Setahun Pemerintahan Jokowi-JK, 100 Kasus SARA Sudah Terjadi

Selasa, 20 Oktober 2015 06:13 WIB
397x ditampilkan Nasional

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat lebih dari 100 kasus terkait suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) terjadi dalam rentang waktu satu tahun pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

 

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan, kasus yang bernuansa SARA banyak terjadi di beberapa daerah seperti kasus pembakaran masjid di Tolikara, Papua dan pembakaran Gereja di Aceh Singkil, Aceh yang terjadi beberapa waktu lalu.

 

"Kami (Komnas HAM) mencatat kira-kira kasus bermotif SARA ada 100 lebih kasus, ini baru satu tahun pemerintahan Jokowi-JK," ujar Natalius kepada Okezone.

 

Pria kelahiran Paniai, Papua itu mendesak Presiden Jokowi mencabut Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri, terkait pembangunan rumah ibadah, di mana salah satu syarat pendirian rumah ibadah adalah pengumpulan Kartu Tanda Penduduk (KTP) minimal dari 90 warga masyarakat yang tinggal di sekitar gedung peribadatan.

 

Sebab, baginya, SKB tersebut bertolak belakang dengan konstitusi. Apabila SKB tersebut tidak di cabut maka akan ada terus konflik agama di Indonesia. "Ya saya kira pemerintahan sekarang maupun pemerintahan yang lalu sama saja, karena sumber masalah itu SKB Dua Menteri. Maka jika SKB tersebut tidak dicabut, konflik agama akan terus ada," katanya.

 

Natalius melihat, konflik SARA tidak ada pada kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Salah satunya karena SKB Dua Menteri itu belum ada, sehingga suasana tentram antar pemeluk agama.

 

"Paling tentram itu zamannya Presiden Gus Dur, kalau beliau selalu memberikan kenyamanan, setelah itu (kepemimpinan Presiden Gus Dur) tidak ada yang bisa memberikan kenyamanan," ungkapnya.

 

Sekedar informasi, dalam SKB Dua Menteri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat tanggal 21 Maret 2006, dalam Pasal 14, disebutkan bahwa pendirian rumah ibadah wajib memenuhi persyaratan-persyaratan. Salah satunya dukungan masyarakat setempat paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh lurah atau kepala desa. Ini dilanjutkan dengan dukungan minimal 60 KTP dari warga sekitar.

 

Berikut kasus SARA yang sempat heboh di era satu tahun pemerintahan Jokowi-JK:

 

1. Pada 17 Juli 2015 saat umat muslim sedang menjalankan salat Idul Fitri terjadi penyerangan di sebuah masjid di Tolikara, Papua. Diduga jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) Tolikara datang dan melempari mereka pada takbir ketujuh di rakaat pertama. Masjid pun dibakar massa. Akibat peristiwa tersebut, puluhan orang mengalami luka bakar dan lainnya diungsikan. Selain masjid di Tolikara yang dibakar, rumah-rumah dan kios-kios pasar juga mengalami nasib serupa. Barang-barang yang ada di dalamnya pun turut dijarah massa.

 

2. Pada 20 Juli 2015, ada dua pembakaran gereja di Jawa Tengah yakni Gereja Baptis Indonesia di Saman, Bantul dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Desa Tlepok, Purworejo. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki dua pembakaran gereja tersebut, apakah bermotif balas dendam pada kasus Tolikara atau bukan.

 

3. Pada 13 Oktober 2015, pembekaran sebuah gereja terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Insiden ini dipicu pembakaran sebuah rumah yang dianggap tak memiliki izin untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Bentrokan terjadi antara massa yang menamakan diri mereka Gerakan Pemuda Peduli Islam Aceh Singkil dan warga Desa Dangguran, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil. Kerusuhan berawal ketika sekelompok massa hendak menerobos barikade penjagaan ke bangunan yang dinamai Gereja HKI di Dusun Dangguran, Desa Kuta Lerangan, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil. Aksi massa ini mendapatkan perlawanan dari warga Desa Dangguran sehingga berujung pada bentrokan. Akibatnya, tiga warga dan seorang personel TNI menderita luka-luka ringan, sementara satu warga bernama Samsul, warga Desa Buloh Sema, Kecamatan Suro, dikabarkan tewas.


(okz)