Pentingnya K3 dalam Proyek Kontruksi

Agustinus Tommy Rabu, 28 Maret 2018 15:39 WIB
157x ditampilkan Opini

Dalam menyelenggarakan suatu proyek pembangunan, tentu saja banyak hal yang harus dilakukan dan dimatangkan dalam menjalankannya, terlebih harus menyiapkan diri untuk menghadapi masalah yang kompleks dalam penyelesaiannya. Hal ini tentu memerlukan suatu manajemen yang baik sehingga suatu proyek berjalan sesuai dengan rencana.

Pelaksanaan proyek harus diselenggarakan secara menyeluruh mulai dari perencanaan, pembangunan fisik, sampai dengan pemeliharaan yang melibatkan bermacam-macam unsur dan komponen pendukung. Di Indonesia sudah menyelenggarakan berbagai macam pembangunan infrasturuktur karena pembangunan infrastruktur itu merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat proses pembangungan di Indonesia, dan dengan adanya infrastruktur dapatmenopang keberjalanan kegiatan masyarakat sehingga dapat menekan inefisiensi dari aktivitas masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur juga memegang peranan yang penting sebagai salah satu roda penggerak ekonomi di Indonesia.

Namun terselenggaranya suatu proyek pembangunan infrastruktur tak selalu berjalan mulus, begitu banyak kegagalan – kegagalan yang suatu proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia seperti kegagalan konstruksi fisik dari suatu bangunan, tapi kegagalan konstruksi bukan dilihat dari kondisi fisik suatu bangunan namun bisa dilihat dari aspek fungsi dan manfaatnya bagi lingkungan di sekitarnya. Kenyatannya jika dilihat dari aspek fungsi dan manfaat ada jenis produk konstruksi yang secara fisik memenuhi standar perencanaan dan pelaksanaan (layak secara fisik) namun dari aspek fungsi tidak dapat berfungsi seperti yang direncanakan atau keberadaan dari konstruksi tersebut justru mengganngu lingkungan di sekitarnya. Jadi kegagalan konstruksi merupakan bentuk penyimpangan yang timbul akibat ketidaksesuaian terhadap spesifikasi, manfaat, fungsi serta kesepakatan dalam kontrak yang dibuat baik dari pihak pengguna jasa, konsultan maupun pelaksana konstruksi, sehingga mengalami dampak kerugian yang luar biasa baik kerugian secara fisik maupun non fisik, salah satunya “Ambruknya alat berat proyek pembangunan empat jalur kereta atau (double-double track) yang menghubungkan Manggarai dan Jatinegara ambruk, JakartaPusat (04 Februri 2018)” , untuk kesekian kalinya kasus ini terjadi karena kegagalan konstruksi, menurut Kepala Humas Kereta Api Indonesia Edy Kuswoyo menyebutkan kecelakaan terjadi karena launcher girder DDT terjatuhketika empat orang pekerja sedang menaikkan bantal rel dengan menggunakan alat berat jenis crane, ketika bantalan rel sudah berada di atas namun dudukannya tidak pas sehingga bantal rel jatuh menimpa korban yang mengakibatkan keempat korban meninggal dunia dan sejumlahpekerjamengalamiluka – luka.

BBC INDONESIA:"Sudah beberapa kali terjadi, seharusnya belajar banyak ya. Ini bukan cuma kegagalan teknis tapi kegagalan manajemen konstruksi," kata Ronald kepada BBC Indonesia pada Minggu (04/02). Dari hasilwawancaraGuru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH), Manlian Ronald Simanjuntak diatas kepada media BBC INDONESIA menyebutkan faktorpenyebabdarikegagalankonstruksiinibukan hanya kegagalan teknis tapi kegagalan manajemenkonstruksisehinggaalatberatcranetersebutambruk, sertakurangnyapengawasandanperlunyaketelitian yang tinggisaatmelaksanakanpekerjaantersebut. Dari kegagalankonstruksi yang terjadiinitentuakanmemberikandampakkerugiansepertitewasnya 4 orang pekerja Jaenudin (44), Dami Prasetyo (25), Jana Sutisna (44), dan Joni (34). Dami langsung meninggal di tempat karena posisi badan hancur sementara 3 orang lainnya mengalami luka di kepala.

Kiranyakegagalankonstruksiproyekpembangunaninibisadiminimalisirkan, agar kegagalan – kegagalantersebuttidakterusberulang – ulang kali terjadi, karenabanyakpihak –pihak yang dirugikanbaikitu Negara, pekerja, maupunmasyarakatsekitar . Olehkarenaituperlunya pengawasan lebih ketat lagi yang dilakukan oleh KementrianPekerjaanUmundanPerumahan Rakyat (PUPR) yang telahmembentukKomite Keselamatan Konstruksi (KKK) untuk mencegah kegagalan dalam proyek infrastuktur, selain itu selama melakukan pekerjaan proyek tersebut juga harus memperhatikanprosedur proses konstruksi, sertaketikamelakukan pekerjaan proyek perlunya studi kelayakan dan pengecekan alat berat seperti beban yang dapat diangkat oleh crane tersebutlalumelakukansertifikasipekerjadanalat – alat yang akandigunakanketikamenjalankanproyekpembangunaninfrastrukturagar tidak terjadi lagi kegagalan konstruksi di Indonesia ini

*Penulis Mahasiswa FT Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang-Kepulauan Riau