Otoriter Bukan Solusi Bagi Masa Depan Anak

Senin, 11 April 2016 15:07 WIB
387x ditampilkan Opini

Di zaman yang dikatakan merdeka ini, masih ada anak-anak yang merasa belum merdeka hidupnya. Salah satu contohnya adalah masih ada orangtua yang mendikte atau mengatur kehidupan anaknya. Memang itu bukan masalah, justru banyak yang akan setuju bila orangtua berhak mengatur hidup anaknya. Seperti mengatur kedisiplinan anaknya dalam waktu bangun tidur, waktu belajar, waktu makan, dan sebagainya. Tetapi yang menjadi masalah menurut saya adalah apabila orangtua membatasi atau melarang suatu kegiatan yang disukai anaknya, orangtua yang terlalu mengatur pilihan hidup anaknya. Anak menjadi tidak merasa bebas, malah seperti dikurung dalam lingkup aturan orangtua.

Pola asuh orangtua, pada dasarnya ada 3 macam, yaitu pola asuh demokratis, otoriter dan permisif. Edwards, menyatakan bahwa “Pola asuh merupakan interaksi anak dan orang tua mendidik, membimbing, dan mendisplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat”.

Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu dalam mengendalikan mereka. Orang tua dengan perilaku ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. orang tua tipe ini  juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. (Ira Petranto, 2005).

Menurut Edwards (2006), pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku, diktator dan memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak alasan. Dalam pola asuh ini biasa ditemukan penerapan hukuman fisik dan aturan-aturan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan di balik aturan tersebut. Orang tua cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya bersamaan dengan ancaman-ancaman.

Orang tua yang otoriter adalah sikap orang tua yang suka menghukum secara fisik, bersikap mengomando (mengharuskan atau memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi), bersikap kaku (keras) dan cenderung emosional dan bersikap menolak. Orang tua yang sewenang-wenang terhadap anak, tidak akan memberi peluang kepada anak, seolah-olah semuanya sudah diatur oleh orang tua. Hal demikian akan lebih menimbulkan banyak kebencian pada diri anak. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah dan menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. (Ira Petranto, 2005).

Dalam hal ini tidak mengenal kompromi. Anak suka atau tidak suka, mau atau tidak mau harus memenuhi target yang ditetapkan orang tua. Anak adalah obyek yang harus dibentuk orang tua yang merasa lebih tahu mana yang terbaik untuk anak-anaknya. (Debri, 2008).

Sedangkan pola asuh permisif memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur / memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka, sehingga seringkali disukai oleh anak. (Ira Petranto, 2005).

Dengan pola asuh tersebut, maka anak akan jauh dari pengawasan orang tua. Bisa saja bila anak ini melakukan kesalahan namun orang tua tidak peduli dan akan membuat anak akan melakukan kesalahan itu lagi dan lagi karena tidak merasa bersalah.

Karakteristik anak dalam kaitannya dengan pola asuh orang tua, apabila pola asuh demokratis, akan menghasikan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress,  mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap orang-orang lain. Sementara, pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri. Sedangkan, pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial (Rina M. Taufik, 2006).

Syarat paling utama pola asuh yang efektif adalah landasan cinta dan kasih sayang. Pola Asuh harus dinamis, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Pola asuh harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak, karena kebutuhan dan kemampuan anak  yang berbeda. Pola asuh disertai perilaku positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Komunikasi efektif, dengan menjadi pendengar yang baik dan jangan meremehkan pendapat anak. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah. (Theresia S. Indira, 2008).

Dampak pengasuhan otoriter pada anak adalah anak gagal mengakui individualitas mereka. Akhirnya menderita rendah harga diri karena menganggap dirinya tidak berperan penting dan tidak cukup valid menentukan keberadaan mereka di tengah masyarakat. Kemudian orangtua otoriter selalu mengambil keputusan sepihak tanpa kompromi, anak pun akan gagal mengakui keinginan karena naluri mereka selalu dikendalikan. Mereka juga tidak percaya akan kemampuan diri mengambil keputusan penting. Karena cenderung dibatasi individualitasnya, anak-anak akan selalu mengikuti perintah orangtua tanpa keraguan. Mereka tidak berani bereksperimen dalam menangani situasi. Bahkan tidak mampu berhadapan dengan situasi stres dan tidak bisa mengekspresikan diri. Kemudian menjadi pendiam dan menutup diri. Banyak kasus anak menjadi depresi karena mereka tidak mendapatkan perhatian yang layak untuk didengar dan dilihat sebagai individu Dampaknya membuat anak mudah tertekan karena menerima beban untuk mengikuti semua keinginan orangtua. Dengan sikap orangtua yang tidak menanggapi ataupun menghargai pendapat anak, maka dapat membuat anak yang hidup tanpa kepercayaan diri.

Sebaiknya, orang tua tidak terlalu mengekang, lebih baik bila memberikan kasih sayang agar anak merasa dicintai. Orang tua harus mengetahui apa yang disukai atau yang tidak disukai anaknya. Bila orang tua memaksakan anak untuk melakukan hal yang tidak disukainya, maka anak tersebut tidak akan merasa nyaman dengan yang ia lakukan. Dengan terpaksa mengikuti kemauan orang tua, anak akan merasa terbebani. Izinkan ia memilih hal yang ia sukai namun tetap mengawasi agar anak tidak terpengaruh pada hal-hal yang negatif atas pilihannya itu sendiri. Bila yang disukainya memang bukan sesuatu yang baik, maka nasehatilah jangan memarahi atau memaksakan kehendak, jelaskan pada anak bagaimana seharusnya dan apa sebaiknya yang harus ia pilih.

Jika anak tersebut memiliki prestasi maka hendaklah orang tua memberikan pujian yang sewajarnya agar anak mengetahui kelebihannya sehingga membuatnya merasa percaya diri. Jangan memuji anak terlalu berlebihan, karena akan membuatnya menjadi besar kepala atau sombong. Jangan menuntut anak dengan harapan-harapan yang terlalu tinggi, karena akan membuatnya sedih bila apa yang dicapainya tidak setinggi harapan orang tuanya. Hargailah kerja kerasnya, walaupun belum sesuai keinginan orang tua. Tetaplah mendukung apa pun pilihannya asal positif.

Pada dasarnya semua orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan hampir setiap orang tua mengharapkan anaknya menjadi anak yang sesuai dengan harapan orangtua, taat dan patuh pada nilai-nilai yang berlaku dan menjadi orang yang bermanfaat. Namun, hal yang dianggap terbaik oleh orangtua belum tentu menjadi yang terbaik bagi anak-anak mereka karena hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Sehingga menurut Hurlock (1993), semakin otoriter pendidikan anak, semakin mendendam anak itu dan tidak patuh secara sengaja.