Menjaga Persatuan Umat Pasca Reuni 212

Muhammad Alfatoni Rabu, 5 Desember 2018 18:00 WIB
59x ditampilkan Headline

Alhamdulillah kegiatan Reuni Akbar 212 berjalan sukses dan damai. Reuni Akbar 212 ini adalah upaya mengenang kembali perjuangan umat Islam dalam menuntut keadilan atas perlakuan atau Ocehan Ahok tentang Surat Al-Maidah ayat 51 Alquran tentang kepemimpinan dalam Islam mendapat sorotan yang luas, kelompok anti penistaan agama di 34 propinsi bergerak untuk aksi bersama di daerah-daerah menuntut agar aparat penegak hukum menindak tegas Ahok atas apa yang telah diucapkannya. Sudah saatnya, kegiatan reuni akbar atau peristiwa ini menjadi momentum sejarah baru bagi perjuangan pergerakan umat dan menurut hemat penulis bisa menjadi hari atau spirit dalam menjaga persatuan umat.

Monas, tetiba saja pada Ahad (2/12/2018) massa reuni akbar menyemut. Secara konstitusional aksi ini tidak perlu dipeributkan walau ada yang menyeret-nyeretnya ke persoalan politik. Toh, buktinya tidak ada orasi atau seruan bertalian dengan hal itu. Hal ini harus disyukuri umat Islam bahwa kita sangat damai, toleransi dan tak lupa tertib. Gerakan 212 sudah mengajarkan kebaikan kepada kita semua terlepas dari prasangka segelintir orang. Bagi alumni 212 tak penting prasangka orang, bagi alumni 212 yang terpenting bagaimana di akhirat kelak mereka bisa menjawab pertanyaan malaikat penghisab terkait dengan apa yang mereka sudah lakukan untuk agamanya.

Dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum jelas adalah benteng bagi umat untuk menyuarakan aspirasinya. Upaya-upaya penjegalan terhadap apa yang dilakukan pada waktu dulu dan saat ini sebenarnya perlu direfleksikan sebagai belum berhasilnya negara mengelola secara professional dalam hal perbedaan pandangan.

Kalau saja negara adil, penulis pikir aksi berjilid-jilid untuk menuntut keadilan yang nyaris terjabut tidak akan terus-terusan terjadi.

Di saat seruan aksi damai penistaan agama untuk menuntut Ahok segera diadili dahulu, begitu terasa deras mengalir baik di dunia maya dan dunia nyata kata-kata toleransi dan bhineka tunggal ika. Hingga saat ini dari aksi penistaan agama Ahok ada anggapan aksi damai dulu dan reuni akbar ini mengancam kebhinekaan atau keragaman yang dimiliki oleh Indonesia atau ada juga yang menganggap ini ancamana terhadap keutuhan NKRI. Padahal kita bisa lihat peristiwa sebelumnya, bagaimana Ahok selalu bikin gaduh dengan ocehan-ocehannya. Aksi damai ini menurut hemat penulis merupakan aksi terhadap hilangnya rasa toleransi dan kebhinekaan Ahok terhadap NKRI.

Bagaimana bangsa yang besar ini begitu sangat memperhatikan dan memberikan toleransinya dari satu agama ke agama lainnya. Aksi damai ini dianggap oleh sebagian kecil orang aksi yang tidak toleran, tapi pernahkah kita berpikir apa yang diucapkan oleh Ahok itu toleran dan simbol kebhinekaan? Nah, disini letak kekeliruan cara berpikir kita. Ahok sudah terlanjur didewakan. Efek pencitraan media mainstream mungkin.

Pasca ini justru alumni 212 adalah makhluk yang dikatakan tidak toleran dan bahkan ada riset yang aneh mengatakan masjid radikal. Isu atau fitnah-fitnah yang dihadapi muslim saat ini tentu mendorong kita untuk terus menyuarakan aspirasi umat dan semangat persatuan. Dalam Islam sendiri, makna persatuan tertuang dalam Alquran dan hadist. Dalam Alquran QS. Ali Imran: 103 disebutkan “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”

Sementara itu Rasulullah SAW juga bersabda, “Muslim adalah saudara muslim yang lain, dia tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (dalam kesusahan), dan merendahkannya. Takwa itu di sini, -beliau menunjuk dadanya tiga kali- cukuplah keburukan bagi seseorang, jika dia merendahkan saudaranya seorang muslim. Setiap orang muslim terhadap muslim yang lain haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim).

Persatuan adalah salah satu kekuatan umat, ianya harus disatukan. Ketidakadilan demi ketidakadilan yang dialami ulama dan aktifisnya saat ini telah memunculkan semangat persatuan itu. Reuni akbar 212 ini harus disadari benar sebagai makna persatuan bukan yang lain. Dengan ukhuwah Islamiah atau rasa persaudaraan, umat Islam bisa disatukan.

Persaudaraan muslim ini adalah berkah bagi negeri ini. Semoga rasa persaudaraan kita terus bertambah dan bersama kita menjaga ukhuwah Islamiah dan persatuan bangsa tanpa sikap saling curiga-mencurigai. ***