Larangan Dengar Musik Sambil Berkendara Jadi Polemik Para Pakar

Redaksi Senin, 12 Maret 2018 17:20 WIB
74x ditampilkan Jakarta

JAKARTA, -- Mendengarkan musik sambil mengemudikan kendaraan cara sesorang yang suka kepenatan. Namun jangan coba-coba melakukan hal tersebut. Sebab bisa jadi, pihak kepolisian bakal menjerat pengemudi yang mendengarkan musik sambil mengemudikan kendaraan bermotor.

Dilansir  m.hukumonline. bahwa pihak kepolisian akan siap mengurusi anda bagi pengemudi yang mendengarkan musik saat berkendara karena bentuk pelanggaraan UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Namun tentunya hal ini akan menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Terkininews.com Senin (12/3/2018).

Aparatur Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya yang mengeluarkan pernyataan di media kemarin juga protes keras dan salah urus dilontarkan Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) David Tobing yang menilai rencana pihak kepolisian, mendengarkan musik sambil mengemudikan kendaraan bermotor jika pas UU LLAJ menilai tidak tepat.

Sebab, hal yang dilarang dalam mengemudikan kendaraan sudah dijelaskan secara gamblang dalam Pasal 106 UU LLAJ berikut penjelasannya. terkininews.com

Pasal 106 ayat (1) menyebutkan , "Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi."

Penjelasannya, disebutkan, "Yang dimaksud dengan" penuh konsentrasi "adalah setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan. "

Sementara itu menurut David, hambatan suara Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ itu dapat disimpulkan tidak ada yang masuk dalam kategori perbuatan yang dilarang. Sebab, tidak ada frasa dalam pasal itu yang dimaksud secara spesifik larangan mendengarkan musik saat mengemudikan kendaraan

"Artikel tersebut yang jelas-jelas dilarang adalah menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan," kata David Tobing saat cuaca.

Pria yang dikenal advokat aksara ini tidak sependapat dengan alasan kepolisian yang aktivitas musik saat mengendarai kendaraan bermotor semata. Pilihan, yang tidak digunakan, apa yang digunakan, jumlah responden, jangka waktu, dan wilayah yang disurvei.

Menurutnya, penegak hukum sebagai pelaksana UU seharusnya sesuai peraturan yang berlaku. "Penegak hukum tak harus menafsirkan aturan yang sudah jelas dalam UU. Kontras, dalam arti larangan penggunaan.

Pasal 283
Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan tidak wajar dan melakukan kegiatan atau kejadian oleh suatu keadaan yang suka gangguan dalam mengemudi di jalan induk dalam 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling anyak Rp750 .000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

Terpisah, Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Penegakan Hukum (Gakkum) Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, tafsir pasal-pasal tata cara berlalu lintas dalam UU LLAJ sudah benar. Hal tersebut mesti menjadi pegangan bagi masyarakat saat berkendara dengan selamat.

Dalam ketentuan Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ pengemudi kendaraan bermotor berlaku. Penjelasan konsentrasi, kata Budiyanto, penuh perhatian. Jadi, pengendara tidak boleh melakukan kegiatan lain yang dapat mempengaruhi situasi menurunkan tingkat konsentrasi. "Misalnya capek, lelah, ngantuk, pakai handphone, pesan alkohol, narkotikan dan lain-lain," ujarnya kepada Hukumonline.

Perwirawi kepolisian itu berpendapat, bila pengemudi mengendarai kendaraan bermotor tidak dalam keadaan fokus dan konsentrasi dapat berakibat fatal di jalan. Bahkan dampaknya yang sedang kecelakaan lalu lintas di jalan. Demi menjaga keselamatan dalam berkendaraan, maka pengemudi mesti diwajibkan fokus dan berkonsentrasi.

"Pada saat saya sedang di udara ada yang bertanya, bagaimana dengan yang merokok dan mendengarkan radio? Silahkan masyarakat menilai kegiatan itu, mengganggu konsentrasi atau tidak? "

Ketidakpastian hukum
David merahasiakan peraturan tersebut dalam rangka kepastian hukum bagi semua pihak. Dengan demikian, aparat penegak hukum tidak sembarangan menafsirkan pasal-pasal UU LLAJ. Baginya, larangan mendengarkan musik sambil mengemudikan kendaraan seharusnya memiliki dasar pijakan hukum yang jelas.

"Belum ada penelitian ilmiah yang menjustifikasi bahasa iringan normal pengemudi ketinggalan konsentrasi," tegas pungkas mantan Komisioner Badan Nasional Perpajakan (BPKN) periode 2013-2016 itu.

Karena itu, agar ke depan tidak ada rasa aman dan sehat, maka pihak kepolisian mesti mengklarifikasi larangan mendengarkan musik saat mengemudi kendaraan. Dengan begitu, polisi lalu lintas tidak perlu lagi menafsirkan bunyi Pasal 106 UU LLAJ yang sebenarnya sudah jelas. "Ini agar tidak bisa dimaklumi dan aman."

Sebelumnya, Kasubdin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengeluarkan pernyataan di media perihal kebiasaan mendengarkan radio atau musik dan menghisap asap rokok saat mengemudi kendaraan merupakan bentuk kelulusan. Pasal 156 UU LLAJ yang sontak menuai pernyataan dan reaksi dari beberapa kalangan. (*)

Sumber