Pemuda PUI Siap Bangun Artefak Peradaban

Selasa, 5 April 2016 16:53 WIB
281x ditampilkan Nasional

Indonesia secara khusus bangga telah melahirkan tokoh-tokoh kemerdekaan. Mereka berjuang untuk kemerdekaan dengan ragam strategi. Mulai dari secara langsung bergerilya, hingga membangun SDM unggulan bangsa melalui pesantren dan madrasah atau sekolah.

 Dalam naungan organisasi kemasyarakatan seperti PUI, KH. Abdoel Halim (PUI), KH. Ahmad Sanusi (PUII) sebagai pahlawan bangsa ini menghabiskan waktu, tenaga dan fikirannya untuk kemerdekaan serta kemajuan Indonesia. Mulai dari jaman pergolakan pra dan pasca kemerdekaan. Artefak kemerdekaan, kemudian mereka konkritkan dalam  fusi PUI. Tepatnya 5 april 1952 yang bertepatan dengan 9 Rajab 1971 H, PUI dan PUII berfusi di Bogor.

Dalam peringatan fusi PUI ini, Ketua Umum PP Pemuda PUI, Raizal Arifin mengatakan “Fusi PUI adalah refleksi keummatan serta kebangsaan kita untuk selalu bersinergi dan bersatu. Tidak ada lagi dikotomi, mana yang lahir awal dan belakangan. Semua umat Islam terutama yang tergabung afiliasi ormas, semua memiliki peran dan berjuang untuk Indonesia. Tokoh-tokoh Islam sangat banyak kontribusinya terhadap negara ini (Indonesia). Satu dengan yang lainnya saling bahu membahu,” saat dihubungi di Jakarta, 5/4/2016.

Dalam pandangan Pemuda PUI, ajaran Islam telah melekat dalam tubuh NKRI. Khazanah intelektual Indonesia maupun dunia banyak yang lahir dari ide dan gagasan ulama Indonesia. “Oleh sebab itu, Islam harus dan akan selalu menjadi jalan baru terhadap solusi kebangsaan. Kita sebagai umat Islam dan warga negara dalam NKRI harus membangun artefak-artefak peradaban. Islam harus hadir dalam sendi-sendi kehidupan, baik budaya, sosial, politik dan hukum.”

 

Sekretaris Jenderal Pemuda PUI, Kana Kurniawan menimpali bahwa “Artefak itu akan mengakar dan kokoh karena ditopang oleh jiwa persatuan global. Umat Islam harus ada yang masuk dan menjadi penggerak dalam lintas bidang strategis.”