ISHAK : Kita Rencanakan Bangun Museum Timah di Dabo

Adhie Kamis, 13 Desember 2018 20:25 WIB
248x ditampilkan

LINGGA - Kepala dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Datok HM.Ishak,MM saat ini nampaknya sedang berusaha keras untuk membangun Museum Timah di Dabosingkep. Hal ini terlihat sudah dikumpulkannya peninggalan-peninggalan masa kejayaan timah di Museum Linggam Cahaya. 

Keinginan dinas kebudayaan Lingga untuk membangun museum Timah ini sudah pernah diungkapkan kepada Bupati Lingga beberapa waktu lalu dan sangat disambut baik oleh bupati Lingga Alias Wello seperti diungkapkan Ishak kepada terkininews.com. Bentuk keseriusan itu, Ishak sudah memerintahkan bawahannya untuk menggali dan mengumpulkan benda-benda sejarah yang berkaitan dengan pernah jayanya timah di Dabosingkep kabupaten Lingga yang berakhir sekitar tahun 80an.

Museum Timah ini kedepan diharapkan bisa memberikan bukti ke anak cucu dan generasi saat ini bahwa tambang timah pernah berjaya di Dabo, jangan sampai generasi yang lahir 1990an tidak mengenal dan tidak tau akan kejayaan timah dikampung halaman sendiri. Untuk menyukseskan benda-benda peninggalan zaman timah dahulu, diharapkan sangat partisipasi masyarakat luas untuk memberikan barang-barang yang berhubungan dengan tambang timah masa lalu untuk dihibahkan ke pemkab Lingga melalui museum Linggam Cahaya atau dinas kebudayaan, jelas Ishak. 

Pada saat kerajaan kesultanan Melayu Lingga-Riau-Johor-Pahang, tambang timah menjadi salah satu tumpuan penting ekonomi saat itu, dan itu juga terus berlanjut setelah masa pemerintahan Sultan berakhir. Dan ketika berada di tangan penjajahan belanda hingga Indonesia merdeka juga tambang timah Dabo menjadi salah satu tambang timah terbesar di Indonesia.

Hal senada juga dibenarkan oleh Syabran salah seorang aktivis pemuda Lingga yang sangat menyokong akan dibangunnya museum Timah tersebut. " Kita sangat mendukung untuk menjaga dan melestarikan benda-benda bersejerah meskipun terlihat sederhana tentang tambang timah, meskipun itu mungkin saat ini belum begitu bersejarah tetapi untuk lima puluh atau 100 tahun kedepan itu menjadi catatan sejarah yang berharga", timpal Syabran.***