Tingkatkan Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Terapkan Tiga Tugas Utama

Adhie Selasa, 5 Juni 2018 15:10 WIB
30x ditampilkan Headline Makassar

MAKASSAR, -- Dalam rangka mencapai dan mewujudkan tujuan utama Bank Indonesia dalam menjaga dan memelihara stabilitas nilai Rupiah, Bank Indonesia melakukan 3 (tiga) bidang tugas utama yaitu

  1. Mewujudkan stabilitas moneter.
  2. Mendorong stabilitas sistem keuangan.
  3. Memelihara stabilitas sistem dalam pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah dan untuk  mendukung kebijakan tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan dan melaksanakan kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah merupakan upaya Bank Indonesia untuk mendukung kebijakan ekonomi dan keuangan syariah nasional yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Kebijakan tersebut bertujuan antara lain untuk mendorong pengendalian harta agar mengalir menuju investasi produktif, distribusi pendapatan yang inklusif untuk peningkatan daya beli golongan masyarakat tertentu, investasi secara optimal dengan cara berbagi hasil dan berbagi risiko, investasi yang produktif dan terkait erat dengan kegiatan sektor riil, serta mendorong partisipasi sosial  untuk kepentingan publik. Yang pada akhirnya, implementasi kebijakan ekonomi dan keuangan syariah nasional tersebut akan mendukung kemandirian dan ketahanan perekonomian nasional.

Direktur Eksecutif BI Prov Sulsel Bambang Kusmiarso Selasa (5/06/2018) mengatakan Bahw ditingkat nasional BI mendukung penuh upaya bersama dalam kerangka koordinasi yang disinergikan oleh KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah).

Melalui wadah KNKS, berbagai kebijakan dan program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dari berbagai otoritas dan lembaga terkait dapat bersinergi dengan baik sehingga berbagai potensi dan peluang yang dimiliki Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pada tataran global, pertumbuhan sektor keuangan syariah di Indonesia cukup tinggi. Saat ini posisi Indonesia merupakan pasar besar bagi produk halal di sektor industri syariah, seperti industri makanan halal, industri wisata halal, industri busana dan mode syariah, serta industri obat dan komestik halal.

Besarnya pasar industri halal ini pada dasarnya memperlihatkan besarnya potensi ekonomi syariah domestik. Dengan potensi yang didukung dengan kebijakan ekonomi dan keuangan syariah nasional, akan dapat mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Untuk dapat mencapai berbagai tujuan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, Bank Indonesia menerbitkan cetak biru pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dengan fokus strategi utama yang terintegrasi dalam perumusan kebijakan dan/atau penguatan kerja sama, yang meliputi:

  • Pilar I : Pemberdayaan Ekonomi Syariah melalui pengembangan dan penguatan usaha syariah.
  • Pilar II : Pendalaman Pasar Keuangan Syariah melalui penguatan sektor keuangan komersial syariah dan sektor keuangan social syariah untuk pembiayaan.
  • Pilar III : Penguatan Riset, Asesmen dan Edukasi untuk meningkatkan literasi ekonomi dan keuangna syariah.

Program pengembangan ekonomi pesantren ke depan akan dikembangkan hingga ke tahap pembentukan holding pesantren. Hal ini potensial untuk diwujudkan oleh karena saat ini, secara nasional, Bank Indonesia telah menjalin hubungan kerja sama dengan 63 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Namun ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum membentuk sebuah holding. Pesantren perlu memperkuat kualitas manajemen bisnisnya, menyusun laporan keuangan yang diharapkan dapat sesuai dengan “Standar Laporan Keuangan Pesantren”, adanya pengembangan unit bisnis dan mulai meningkatnya ghirah untuk berwirausaha di kalangan santri.

Dengan demikian, holding yang nanti dibentuk benar-benar dapat dikembangkan secara berkesinambungan, dan mampu dimanfaatkan secara optimal oleh pesantren maupun masyarakat secara lebih luas.

Diketahui, turut hadir narasumber dalam kegiatan diskusi ini telah pakar dan berpengalaman di bidangnya yang dapat mendukung berjalannya program kemandirian ekonomi pesantren, seperti Umi Waheeda, Pimpinan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School Bogor, yang memaparkan “Success Story Model Bisnis Ekonomi Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Bogor, Konsultan Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Sulawesi Selatan, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan, dan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulawesi Selatan.

Pada kegiatan diskusi disampaikan, dalam perjalanannya ke depan, sangat diharapkan adanya kontribusi dan sinergi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah dan jajarannya, perbankan syariah, asosiasi pengusaha, serta akademisi.

Semakin banyak pihak yang bersinergi dan berkontribusi dalam pengembangan ekonomi pesantren, maka dapat mendukung percepatan peningkatan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. (*)