BRI(sat) Tetap Dengan Rakyat

Senin, 27 Juni 2016 11:25 WIB
680x ditampilkan Opini

Selain pemberitaan seputar suhu politik yang tetap memanas di Jakarta, Piala Eropa 2016, pemilihan Kapolri baru serta kembali mengerasnya persoalan Sumber Waras yang melibatkan perbedaan pendapat antara BPK dan KPK, dalam beberapa hari terakhir ini, ruang publik di republik ini juga dihangatkan oleh pemberitaan seputar peluncuran Bank Rakyat Indonesia Satelit (BRIsat).

 

Pemberitaan tentang BRIsat ini dapat dilihat sebagai kabar yang menggembirakan karena menonjolkan prestasi bagi Indonesia, di tengah maraknya pemberitaan yang berbau kegaduhan.

BRIsat memang sangat fenomenal karena dengan pencapaiannya ini, BRI resmi menjadi bank pertama di dunia yang memiliki dan mengoperasikan satelit sendiri. Sebagaimana yang diakui oleh Direktur Utama PT BRI Tbk, Asmawi Syam, bahwa peluncuran BRIsat mengawali era baru industri perbankan, khususnya era industri perbankan digital.

BRIsat resmi meluncur ke orbit pada Minggu pagi pukul 04.39 WIB, atau Sabtu (18/6) pukul 17.30 WIB waktu Kourou, French Guyana, Amerika Selatan, yang akan mengorbit di atas Pulau Papua. Orbit tujuannya adalah Geostationary dengan titik koordinat 150.5 derajat Lintang Timur. Satelit ini memiliki 45 transponder di mana sebagian dari transponder akan secara khusus dialokasikan bagi kepentingan negara Indonesia. Satelit BRIsat akan menjangkau wilayah Indonesia, ASEAN, Asia Timur termasuk sebagian China, Laut Pasifik termasuk Hawaii dan Australia Barat (Medan Bisnis, 20/6).

Demi Kemajuan Bangsa

Indonesia tentu layak berbangga dengan pencapaian yang telah dilakukan oleh bank miliknya ini. Selain kebanggaan atas kepeloporannya dalam industri perbankan digital dunia, kehadiran BRIsat ini dinilai akan memberikan dampak yang progresif bagi kemajuan bangsa, utamanya dibidang ekonomi-perbankan.

Menurut ekonom Universitas Gadjah Mada, A Tony Prasetiantono, bagi perekonomian nasional, BRIsat akan membantu mendorong financial inclusion, sehingga semakin banyak warga di pelosok yang menikmati layanan perbankan, termasuk melalui konsep bank tanpa kantor (branchless banking). Bahkan, dalam rangka menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN di sektor perbankan mulai 2020, BRI bisa berada di depan dalam menghadang serbuan bank asing untuk mengambil ceruk nasabah, khususnya dalam ranah pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, menurut ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, meskipun investasinya cukup mahal, yakni mencapai Rp 3 triliun, BRIsat diyakini bisa menghemat biaya sewa satelit BRI yang selama ini mencapai Rp 500 miliar dalam sebulan. Dengan usia pakai satelit yang bisa mencapai 17,5 tahun, dipastikan akan ada penghematan biaya operasional, yang artinya juga bisa menekan biaya bunga (Suara Pembaruan, 20/6).

Dalam hal ini, secara garis besar, setidaknya kita bisa melihat tiga dampak positif dari adanya BRIsat ini. Pertama, dengan inovasi, keberanian dan kepeloporannya, secara psikologis BRIsat dapat mengangkat kebanggaan bangsa Indonesia pada umumya, dan secara khusus industri perbankan tanah air. Kedua, bagi BRI sendiri, satelit miliknya ini jelas dapat mengangkat nama bank yang dinilai paling “merakyat” di negeri ini. Dalam era perekonomian yang serba mengedepankan investasi dan membutuhkan kepercayaan publik seperti saat ini, keberanian dan kepeloporan dari BRI ini tentu sangat bernilai ekonomis dan strategis.

Ketiga, terkait dengan apa yang disampaikan oleh dua ekonom dari dua universitas ternama Indonesia di atas, bahwa BRIsat akan dapat membawa dampak positif bagi iklim perbankan, termasuk juga bagi investasi dan perekonomian bangsa. BRIsat juga dapat mendorong optimalisasi akses layanan yang merata bagi semua rakyat dan daerah di pelosok negeri. Capaian dari BRI ini juga dapat memicu semakin hangatnya iklim persaingan usaha perbankan yang sehat, yang semakin mematangkan kualitas, serta mengarah pada upaya meraih prestasi dan memberikan kontribusi bagi negeri.

Tetap Demi Rakyat

Pada titik ini juga harus diingat bahwa di balik prestasi dan pujian sebesar apa pun, kita harus lah tetap mempersiapkan diri dalam menghadapi segala kemungkinan yang terburuk sekali pun. Artinya, BRI perlu mengantisipasi berbagai hal yang dapat mengurangi optimalisasi kinerja satelitnya, khususnya yang terkait dengan penguasaan teknologi dan perawatan berbagai fasilitas yang menunjang kinerja satelit kebanggaanya tersebut.

Hal penting lain ialah tentang sosialisasi berbagai kemudahan dan keuntungan yang bisa dirasakan oleh nasabah BRI lewat BRIsat ini, khususnya terhadap nasabah BRI yang “menengah ke bawah”, yang tentunya harus diberikan pengetahuan lebih terkait dengan era kemajuan (teknologi) perbankan yang bisa mempermudah pemenuhan kebutuhan mereka, dan dapat diakses oleh siapa pun juga.

Akhir kata, selamat untuk BRI. Dan secara pribadi, penulis berharap semoga berbagai prestasi dan kemajuan yang diraih oleh BRI saat ini, tidak mengubah karaktek BRI sebagai “bank rakyat”, BRI yang ada dan bisa merasakan denyut nadi perkonomian rakyat, bahkan yang terkecil dan terpelosok sekali pun. Karena sejatinya, prestasi tertinggi bagi sektor perbankan yang ada di Indonesia ini (khususnya BRI) ialah jika dapat terus berkontribusi dalam mengembangkan perekonomian rakyat dalam rangka mensejahterakan dan memajukan bangsa! bukan prestasi-prestasi semu di tengah era kapitalisme dan liberalisme ekonomi seperti saat ini, yang biasanya hanya ditujukan demi kepentingan (keuntungan) perusahaannya sendiri saja.

Wallahu’alam bish shawab.