Menteri BUMN Targetkan Laba Bersih Rp 172 Triliun

Rabu, 20 Januari 2016 06:28 WIB
296x ditampilkan Bisnis

Kementerian BUMN mematok laba bersih 118 perusahaan milik negara pada 2016 sebesar Rp172 triliun, tumbuh 14,67 persen dibandingkan laba bersih 2015 sebesar Rp150 triliun.



"Target laba 2016 diharapkan tercapai sejalan dengan membaiknya kinerja keuangan perusahaan. Kita harus bisa memenuhinya," kata Menteri BUMN Rini Soemarno, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

Rini menjelaskan, pada tahun 2015 laba bersih BUMN sempat mengalami penurunan dibanding tahun 2014 yang dipengaruhi merosotnya pendapatan.

"Kondisi perekonomian tahun 2015 menyebabkan pendapatan hanya mencapai Rp1.728 triliun, turun dari pendapatan tahun 2014 sebesar Rp1.923 triliun," ujarnya.

Meski begitu, pendapatan tahun 2016 diproyeksikan mampu menembus Rp1.969 triliun, dengan total EBITDA (laba bersih sebelum pajak) sebesar Rp377 triliun melonjak dari EBITDA 2015 sebesar Rp319 triliun.

"Bagi BUMN, rasio EBITDA penting karena menjadi gambaran perusahaan melakukan investasi untuk dapat mengembangkan usaha dalam jangka panjang," tegasnya.

Sesuai dengan tugasnya, bagaimana mendorong BUMN bukan hanya mengejar keuntungan tetapi juga sebagai agen pembangunan.

Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Wahyu Kuncoro mengatakan sektor perbankan akan menjadi salah satu pemicu kenaikan total laba BUMN pada 2016 yang diperkirakan tumbuh 5-10 persen.

"Banknya BRI, Bank Mandiri, dan BNI dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya 5-10 persen," ujar Wahyu.

Sebanyak 10 BUMN yang memberikan kontribusi laba terbesar pada 2015 dan diharapkan juga berlanjut pada 2016 yaitu Pertamina, PLN, Telkom, BRI, Bank Mandiri, BNI, Pupuk Indonesia, Taspen, Semen Indonesia dan PGN.

Selama tahun 2016, total aset 118 BUMN ditargetkan Rp6.240 triliun, meningkat 40,27 persen dibanding tahun 2015 sebesar Rp4.577 triliun.

Peningkatan aset BUMN terutama didorong revaluasi aset yang dilakukan oleh PT PLN (Persero).

Dalam rangka memanfaatkan Paket Kebijakan Ekonomi V, pada tahun 2015 terdapat 53 BUMN dan 19 anak perusahaan yang melakukan revaluasi aset dengan total aset Rp1.047 trilin menjadi Rp1.355 triliun.

"Pada tahun 2016, akan ada 29 BUMN lagi yang melakukan revaluasi aset, sehingga kontribusi pajak terhadap negara senilai Rp8,6 triliun," kata Rini.

Ke-29 BUMN yang melakukan revaluasi aset yaitu PLN, Pegadian, Sucofinfo, Asuransi Jasa Indonesia, Waskita Karya, Askrindo, Perum Jamkrindo, Reasuransi Indonesia Utama, Dahana, Biro Klasifikasi Indonesia, Rajawali Nusantara Indonesia, Pelindo III, Boma Bisma Indra, Balai Pustaka.

Selanjutnya Barata Indonesia, Dok dan Perkapalan Surabaya, Danareksa, Industri Kapal Indonesia, Perum Perhutani, LEN Industri, ASDP Indonesia Ferry, PP Berdikari, Pindad, Indra Karya, Perum Navigasi, Pertani, INTI, Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia, Yodya Karya.

Pada tahun 2016, seluruh BUMN mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk keperluan investasi sebesar Rp404,8 triliun, naik 51 persen dari capex 2015 sebesar Rp268,3 triliun.

Selama tahun 2016, terdapat 62 proyek strategis yang dikerjakan BUMN yang dijadwalkan "groundbreaking" dengan total nilai sekitar Rp347,22 triliun.

Sedangkan proyek strategis yang akan selesai dan diresmikan tahun 2016 sebanyak 73 proyek dengan total Rp109,65 triliun. (ANT)