Orangtua Putra Penderita Tumor Ini Cemas

Rabu, 11 Mei 2016 09:06 WIB
365x ditampilkan Pekanbaru

Harapan Baharuddin, putranya yang menderita tumor otak segera dioperasi pihak RSUD Arifin Achmad berubah jadi kecemasan. Tim dokter menyebut tindakan baru dilakukan setelah bayi berbobot 5 kilogram.

PASIRPANGARAIAN (RIAU) - Sejak dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Sabtu (7/5/16) malam, dan baru tiba di Kota Pekanbaru, Ahad (8/5/16) dini hari sekira pukul 01.00 WIB, Muhammad Ihya, bayi penderita tumor otak basah asal Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) belum juga dioperasi.

 

Sudah sepuluh hari M. Ihya, bayi malang asal Desa Sikebau Jaya, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rohul ini bertahan Hidup dengan kelainan di atas mata bagian kanannya.

 

Saat dirawat di ruang inkubator, Dokter RSUD Pasirpangaraian mengindikasi sementara, bahwa daging tumbuh di bagian dahi M. Ihya merupakan tumor otak basah, hingga membuat berat badannya terus menurun.

 

Badruddin (33), ayah dari bayi M. Ihya merasa was-was dengan kondisi anak keduanya tersebut. Rasa khawatir ini bukan tanpa sebab, pasalnya hingga saat ini perawatan terhadap anaknya belum secara maksimal.

 

Suami dari Yuli (22) ini merasa terkejut saat Dokter bedah syaraf RSUD Arifin Achmad mulai menangani anaknya mengatakan bahwa M. Ihya baru bisa dioperasi saat berat badannya naik menjadi 5 kg, atau berumur 10 minggu.

 

"Dokter memberitahu saya, bahwa anak saya baru bisa dioperasi ketika berat badannya naik 5 kg, sedangkan setiap hari berat badannya terus berkurang. Saya sekarang bingung, bagaimana cara menaikkan agar bisa jadi 5 kg," ujar Badruddin dengan nada sedih, Selasa (10/5/16).

 

Pria berprofesi sebagai petani ini merasa dokter bedah syaraf yang menangani anaknya belum menangani dengan maksimal hingga timbul pertanyaan di benaknya. Padahal, sebelumnya Dokter RSUD Pasirpangaraian mengatakan ke dirinya, bahwa penyakit diderita anaknya sangat serius dan harus segera dioperasi.

 

"Saya jadi bingung sekarang. Dokter di Pasirpangaraian bilang ‎anak saya harus segera di operasi jangan sampai lewat dua minggu. Tapi dokter di Pekanbaru bilang anak saya bisa dioperasi kalau beratnya sudah berat 5 kg, dan berumur 10 minggu. Jadi siapa yang benar ini," tanyanya.

 

Badruddin mengakui makin hari berat badan bayinya bukan makin naik, namin semakin menurun saja. Padahal ketika pertama kali lahi, berat badannya 3 Kg. Dan dua hari dirawat di RSUD Pasirpangaraian, berat badannya turun menjadi 2,5 kg.

 

Ayah dua anak ini mengungkapkan salah satu dokter bedah syaraf RSUD Arifin Achmad Pekanbaru yang menangani anaknya mengatakan ke dirinya jika sudah berangsur membaik, putranya bisa dibawa pulang. Sebab dokter baru bisa melakukan operasi saat M. Ihya berusia 10 minggu, dan berat badannya naik menjadi 5 kg.

 

Mendengar saran dokter ahli syaraf RSUD Arifin Achmad, Badruddin mengakui hanya bisa pasrah melihat kondisi putra tersebut. Ia khawatir, saran dokter itu menandakan bahwa mereka tak sanggup menangani penyakit anaknya, apalagi kondisinya terus menurun.

 

M. Ihya dilahirkan pada Ahad (1/5/16) malam lalu. Karena ada kelainan di atas mata kanannya, ia langsung dirujuk ke RSUD Pasirpangaraian. Selama dirawat di ruang inkubator, pihak rumah sakit milik Pemkab Rohul ini juga tak bisa berbuat apa-apa karena peralatan operasi terbatas.

 

Bermodalkan kartu Jamkesda diurus Badruddin dari Dinas Kesehatan Rohul dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rohul, akhirnya pihak RSUD Pasirpangaraian mendaftarkan M. Ihya melalui online untuk segera dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, dan segera mendapatkan penanganan secepatnya.

 

Namun, harapan Badruddin agar anaknya segera mendapatkan penanganan secepatnya seperti kandas, menyusul dokter ahli syaraf mengatakan anaknya baru bisa dioperasi di usia 10 minggu, dan berat badan minimal 5 kg.

 

Badruddin mengharapkan Bupati Rohul Suparman dan anggota DPRD Rohul ikut mengawal anaknya, bagaimana agar sembuh dari penyakitnya. Ia sangat menginginkan anak keduanya ini hidup normal seperti anak-anak lain.***(riauterkini/zal)