Bacalah Bukumu Selagi Masih Ada Umurmu

Senin, 18 Januari 2016 10:20 WIB
445x ditampilkan Opini

Saat ini Indonesia memasuki era Globalisasi dimana pertukaran cara pikir dan pola pandang serta aspek-aspek kebudayaan lainnya semakin maju. Di era globalisasi ini juga berpengaruh pada minat baca dari setiap manusia khususnya mahasiswa,seperti yang kita ketahui minat baca dikalangan mahasiswa sangat memprihatinkan hal ini dipicu oleh bahan bacaan yang mereka baca kurang menyenangkan dan tidak menarik untuk dibaca khusunya seperti buku pelajaran.

 


Minat baca adalah seserorang yang memiliki rasa ketertarikan terhadap buku yang ingin dibaca sehingga mereka membaca buku tersebut atas kemauan sendiri tanpa paksaaan dari orang lain. Membaca merupakan kunci untuk mendapatkan segala informasi dan pengetahuan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri tentang berbagai macam hal yang ada,dan yang belum pernah kita ketahui. Tak jarang kita mendengarkan bahwa buku itu sebagai jendela dunia karena dengan membaca dapat membuka wawasan yang luas,sehingga buku sangat berpengaruh buat masa depan kita.

Bahkan lebih ironis lagi dikalngan perguruan tinggi yang sebagian besar terdapat kelompok elit intelektual bukan hanya mahasiswa saja yang mendapat kritikan pedas akan minat membacanya kurang,bahkan diantara beberapa dosenpun juga mendapat kritikan pedas bahwa ada dosen yang malas membaca. akibatnya mata kuliah yang diberikanpun dari tahun ketahun isinya sama saja dengan referensi buku-buku yang ketinggalan jaman, rendahnya minat baca dikalangan dosen tersebut, mudah dipantau dari kreativitas menulis, karena kemampuan menulis tidak bisa dipisahkan dengan kebiasaan membaca.   

Dikalangan mahasiswa membaca belum menjadi kebiasaan yang mendasar dan utama. Melihat fenomena saat ini, banyak mahasiswa lebih senang dengan kesibukan lain dibandingkan dengan membaca. Jika kita  lihat data pengunjung mahasiswa diperpustakaan bisa dikatakan hanya 2 dari 10 orang saja yang datang mengunjungi perpustakaan untuk membaca. Selain itu ketika ada waktu senggang seperti dosen yang berhalangan masuk maka,jarang sekali mahasiswa menghabiskan waktunya untuk membaca diperpustakaan. Mereka lebih memilih untuk sibuk dengan gadget mereka masing-masing ketimbang menghabiskan waktu mereka diperpustakaan.

 

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)  Anies Baswedan mengatakan, budaya membaca di Indonesia sampai saat ini masih sulit diterapkan. Ia  mengatakan budaya membaca buku  sampai saat ini masih rendah. Berdasarkan data UNESCO, presentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 persen. Begitu rendahnya minat baca baik dari kalangan mahasiswa maupun kalangan orangtua dan anaka-anak dan mengutip laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND, dan studi IEA ( International Association for the Evaluation of Education Achicievement) di Asia Timur, tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7, di bawah Filipina (skor 52,6), Thailand ( skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong  (skor 75,5). Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga menyebutkan (UNDP) dalam Human Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat umunya sudah mencapai 99,0 persen.

Tentunya kita pasti akan bertanya faktor apakah yang membuat minat baca khususnya dikalangan mahasiswa itu rendah?? Maka,ada beberapa faktor yang bisa menjawab itu yang paling utama adalah karena kemajuan teknologi,dimana mahasiswa lebih mengutamakan handphonenya atau gadget yang mereka punya karena,biar tidak ketinggalan jaman dan selalu up to date akan berita-berita dan gosip terkini kalau anak jaman sekarang bilang biar “kekinian”. Sehingga tak jarang ketika kita meminjam gadget dari salah seorang kawan kita kita akan melihat banyaknya aplikasi-aplikasi digadget mereka seperti BBM,WHATSAPP,PATH,LINE,INSTAGRAM dan lain-lain dan tak jarang juga kita jumpai anak SD saja sudah mengerti apa itu gadget dan tak jarang membawanya kesekolah. Terkadang juga ada anak yang dari kalangan orangtua yang berpenghasilan pas-pasanpun selalu menuntut untuk memiliki gadget agar tidak minder dengan kawan-kawannya ketimbang menghabiskan uangnya untuk membeli buku.

Faktor lain yaitu, dari kepribadian mahasiswa itu sendiri yang mungkin memang dasarnya malas membaca dan mencari kesibukan lain,dan faktor pergaulan dimana mahasiswa lebih senang bergaul dengan teman-teman dan memanfaatkan waktu senggang dengan mengobrol bersenda gurau dengan kawannya dibandingkan menghabiskan waktu senggangnya untuk membaca buku.

Mengingat tantangan masa depan semakin berat, dan perkembangan iptek semakin laju dengan cepat dan menuntut SDM yang berkualitas, maka dengan membaca kita dapat menyerap informasi sebanyak-banyaknya, yang pada akhirnya bisa membentuk manusia cerdas dan kritis. Dan untuk meningkatkan kesadaran membaca dikalangan mahasiswa maka mulailah dari diri sendiri untuk melatih membaca buku-buku yang disukai seperti novel,cerpen,majalah dan lai-lain yang dapat meningkatkan minat baca dan dapat memotivasi diri kita.

Mulailah membaca dari buku-buku baru ataupun buku-buku yang belum kita ketahui sehingga dapat menambah wawasan kita akan hal-hal yang belum kita ketahui menjadi tahu,tingkatkan juga rasa keingintahuan kita akan hal-hal baru sehingga kita akan mencari informasi-informasi baru dan  Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca,jangan paksakan diri kita untuk memahami bahan bacaan yang kita baca tetapi mulailah belajar bahwa membaca itu membawa manfaat positif akan pola pikir kita dan meningkatkan kualitas diri kita.

Tiada orang yang sukses didunia ini tanpa membaca !! maka,membaca perlu dibiasakan sejak dini,Semakin lama dan semakin suka kita membaca dari hal-hal yang kecil maka kita akan sulit untuk tidak membaca. Meminjam pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi You are what you eat, kita dapat mengubahnya menjadi You are what you read.