Tempe 22 adalah gerakan untuk keberlanjutan warisan bangsa melalui usaha dan edukasi tempat berkualitas, membangun jejeraing retail nasional dan internasional, pemanfaatan limbah industri tempe untuk pakan ternak, menanam benih dengan bekerja sama dengan balai benih, membuat pelatihan tempe yang lebih efisien, membuat berbagai variasi tempe, edukasi supplier untuk industri tempe, mengembangkan berbagai produk dengan konsep tempe, dan merancang strategi branding tempe sebagai identitas Indonesia. 

 

Gerakan ini menarik perhatian masyarakat, karena secara tradisional pembuatan tempe biasanya membutuhkan air dan bahan bakar yang relatif banyak terutama untuk proses pencucian, perebusan dan perendaman. Dan, industri tempe biasanya menghasilkan limbah yang cukup banyak baik berupa air cucian dan air rebusan. 

 

Terinspirasi dari Indonesia Tempe Movemnet (IHT) yang dipelopori oleh Wida Winarno, Green Tempe 22, menawarkan solusi untuk keberlanjutan industri tempe di amsa depan di tengah keterbatasan sumber daya alam (air) dan sumber energi, dengan memperkuat praktek teknologi produksi tempat yang lebih hemat air, bahan bakar danlimbah yang sedikit dengan kualitas terbaik, berstandar internasional sekaligus memenuhi persyaratan gizi dan protein alternatif. 

 

"Kami sudah dua kali melakukan pelatihan dan animo masyarakat cukup besar. Kami akan membuka kesempatan pelatihan membuat beragam tempe bagi masyarakat luas," kata Wida. 

 

Berikutnya gerakan model masyarakat sapi perah terpadu yang dikembangkan Taryat Ali Nursidik, menguatkan posisi tawar peternak kepada pelaku industri hilir melalui kelompok usaha para peternak, sehingga dapat meningkatkan harga jual, berkelanjutan, fasilitas pendidikan, pendapatan tambahan dari keuntungan koperasi, pasokan energi biomassa, dan pengolahan limbah secara ekonomi. 

 

Ekosistem model masyarakat sapi perah terpadu ini secara resmi berdiri sejak 2010 di Subang. Masyarakat aktif berkelompak sejak 2007. Lebih dari 200 anggota Gopaknak ini kini hidup lebih sejahtera dibanding sebelum usaha berkelompok. 

 

Gerakan ketiga yakni kewirausahaan sosial yang dipelopori oleh Akhmad Supriyatna, yang sejak lebih dari 10 tahun lalu mendirikan sekolah alternatif SMA Bina Putera. Sekolah bersahaja didirikan khusus untuk menggerakkan anak-anak dhuafa berani bermimpi melalui sekolah.

 

Sekolah tersebut terletak di Desa Rancasumur, Kabupaten Serang, sekolah ini lebih mudah dijangkau melalui Stasiun Maja dan lebih dekat ke Kabupaten Lebak bila dijangkau melalui jalur darat dibanding ke Ibu Kota Kabupaten Serang. 

 

Akhmad mengatakan, SMA Bina Putera mengadopsi model sekolah "moving class" dan laboratorium alam yang menekankan pada kreativitas kepemimpinan dan "self centered learning". Para siswa banyak berinisiatif dan mengelola kegiatan sekolah secara mandiri. Sedangkan guru lebih banyak bersikap sebagai fasilitator dan pendampingan. 

 

"Yang kita kuatkan pendidikan karakter, bagaimana menghasilkan individu yang memilik kemampuan diri," katanya. 

 

Lulusan SMA Bina Putera menjadi Rumah Persemaian kader-kader pemimpin yang berkarakter maju dan kreatif. Lulusannya banyak menembus kampus PTN terbaik dan bekerja di berbagai bidang. 


(ant)