ILO Promote Sulsel Himbau Pekerja Anak Terus Lanjutkan Pendidikan

Adhie Rabu, 17 Mei 2017 20:44 WIB
109x ditampilkan Nasional Pendidikan Headline

BONE, -- Koordinator Provinsi Sulsel ILO Promote, Rasyidi Bakry diundang oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Selatan (UPT Bone, Watampone) sebagai narasumber dalam rangkaian kegiatan Program Pengurangan Pekerja Anak Dalam Rangka Mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) Tahun 2017.

Kegiatan berlangsung di Kota Watampone dan Sinjai pada tanggal 16 – 17 Mei 2017.  Di Watampone kegiatan diikuti oleh sekitar 180 orang pekerja anak bertempat di  Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Loka Latih Kerja Usaha Kecil Menengah (LLK-UKM) Kab Bone. Di Sinjai, bertempat di Wisma Hawai, kegiatan serupa diikuti oleh sekitar 120 pekerja anak.

Dalam presentasinya, lebih awal Rasyidi menjelaskan tentang perbedaan defenisi “pekerja anak” yang bekerja layaknya seperti orang dewasa dan “anak yang bekerja” atau anak melakukan pekerjaan karena membantu orangtua dan merupakan bagian dari proses belajar. Selanjutnya, dijelaskan tentang bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak, dimana bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) termasuk di dalamnya.

Setelah diberikan pengantar, peserta kemudian diminta untuk menceritakan pengalamannya sebagai pekerja anak dan apa yang menyebabkan mereka terpaksa harus bekerja. Dari sesi ini, diketahui ada banyak cerita pilu yang dialami oleh mereka. Ita (bukan nama sebenarnya) yang baru berumur 15 tahun bekerja di tempat foto copy dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Ironisnya dia hanya diupah sebanyak 500 ribu rupiah per bulan. 

Lina (juga bukan nama sebenarnya) salah seorang pekerja anak di SInjai, ditarik dari salah satu pabrik roti di Makassar. Masih berusia 15 tahun, Lina terpaksa putus sekolah dan bekerja layaknya orang dewasa. Menurutnya dia tidak ada pilihan lain, karena harus membantu orang tua dan empat orang adik-adiknya yang masih kecil.

Selain masalah ekonomi, beberapa anak juga mengemukakan alasan tidak lagi melanjutkan sekolah karena sudah merasa nyaman bisa mencari uang sendiri. Namun ada juga yang karena diminta untuk membantu orang tua yang bekerja sebagai nelayan atau tukang bangunan.

Menanggapi cerita dari peserta, Rasyidi kemudian menjelaskan bahwa, saat ini hampir tidak ada alasan bagi anak untuk tidak lagi melanjutkan pendidikan apalagi dengan alasan ekonomi. Karena pemerintah telah menyediakan berbagai program untuk memastikan setiap anak bisa mendapatkan haknya atas pendidikan. Untuk itu diharapkan setelah kegiatan, semua anak bisa kembali bersekolah atau mengikuti program pendidikan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang relevan dengan kebutuhan mereka. (*)