BI Yakin Mubaligh dan Media Dapat Mengedukasi Masyarakat Kendalikan Inflasi

Adhie Sabtu, 12 Mei 2018 17:30 WIB
90x ditampilkan Makassar

MAKASSAR, -- Tekanan inflasi yang cenderung meningkat selama bulan Ramadhan dan Idul fitri antara lain dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi dan ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga, untuk itu melalui Forum Silaturahmi BI bersama alim ulama dalam rangka pengendalian inflasi, bersatu sebagai tindak lanjut dari High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulsel tanggal 7 Mei 2018 yang dipimpin oleh Pjs Gubernur Sulsel.

Bank Indonesia Provinsi Sulsel berkoordinasi dan bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulsel melaksanakan kegiatan Tarhib Ramadhan & Silaturahmi dengan ulama dan mubaligh Sulsel terkait pengendalian inflasi. Sabtu (12/5/2018)  yang dihadiri tidak hanya oleh Ulama dan Mubaligh namun juga media dan Generasi Baru Indonesia (GenBl) Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memperkuat komunikasi ekspektasi dimana Bank Indonesia meyakini mubaligh dan media serta Generasi Muda memiliki peran yang strategis untuk dapat menyampaikan dan mengedukasi kepada masyarakat agar tidak belanja/konsumsi secara berlebihan serta bagi para pedagang/penjual agar menjual dengan harga yang wajar serta tidak menimbun barang dagangan.

Kegiatan Tarhib Ramadhan & Silaturahmi dengan ulama dan muballig Sulsel diawali dengan sambutan dari perwakilan MUI Sulawesi Selatan, Dr. H. Abdul Wahid Hadade, LC., M.Hi dan Direktur Bank Indonesia Sulsel, Dwityapoetra S,yang dilanjutkan dengan penyampaian materi terkait pengendalian inflasi oleh Deputi Direktur Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Aryo Setyoso.

Adapun materi yang terkait konsep pengenalan inflasi dalam perspektif Islam disampaikan Prof Dr H.M Arfin Hamid SH MH selaku Guru besar hukum islam dan ekonomi syariah Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua Bidang Ekonomi MUI.

Dalam sambutannya, Abdul Wahid menganggap forum ini sebagai starting point untuk komunikasi kepada masyarakat agar tidak mubadzir utamanya pada saat Ramadhan dan Idul Fitri.

Dilokasi yang sama Poetra juga menyampaikan bahwa terdapat fokus utama pengendalian inflasi yang akan dilakukan selama bulan suci ramadhan dan idul fitri berdasarkan hasil HLM TPID Provinsi Sulsel, yang dapat disingkat dengan 4K yaitu
(1) ketersediaan Pasokan yang terjaga; (2) keterjangkauan harga
(3) kelancaran distribusi, dan
(4) komunikasi ekspektasi
dimana salah satunya melalui kegiatan ini yaitu Tarhib Ramadhan & Silaturahmi dengan ulama dan mubaligh Sulsel.

Dalam pemaparan materi yang disampaikan Aryo Setyoso menegaskan dampak negatif inflasi yang tinggi dan tidak stabil terhadap penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi, penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat dan peningkatan tingkat kemiskinan sehingga inflasi perlu dijaga bersama dalam level rendah dan stabil. 

Selanjutnya Prof Dr H.M Arfin Hamid SH MH mengingatkan agar dapat berislam secara kaffah melalui penerapan ajaran Islam yang tidak hanya dalam beribadah dengan Allah SWT namun juga dalam hal melaksanakan aktivitas ekonomi seperti kegiatan berdagang dengan menjual harga yang wajar serta masyarakat agar tidak mengkonsumsi secara berlebihan. (*)