Akhir Tahun dan Waktu Kita

Rizha Hafiz, S.PdI Sabtu, 29 Desember 2018 17:05 WIB
143x ditampilkan Headline Opini

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr; (103):1-3).

        Tiga penggal ayat Alquran di atas telah menyindir kita semua bahwa kita adalah orang-orang yang lalai dalam menggunakan dan mengelola waktu. Terkait dengan hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda tentang masalah bagaimana dan hal-hal apa saja yang telah digunakan oleh kita dalam menggunakan waktu. Pertama, tentang apa yang telah kita lakukan dengan nikmat umur atau usia. Kedua, tentang masa muda. Digunakan untuk apa saja masa muda selama ini apakah digunakan untuk foya-foya atau hal-hal yang memang tidak memiliki manfaat sama sekali.

Ketiga, soal harta. Bagaimana upaya kita dalam menggunakan waktu untuk mencari rezeki menambah kas-kas harta kita. Keempat, tentang ilmu. Bagaimana kita menggunakan waktu untuk memperoleh dan menambah wawasan keilmuan kita. Subhanallah, maha suci Allah, luar biasa begitulah berharganya waktu hingga Allah SWT begitu ketat pengawasannya dan begitu ketat pula menanyakan waktu yang telah kita gunakan.

Diakhir tahun baru ini kita bersyukur Pemko Tanjungpinang mengadakan kegiatan zikir bersama, tentunya ini bukan dalam konteks kita memperingati tahun baru masehi, tapi dalam konteks agar malam tahun baru nanti kita tidak terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada kemaksiatan sekaligus renungan bagi kita bahwa ada saudara-saudara kita yang sedang berduka mengalami bencana alam yang bertubi-tubi tak elok rasanya kita rayakan tapi idealnya kita renungi waktu yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita semua.

Waktu, ia adalah perkara yang bergerak cepat seiring dengan bergulirnya semesta ini. Perkara yang berlalunya seringkali tak terhiraukan oleh kita hamba-hambaNya. Namun demikianlah sifat waktu, karena itulah para ulama mensifati waktu laksana pedang, ''al waqtu kas saif". Pedang akan menjadi senjata yang membinasakan jika kita mampu mengendalikannya dengan baik, namun sebaliknya pedang akan melukai dan membinasakan diri sendiri, jika yang menggenggam nya tak mampu mengendalikannya dengan baik.

Seperti itulah waktu, jika kita cermat menggunakan waktu yang ada, maka ia akan menjadi keuntungan besar, namun sebaliknya waktu yang tidak difungsikan dengan baik, maka ia akan mendatangkan kerugian besar dalam kehidupan seorang insan. Karena itulah Allah subhanahu wata'ala banyak bersumpah dengan berbagai dimensi waktu dalam Al Quran,

- Demi waktu fajar Allah bersumpah dalam surah al fajr

- Demi waktu pagi Allah bersumpah dalam surah Ad dhuha

- Demi waktu malam Allah bersumpah dalam surah Al Layl.

Dan puncaknya Allah bersumpah atas nama waktu pada surah Al Ashr. Bahkan surat yang agung itu mengabarkan bahwa  seaungguhnya manusia banyak mengalami kerugian dalam perkara waktu. Kecuali beberapa kategori manusia yang selamat yakni yang beriman, beramal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran serta kesabaran.  Oleh karena itu, pergantian tahun yang sering dirayakan dengan acara sukacita itu, pada hakekatnya adalah berlalunya waktu, berlalu kesempatan. Yang tak akan pernah bisa dikembalikan lagi.  Sejatinya momen pergantian waktu, tak semata-mata dijadikan ajang euforia, namun dijadikan sarana refleksi dan muhasabah, sudahkah kita memanfaatkan anugerah waktu yang diberikan Allah ini dengan kebaikan, dengam kemaslahatan, atau apapun yang mendatangkan keridhoan Allah Subhanahu wataala.

Oleh sebab itu marilah kita isi waktu yang masih tersisa dalam kehidupan ini dengan produktifitas amal sholeh. Menebar kebaikan dan kemanfaatan. Allah telah mengingatkan kita dalam Al Quran, bahwasanya ada golongan yang menyesal di akhirat karena menyia-nyiakan waktunya selama di dunia ini, Firman Allah surat as sajdah ayat 12. Bahkan ketika mereka telah melihat wujud alam akherat setelah kematiannya, mereka meminta kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia, tapi apalah daya, jika kematian telah menjadi gerbang pemisah seorng insan dengan kehidupan, maka tiadalah lagi mungkin ia dikembalikan untuk beramal sholih.

Untuk itu marilah kita manfaatkan waktu yang masih ada, dengan banyak beramal sholih, banyak amal kebajikan, banyak menebar kemaslahatan. Agar kita menjadi insan yang beruntung dan jauh dari kerugian dunia akherat. Semoga!

*)Rizha Hafiz, S.PdI , Mubaliqh dan Pendiri LBQ (Lembaga Bimbingan Alquran) Tanjungpinang