Aksi Tanggap Sugeng, Begini Ceritanya dengan Kebakaran di Kampung Cina

Rahayu Ningsih Rabu, 29 November 2017 19:31 WIB
836x ditampilkan Lingga

LINGGA - Harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.” begitu kata Mahatma Gandhi (1869-1948), Pemimpin Besar India. Jika dilanjutkan kata itu tepat menyandang pada diri seorang Sugeng Pamungkas dia lebih memilih kehilangan harta dibandingkan kematian orang disekelilingnya.

Apakah dia seorang superhero yang bisa terbang? Bukan. Dia hanya seorang pemuda yang dikenal aktif di masyarakat sekitar kampung Cina, Daik Lingga. Dia pemuda heroik yang rela mempertaruhkan segala harta benda milik dia dan keluarga demi menyelamatkan nyawa orang dari kebakaran dahsyat di Kampung Cina, Selasa (28/11) malam kemarin.

"Tiba-tiba ada teriakan Kebakaran. Kami datang api muncul dibelakang penginapan Pak Tani. Saat itu saya langsung respon langsung membangunkan semua orang-orang yang rumahnya dekat," papar dia, Rabu (29/11) saat ditemui jumpai tengah mengais puing-puing bekas bangunan rumah milik keluarganya.

Sepintas kata dia sempat berpikir dengan rumah. Karena awalnya api hanya merambah disebelah pertokoan dia tidak menghiraukan. Namun dengan begitu cepat api mulai menyambar satu kabel listrik dan merambat kesebalah pertokoan yang disitu merupakan deretan rumahnya.

"Langsung saja kami meloncat dari tempat duduk dan berlari turut mengambil air untuk memadamkan api. Tapi api tampak semakin besar, tak bisa kami padamkan," cerita dia

Melihat api semakin ganas, tidak berpikir panjang, yang dia ingat hanya orang tua dan kerabat. Mulai lagi dia berusaha menggedor rumah tetangganya satu persatu hingga pemilik bangunan dan bersiap-siap lari. Dia tidak lagi menghiraukan harta benda miliknya, kecuali orang tua dan adiknya.

Padahal jika dilihat kondisi api, Sugeng masih sempat bila harus mengemas barang-barang miliknya. Namun hal tersebut tidak dia lakukan. Dia berusaha keras menyelamatkan nyawa orang-orang yang kerap tiap hari dia lihat.

"Dengan susah payah kami menggedor pintu pintu ruko yang didiami warga, supaya masyarakat yang di Kampung Cina ini selamat semua, ada yang langsung mendobrak pintu rumah agar keluar dan membawa seperlunya apa yang bisa dibawa," ujar dia.

Lebih lanjut, dia mengakui apa yang dibawa cuma baju selembar dibadan dan beberapa dukumen penting. Satu buah sepeda motor tidak bisa diselamatkan karena harus mengambil keputusan final antara dompet dan sepeda motor.

"Saya pun dengan keluarga hanya dapat menyelamatkan pakaian di badan ini," kata dia.

Ia mengaku, membangunkan warga lebih utama karena tidak ingin ada korban jiwa. Dibalik duka itu, ia pun turut bersyukur karena warga Kampung Cina semuanya selamat dari musibah naas itu.

"Biarlah kita kehilangan harta, yang penting tidak dengan nyawa, kita bisa mencoba membangun lagi," ujar dia menyemangati korban lainnya.

Dalam kebakaran hebat yang terjadi sekira pukul 00.30 tersebut. Telah menghabiskan 59 bangunan terdiri dari 48 toko, 4 tempat tinggal, 5 gudang, 1 poskamling, dan 2 penginapan serta 13 sepeda motor. Tidak ada korban jiwa pada tragedi ini, namun ada 35 KK terdiri dari 123 jiwa yang yang dievakusi. Jika dihitung dari kurugian fisik telah menghabiskan lebih kurang Rp53,5 miliar yakni Rp42 miliar lebih kerugian bangunan dan Rp10 miliar lebih materi.

Bagitupun rumah milik Sugeng, masuk dalam hitungan. Namun dengan raut wajah ceria berbalut duka dia berkata berusaha mengikhlaskan semua harta benda miliknya.

“Saya benar-benar marah pada diri saya sendiri. Saya merasa tidak berdaya. Yang saya pikirkan hanya nyawa orang-orang yang kerap saya lihat setiap hari," ujar dia.

Pasca kejadian itu, banyak yang memujinya karena “Tindakan heroiknya telah menyelamatkan beberapa nyawa.”

Sementara itu, pemadam kebakaran sendiri telah berhasil memadamkan api sekitar pukul 05.30 pagi kemarin. Meski demikian, hingga sekarang, penyebab kebakaran masih belum bisa diketahui.