Ekonomi Melemah, Indonesia Harus Tetap Berinvestasi

Sabtu, 23 Januari 2016 10:12 WIB
336x ditampilkan Teknologi

Saat ini kondisi pertumbuhan ekonomi dunia tak berkembang dengan pesat dan Rupiah pun dalam tren melemah. Dengan kondisi perekonomian seperti ini, apakah investasi menjadi hal yang menguntungkan untuk dilakukan?

 

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang buruk ataupun baik, investasi menjadi hal yang tetap mungkin untuk dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pilihan jenis investasi yang harus tepat. Untuk bisa menentukan jenis investasi yang tepat, maka yang diperlukan juga tujuan invetasi yang tepat.

 

Perencana Keuangan dari MRE, Mike Rini menyatakan tujuan berinvestasi bukanlah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya melainkan berorientiasi kepada memenuhi kebutuhan keluarga. Kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai investasi yang tepat menjadi, yaitu berorientasi pada keuntungan yang sebesar-besarnya bukan kepada tujuan berinvestasi menjadi suatu

 

“Kondisi masyarakat Indonesia kurang melek finansial, yang dilihat adalah untung sebesar-besarnya, padahal semakin besar untung semakin besar juga risiko yang akan didapat,” jelas Rini kepada Okezone.

 

Jika fokus untuk keluarga, maka tujuan investasi untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Oleh karena itu uang perlu disimpan untuk investasi, seperti sekolah anak, membeli rumah, ataupun menikah.

 

Setelah melihat kebutuhan ini, maka dapat menentukan jenis berinvestasi yang seperti apa. Tidak dapat semabaranagan memmilih. Jangan memilih yang untung setingg-tingginya. Tentukan jangka waktu dan kapan akan digunakannnya.

 

Jika kurang dari satu tahun, Rini meyarankan membuka tabungan atau deposito adalah pilihan yang aman. Namun, jika memiliki pemahaman yang lebih baik lagi mengenai investasi, maka dapat memilih reksadana pasar uang untuk berinvestasi.

 

Sedangkan untuk jangka panjang, seperti pendidikan anak maka membuka tabungan pendidikan anak adalah pilihan yang tepat . Jika untuk pensiun, maka Anda dapat memilih berinvestasi pada reksadana, atau saham.

 

“Kalau untuk pensiun, misal 20 tahun ke depan, bisa pilih reksadana atau saham. Saham bisa dimulai dengan Rp100 ribu saja,” sarannya.


(okz)