Pemberantasan Korupsi Hanya Sebatas Basa Basi Belaka

Rabu, 13 Januari 2016 21:41 WIB
407x ditampilkan Opini



Korupsi tidak hanya berbentuk materi, melainkan juga waktu. Banyak lebih cenderung menilai korupsi dari segi materi padahal tidak sedikit yang melakukan korupsi dalam bentuk waktu seperti halnya instansi pemerintah pada waktu jam dinas bukannya melaksanakan tugas yang seharusnya ia lakukan melainkan duduk santai di warung kopi. Datang secara terlambat akan tetapi pulang dangan waktu yang cepat inilah contoh pelaku korupsi yang dipercayai masyarakat memiliki pendidikan dan keahlian untuk mengemban tugas negara namun disia-siakan begitu saja tanpa ada rasa tanggung jawab dibenaknya. Sama halnya dengan korupsi berbentuk materi, sebagai contoh kecil yang belum banyak disadari oleh masyarakat yaitu pemakaian mobil dinas untuk keperluan pribadinya dan bukan jam dinasnya dengan sesuka hati mereka saja menggunakannya, mereka yang bermata buta hingga milik negara dan pribadinya dianggap sama saja.  

 

Jika dilihat dari berbagai contoh diatas pelaku korupsi bukanlah rakyat biasa yang tidak mengerti apa-apa melainkan pejabat negara dan bahkan penegak hukum juga merupakan pelakunya yang kita dengar kasus di akhir-akhir ini. Bayangkan apa yang terjadi di negeri ini ? pelakunya sendiri bukan dari kalangan masyarakat biasa melainkan orang yang berpendidikan dan memahami akan aturan hukum itu sendiri. Negeri ini seakan surga bagi para tikus-tikus berdasi, mengapa? karena perbuatan mereka rasanya tidak sesuai dengan hukuman. Sebagai contoh nyata seperti kasus Gayus Tambunan yang telah melenyapkan uang rakyat dengan jumlah besar dan sangat merugikan. Namun, hukumanya penjara yang didalamnya separti hotel berbitang lima. Dimana bukti tegaknya keadilan hukum di negeri ini ? sementara rakyat miskin akan terus kebawah, yang kaya akan semakin berkuasa. Inikah yang dikatakan negeri hukum? Ya, Negeri yang seakan menerapkan hukum rimba. inilah contoh betapa terhormatnya tikus-tikus berdasi itu diperlakukan dinegeri ini sehingga semangat untuk korupsi tidak pernah pudar didalam dirinya  bahkan generasi seterusnya banyak yang tertarik untuk melakukanya. Inilah jawaban mengapa korupsi hingga saat ini terus terjadi.

 

Indonesia yang katanya negeri hukum, sampai saat ini belum bisa memberantas korupsi. Memang secara teori, hukum indonesia sudah sangat baik. Semua tindak-tanduk perbuatan  telah diatur akan tetapi, secara prakteknya masih sangat memperihatinkan. Banyak strategi-strategi yang diberikan oleh para ahli dan langkah-langkah pemerintah dalam melakukan pencegahan korupsi juga berbagai gerakan anti korupsi dari berbagai kalangan di masyarakat namun hasilnya belum dirasakan oleh pihak yang dirugikan. Hanyalah basa-basi jika tidak memperbaiki praktek hukum dan oknum-oknum yang menjalankan praktek hukum tersebut. Sebaiknya selain dari langkah-langkah, strategi-strategi, dan gerakan dari berbagai pihak, aturan hukum juga harus semakin diperketat berupa sanksi yang seimbang dengan perbuatan. Seperti halnya yang diterapkan dinegara cina yang mana korupsi harus dihukum mati memang sekilas kita mendengarnya kejam dan sudah melanggar Hak Asasi Manusia akan tetapi jika dilihat kembali dampak yang dirasakan betapa banyak hak-hak masyarakat yang dirampas. Sehingga para koruptor akan lebih berat untuk melakukannya dan jera akibat dari resiko yang akan diterima cukup fatal, dan secara perlahan pelaku korupsi akan semakin berkurang dan secara bertahap kasus korupsi di negeri ini akan terselesaikan bukan silih berganti seperti saat ini. Selagi hukum mati tidak berlaku, berantas korupsi hanya basa-basi semata.

 

lufia syahrunita 

Ilmu Administrasi Negara

UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI