Daya Pikat Pemilih Milineal

Sigit Sepriandi Kamis, 29 November 2018 15:04 WIB
92x ditampilkan Headline Opini

Pertarungan pemilu 2019 menjadi pertarungan memperebutkan suara generasi millennial. Dari beberapa kampanye dan pergerakan tim pemenangan ke dua pasangan calon presiden, perhatian lebih diarahkan untuk memikat kaum millennial-mereka yang berada dalam rentang usia 17-35 tahun.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah ‘millennial voters’ mencapai 70-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35-40 persen pemilih millennial akan memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin pada masa mendatang.

Pengaruh yang signifikan tersebut menuntut partisipasi politik dari generasi milenial. Dalam hal ini, partisipasi politik generasi milenial tentu sangat substansial karena dari persentase jumlah pemilih, generasi milenial menyumbang suara cukup banyak dalam keberlangsungan pemilu 2019. Dengan peran generasi milenial sebagai pemilih yang memiliki sumbangsih terhadap suara hasil pemilihan yang cukup besar, maka posisi generasi milenial menjadi sangat strategis untuk menjadi objek sasaran pemungutan suara.

Lantas siapa sih yang tergolong generasi milenial tersebut? Yang perlu dipahami bersama di sini, bahwa karakter generasi milenial ialah mereka para generasi yang melek akan informasi. Hidup mereka banyak dicurahkan untuk berselancar di dunia maya dan sosial media. Mereka terkoneksi satu sama lain melalui media sosial. Inilah titik pembeda antara generasi milenial (17-35 tahun) dengan generasi X (36-55 tahun) serta generasi baby boomers (55 tahun ke atas).

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka jelas dapat dilihat bahwa rentang usia generasi milenial berada di usia yang produktif dan berinteraksi dengan sosial media mereka. Rentang usia yang muda, membuat mereka menjadi aktif dalam mencari informasi apapun dari sosial media mereka, terutama tentang politik. Beberapa literatur juga telah melihat tentang keterkaitan pemilih pemula dan politik serta menguji pengaruh dan faktor-faktor modern yang jelas yaitu, dari siklus berita 24 jam (Kahne dan Middaugh, 2012), ke media sosial dan seterusnya (Auskalinien, 2012).

Namun yang perlu diakui pula bahwasanya kaum muda juga tidak semuanya tertarik untuk mencari informasi politik. Generasi muda sering kali dianggap sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak peduli dengan persoalan politik. Snell (2010) mengemukakan bahwa kaum muda tidak memegang erat politik. Mereka merasa "apatis, kurang informasi, tidak percaya, dan tidak berdaya “di dunia politik”.

Ketidakpercayaan kaum millennial terhadap politik disalurkan dengan cara yang berbeda. Beberapa literatur menunjukkan di mana kaum millenial tidak tertarik atau tidak terlibat dalam politik, tetapi mereka terlibat dengan hal itu secara berbeda. Seperti yang dikemukakan Lawless dan Fox (2014) bahwa kaum muda (milenial) terlibat dalam perilaku politik alternatif - aktivisme dan aktivitas sipil - yang menggantikan peran perilaku politik formal seperti memilih dan mencalonkan diri untuk jabatan.

Perbedaan ini kemudian tampak semakin jelas ketika beberapa isu politik diviralkan melalui internet dan media sosial. Jika pada masa lalu bentuk partisipasi politik kaum muda cenderung bersifat konvensional maka hal ini jelas berbeda dengan tindakan politik kaum muda dewasa ini, yang dengan mudahnya menyuarakan isu tertentu melalui media sosial mereka. Hal ini tentu kaum milineal memiliki sifat yang cenderung lebih individual dan bersifat spontan berdasarkan isu tertentu.

 

Tantangan merebut suara millennial voters

            Melihat karakteristik millennial voters yang sulit diarahkan dan lebih aktif berselancar di media sosial, rasanya tim pemenangan masing-masing calon perlu menyiapkan strategi untuk mengambil hati pemilih muda tersebut. Tidak lagi dengan menampilkan politisi yang minim pengalaman dan hanya mengandalkan ketenaran saja. David & Atun (2015) menemukan bahwa para pemilih muda bahkan dibujuk untuk memilih dari politisi tradisional dan memilih aktor dari kepribadian TV sebagai gantinya yang tidak memiliki pengalaman atau pendidikan yang cukup. Faktanya, keputusan pemilihan pemilih dipengaruhi oleh kandidat karena pemilih menyimpulkan kualitas kandidat dari kepribadian kandidat dan sifat fisik (Anderson, 2007).

            Cara-cara lama yang seperti itu tidak akan mampu menarik simpati para pemilih muda. Sudah seharusnya tim pemenangan masing-masing capres melakukan kerja ekstra untuk menawarkan gagasan dan kebijakan yang sifatnya aplikatif dan komprehensif. Selain itu, kebijakan yang inovatif dan kreatif tentu menjadi salah satu yang dicari oleh kaum millennial.

            Namun bukan politisi namanya, jika mereka tidak menggunakan berbagai cara untuk meraih suara dari kaum milenial. Cara-cara kotor seperti isu sara, money politic, dan sebagainya dipastikan akan tetap terjadi di pemilu 2019. Pada bagian inilah, selanjutnya pemilih milenial akan diuji konsistensinya dalam menjaga idealisme. Setidaknya, mereka tidak tertipu oleh iming-iming politik uang (money politic) dan pencitraan semu ala politisi sehingga mereka tetap mampu menjaga nalar kritisnya dalam menentukan pilihan. Bukan menjadi pemilih apatis yang tidak mempunyai optimisme pada pemimpin.

Akhir kata, penulis mengharapkan generasi milenial mampu membawa dinamika politik ke arah yang dinamis dan sehat. Pemilu 2019 merupakan momentum politik yang membutuhkan peran serta generasi milenial untuk aktif dalam mengisi pesta demokrasi tersebut. Gagasan-gagasan, ide maupun pendapat dari generasi milenial terkait pemilu 2019 sangatlah dinantikan. Kita membutuhkan kaum muda yang tanggap, kreatif dan cakap media untuk dapat mendukung pelaksanaan pemilu tahun 2019. Hal itu dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan antigolput atau kampanye hashtag yang positif demi pemilu berkualitas. Sehingga pemilu tahun 2019 dapat berjalan secara sehat dan para capres mampu bersaing adu gagasan kebijakan secara inovatif.

*)Penulis adalah Peneliti Muda Gurindam Research Centre (GRC) Tanjungpinang, Kepulauan Riau