Mafia Pasar Masih Ada di Kepri

Gilang Jumat, 24 Februari 2017 20:34 WIB
200x ditampilkan Kepri Terkini Tanjungpinang

TANJUNGPINANG - Direktur Badan Usaha Milik Daerah Kota Tanjungpinang Nana Suryana menyatakan, penangkapan terhadap SL oleh Tim Sapu Bersih Polda Kepulauan Riau membuktikan bahwa mafia pasar masih ada di ibu kota Kepri.

Pelaku bukan hanya berasal dari internal BUMD, melainkan juga oknum yang menyewakan meja lapak di kawasan Bintan Centre untuk berdagang, kata Asep Nana Suryana, di Tanjungpinang, Kamis.

"Jual beli meja lapak secara tidak resmi ini sudah terjadi lama. Karena itu, BUMD Tanjungpinang selalu mengalami kerugian. Ini yang mau kami tertibkan," katanya.  

Asep mencontohkan seseorang menyewa lapak dari BUMD Tanjungpinang hanya membayar uang penempatan sebesar Rp5 juta, kemudian orang itu menyewakan empat meja di lapak tersebut.

Sementara penyewa satu meja untuk berdagang membayar Rp6 juta/tahun kepada orang yang membayar uang penempatan. Padahal pihak yang membayar retribusi hanya satu yakni penyewa lapak.  

"BUMD Tanjungpinang hanya berurusan dengan orang yang membayar uang penempatan lapak. Orang ini mendapat keuntungan yang besar dari sewa meja," katanya.

Selain permasalahan itu, kata dia uang penempatan lapak juga diterapkan oknum-oknum tertentu bervariasi. Biaya resmi dari BUMD Tanjungpinang hanya Rp5 juta, namun dalam praktiknya bisa mencapai Rp10 juta.

Sewa-menyewa lapak tanpa sepengetahuan BUMD Tanjungpinang juga sering terjadi. Contohnya, orang yang membayar uang penempatan kepada BUMD Tanjungpinang menyewakan lapak atau meja-meja di lapaknya kepada orang lain. (ANT)