Lebih Dekat dengan Penemu Teknologi 4G LTE

Kamis, 24 Maret 2016 19:44 WIB
627x ditampilkan Profil


  

Cerita yang beredar tentang ia begitu menginspirasi. Dimulai dari tahun 2005 lalu, ketika ia diremehkan atas proposal penelitian yang ia ajukan untuk membuktikan teorinya saat diikutkan dalam ‘International Conference’, diragukan oleh Chairman; bahwa “teknik double FFT” tersebut ‘useless’ (tidak bisa digunakan). Padahal, gagasan untuk menggunakan ‘double FFT’ itu justru demi ‘membangunkan’ kebanyakan ilmuwan bidang transmisi yang merasa cukup dengan keyakinan bahwa transmisi OFDM (wifi) yang hanya memakai satu ‘FFT’ itu sudah luar biasa.

Komentar yang sama didapat saat kunjungan “visiting researcher” di Australia, bahwa teknik ‘double FFT’ ini tidak ada gunanya karena teknik lain seperti “bit loading” menjadi tidak bisa diaplikasikan. Namun, selanjutnya, ia “nekat” mempertahankan gagasannya dan mematenkan temuannya itu. Saat mematenkan, sensei (Guru atau Profesor, red)-nya memberikannya semangat- “paten yang bagus adalah karya yang sederhana tapi hasilnya luar biasa dan tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya.”

Dan, dengan bekal paten yang dianggap ‘useless’ serta semangat pantang menyerah yang terus menerus dipupuk tersebut, ia membawa karyanya ke Amerika dalam sebuah bentuk simposium tentang teknologi elektronik yang mana ia mewakili Benua Asia.

Dan, dari sana ia mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari publik dunia yang sedang berkumpul di California, Amerika. Di Negeri Paman Sam, publik menyambutnya dan memberikan panggung untuk membuktikan seluruh mimpinya tersebut

Warga Indonesia tersebut adalah Khoirul Anwar. Lebih tepatnya Doktor Khoirul Anwar. Doktor dan peneliti muda dari Indonesia yang pernah aktif di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), kemudian di JAIST yang mengkonsentrasikan diri dalam bidang penelitian transmitter yang menemukan teknik transmisi dan teknologi Fourth Generation Long Term Evolution (4G LTE).

Teknik ini diadopsi menjadi standar internasional oleh The International Telecommunication Union (ITU-T) dengan nomor ITU-R S.1878 dan ITU-R S.2173 pada awal 2010 lalu. Keputusan untuk menjadikan teknik yang ditemukan Khoirul ini dikeluarkan, setelah ia berhasil menjawab seluruh pertanyaan ‘reviewer’ yang datang terus menerus sejak dipatenkan tahun 2005 silam. Bahkan, dengan berbagai pertanyaan tersebut, Khoirul akhirnya harus menurunkan rumus baru dan bukti baru kepada para ‘reviewer’ paten

DR Khoirul Anwar pantas berbangga. Karena karyanya mendunia. Dipakai oleh hampir seluruh manusia di muka Bumi yang menggunakan teknologi komunikasi pintar terbaru. Dan, DR. Khoirul Anwar pantas dibanggakan dan mendapatkan tempat terhormat di Tanah Air.

Karena berkat jasanya, Indonesia mampu menegakkan ‘wajah’ prestasi di tingkat internasional. Seolah-olah dunia internasional berkata, bahwa bangsa Indonesia mempunyai putra-putri yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang setara dengan bangsa-bangsa penemu lainnya di dunia. Selain itu, juga mampu berkontribusi bagi peradaban manusia di seluruh dunia.

Sementara itu, pengakuan dunia datang silih berganti. Mulai dari penghargaan ‘Travel Grant Award’, ‘Computer and Communications Conference Conference Award’ dari Massachusets Institute of Technology (MIT), tahun 2004, disusul penghargaan ‘The Best Student Paper’ oleh Institute of Electrical and Electronic Engineering (IEEE) di bidang Radio and Wireless Symposium 2006 (RWS2006) di California, pada Januari 2006.

Setahun kemudian, datang penghargaan yang lain, berupa ‘Best Paper’ untuk kategori ‘Young Scientist’ di tengah acara ‘Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference’ (IEEE VTC) 2010-‘Spring’ yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan. Selain itu, predikat terbaru yang datang dari Indonesia berupa Penghargaan ‘Achmad Bakrie XII’ pada tahun 2014 yang lalu

Keberhasilan dan kebanggaan DR. Khoirul Anwar tentu juga telah mengalirkan kebanggaan tersendiri bagi aktivis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan para Alumninya. Karena Khoirul Anwar memang aktivis KAMMI yang tulen. Pada saat ia mengambil jenjang S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) itulah Khoirul Anwar mengenal KAMMI dan terlibat di dalamnya.

Khoirul muda merupakan aktivis KAMMI Komisariat ITB. Kemudian, saat mengambil studi Master dan Doktor di Jepang, Khoirul diberi amanah untuk menjadi Ketua KAMMI Perwakilan Jepang. Istri Khoirul, Teh Sri Yayu Indriyani -sesama Alumni ITB- juga aktivis KAMMI. Saat masih kuliah di ITB, Teh Yayu pernah menjadi Staf Pengurus KAMMI Daerah Bandung Bidang Pengembangan Organisasi

Selain terfokus untuk Khoirul, masyarakat juga pantas menyematkan kebanggaan pada beberapa senior KAMMI. Ada yang berkontribusi lewat dunia cendekiawan dan mengembangkan bidang ekonomi syariah dan hukum tata negara. Ada juga yang menggeluti dunia politik dan memberikan sumbangsih besar tentang posisi kelembagaan Legislatif dalam penyelenggaraan negara. Semua mantan aktivis KAMMI itu, dalam usia yang masih muda -sekira 40 tahunan- telah ikut berkontribusi bagi Indonesia dan dunia

Namun ada yang unik. Sebagian Alumni KAMMI yang ‘expert’ dalam sebuah ilmu dan terlibat secara tematik dalam bidang tertentu, justru tidak banyak berbicara dalam ruang diskusi media sosial. Apalagi di ruang publik. Mereka hanya sesekali berkomentar tentang sesuatu. Itu pun tidak sering, berdasarkan pada tema yang bertalian dengan bidang yang digeluti. Seolah-olah mereka ingin mengajarkan untuk “sepi-ing pamrih, rame ing gawe”; senantiasa mempersembahkan karya terbaik, tanpa pamrih dan keinginan terselubung. (Sumber: Bambang Prayitno dan Eka Suwarna, anggota dan pengurus Keluarga Alumni KAMMI)