Memenangkan Hati Swing Voters

Sigit Sepriandi Senin, 18 Februari 2019 12:36 WIB
706x ditampilkan Headline Opini

Mendekati masa pemilihan umum yang lebih kurang tinggal 2 bulan lagi, masing-masing tim sukses pasangan capres dan cawapres dituntut untuk lebih bekerja keras, kreatif dan inovatif dalam mempromosikan pasangan capres dan cawapres mereka. Hal ini dikarenakan adanya swing voters yang selalu disebut dalam rilis survey dan berpotensi sulit untuk didekati para tim sukses.

Swing voters atau pemilih yang masih mengambang dan belum menentukan pilihan ini dalam beberapa survey ditemukaan cukup banyak. Dari beberapa lembaga survey yang merilis hasil surveynya pada bulan Januari 2019, seperti yang dikutip dalam laporan Detiknews 16 Januari 2019, menyebutkan jumlah pemilih mengambang sekitar 14,6% (Y Publica), 9,2% (Indikator), 10,6% (Alvara Research Center), 15,2% (LSI Deni JA), dan 16,8% (Median).

Berdasarkan beberapa hasil rilis survey tersebut, dapat dilihat bahwasanya swing voters cukup banyak dan dapat mempengaruhi perolehan hasil suara apabila dapat dipikat hatinya oleh pasangan capres dan cawapres maupun timsesnya. Namun sebaliknya, apabila timses dan pasangan capres cawapres tidak mampu memikat hati para swing voters, hal ini tentu akan berakibat sebaliknya, mereka bisa menentukan menjadi golput.

Munculnya kaum swing voters sendiri tak dapat dipisahkan dari perilaku politikus yang saling ejek, mengklaim paling benar. Belum lagi ditambah dengan aksi pendukung loyalitas para capres dan cawapres yang semakin membuat panas kehidupan sosial hingga sampai grup wa keluarga. Hal ini juga menjadikan para timses mengabaikan gagasan dan program kerja. Mereka asik saling serang dengan hal-hal yang membuat para swing voters semakin bingung dan mengambang untuk menentukan pilihan. Tak ayal, mereka pun enggan untuk me­nentukan pilihan, sebab anggapan mereka kedua pasangan capres dan cawapres tidak ada yang sesuai dan benar-benar mengedepankan ide dan gagasan dalam berpolitik.

 

Mengubah Strategi

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa swing voters adalah perilaku pemilih yang masih mengambang dan dapat berubah atau berpindah pilihan dari satu partai ke partai lain atau satu calon kandidat ke calon kandidat lain dalam satu Pemilu. Hal ini tentunya berimbas dengan cara pendekatan yang mesti dilakukan oleh setiap pasangan capres dan cawapres serta timsesnya.

Seperti yang dikatakan Horowitz (2017) bahwa perbedaan antara pemilih inti dan swing voters sangat mendasar untuk memahami dinamika pemilihan dasar yang berkaitan dengan strategi kampanye, persuasi elit, dan hasil pemilu dalam demokrasi. Strategi kampanye di sini pastinya menuntut hal yang berbeda yang dilakukan untuk memenangkan hati swing voters.

Selama ini kita melihat dari para kandidat yang bertarung cenderung tidak menunjukkan diskursus yang cerdas dengan menjual visi misi serta program kerja. Namun masih menonjolkan kampanye negatif dari lawan politiknya, serta menjadikan bahan serangan untuk menjatuhkan. Belum lagi ditambah pendukung loyalitas masing-masing kandidat yang semakin memperkeruh suasana dan kegaduhan.

Seperti yang dikatakan Buechel dan Mechtenberg (2017) bahwa pemilih itu strategis; yaitu, mereka mengkondisikan perilaku mereka pada nilai penting. Maka sudah seharusnya para kandidat beserta timsesnya merubah strategi dalam kampanye mereka. Poin penting yang seharusnya dirubah adalah tidak menyerang dengan isu negatif yang menjatuhkan. Dan sebaliknya, para masing-masing timses sudah seharusnya memaparkan adu gagasan dan ide pembaharuan yang ditawarkan untuk dapat memikat hati para swing voters.

Selain itu, momen debat capres dan cawapres juga harusnya dapat dimanfaatkan para kandidat untuk memberikan jawaban-jawaban yang tidak hanya normatif, tetapi jauh kepada gagasan program kerja yang realistis. Sebab, para swing voters yang didominasi oleh kaum millennial seperti yang diungkapkan Siti Zuhro dalam penelitiannya, menantikan debat capres dan cawapres sebagai suatu momen untuk dapat menentukan pilihan mereka. Tentunya mereka sebagai pemilih yang masih mengambang ingin mengetahui sejauh mana penguasaan kedua pasangan calon terhadap permasalahan publik.

 

Ancaman Golput

            Literatur yang ada tentang perilaku politik dalam demokrasi multi-etnis menunjukkan bahwa akan ada beberapa pemilih yang tergolong dalam swing voters dalam lingkungan di mana etnisitas menonjol. Donald Horowitz, misalnya, mengusulkan bahwa, “apa yang tidak pasti bukanlah bagaimana seorang pemilih akan memilih, yang tidak pasti adalah apakah seorang pemilih potensial akan memilih”. Kesimpulan ini didasarkan pada pandangan bahwa etnisitas menciptakan ikatan psikologis yang kuat yang condong pemilih untuk mendukung para pemimpin etnis karena alasan ekspresif - untuk menegaskan status kelompok seseorang dalam pemerintahan.

            Namun, dalam situasi ketika ikatan emosional calon pemilih dengan partai (partisansif) lemah, di tengah iklim kampanye yang minus substansi dan tidak memberikan diferensiasi yang tegas dan karakter kandidat yang kerap dipertanyakan, jumlah pemilih mengambang yang disebut-sebut beberapa lembaga survey tadi dapat menjadi ancaman serius meningkatnya jumlah golput dalam pilpres 2019 nantinya.

            Tentunya hal ini bukanlah yang diharapkan bagi semua pihak, baik oleh pasangan capres dan cawapres yang bersaing dan juga KPU sebagai penyelenggara pemilu. Namun tentu saja untuk memikat hati swing voters agar memilih bukanlah tanggungjawab penyelenggara, sebab di sini keputusan mereka belum menentukan pilihan dikarenakan pasangan capres dan cawapres lah yang belum mampu meyakinkan mereka.

            Lantas jika mereka menjadi ancaman golput, siapa yang harus meyakinkannya? Tentu saja, masing-masing kandidat dan timsesnya harus mampu merebut hati dan meyakinkan swing voters untuk menentukan pilihanBukan dengan kampanye yang membosankan dan penuh kerusuhan, tetapi dengan kampanye damai yang bersaing dengan saling beradu ide dan gagasan serta program kerja.

            Semoga di sisa waktu kampanye yang tersisa, para kandidat beserta timsesnya mampu meruah strategi kampanye mereka dan meyakinkan kelompok swing voters untuk menentukan pilihannya, sehingga mereka tidak menjadi golput. Tentunya sangat menarik untuk kita nantikan, siapa yang akan mampu memenangkan hati para swing voters ini.

*Penulis adalah Alumni Magister Ilmu Pemerintahan UMY dan Peneliti Muda di Gurindam Research Centre (GRC)