Secercah Kehidupan Ditengah Debu Arang

Kasmadi Selasa, 19 Februari 2019 21:23 WIB
878x ditampilkan Headline Kepri Terkini Lingga

LINGGA - Roda kehidupan terus berputar, tapi kerasnya hidup harus dijalani. Inilah yang nampak dari ibu-ibu yang terus berjuang untuk menghidupi kehidupan mareka dengan bertarung dengan debu arang dari kayu Mangrove /Bakau yang baru selesai dibakar hampir 3 bulan lamanya. Ibu paruh baya bernama Mariah(62) ini salah satu potret pekerja harian di salah satu kilang Panglong/Dapur Arang yang ada di kabupaten Lingga khususnya di desa Kudung kecamatan Lingga Timur kabupaten Lingga. 

Ibu Mariah  yang tinggal di kampung Tanjung Keriting ini harus menempuh perjalanan lebih dari 4 Kilometer untuk sampai ke tempat kerjanya yang berada di desa Kudung kecamatan Lingga Timur Kabupaten Lingga. Panglong atau lebih dikenal dengan Dapur Arang ini menampung pekerja perempuan untuk beberapa bagian pekerjaan ringan baik sebagai pengisi kayu arang dikarung, pemotong arang, dan juga berbagai pekerjaan lain yang menjadi rutinas dengan bertarung dengan asap debu arang yang seolah tidak dihiraukan lagi dampak kesehatan bagi mereka karena kerasnya kehidupan. 

Wanita paruh baya dengan empat orang anaknya ini, sudah kurang lebih 20 bulan bekerja di Dapur Arang yang di kelola oleh bapak Sogini yang ada di desa Kudung. Karena tidak ada pekerjaan lain maka ia harus membantu suaminya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Suami yang bekerja sebagai nelayan ini diungkapkannya kepada terkininews tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga saya harus membantu suami saya juga pak, kalau tidak kami mau makan apa ujarnya dengan penuh harap.

Pekerja perempuan yang ada di dapur arang ini kurang lebih 20 orang dan pekerja laki-laki 40 orang dengan berbagai macam bidang pekerjaan yang ada. Mereka tidak bekerja sebulan penuh, karena pekerjaan mereka tidak ada setiap hari selama satu bulan, dalam sebulan bisa saja mereka menganggur sampai 10 hingga 15 hari hari. Dengan upah yang secukupnya ini, bu Mariah harus bisa mengelola uang secukupnya karena tidak ada pilihan pekerjaan lain lagi dikampung mereka. 

Hal serupa juga diungkapkan oleh ibu Ziah teman sekerja bu Mardiah, " Karena rumah kami jauh pak, kami tiba disini pukul enam pagi dan kami juga membawa bekal (makanan-red) sendiri dari rumah, karena siang kami istirahat dan makan disini", ungkap bu Ziah. Kami sangat terpaksa harus bekerja membantu suami, karena kehidupan sekarang sangat berat dan semua bahan makan tidak lagi murah. Saat ini harapan kami pemerintah membantu membuat lapangan pekerjaan supaya suami kami dapat bekerja yang dapat memenuhi kebutuhan kami, sehingga kami tidak harus bekerja lagi. Saat ini untung saja dapur arang ini ada pak, kalau tidak ada, kami tidak tau harus bekerja apa," jelas bu Diah dengan tatapan mata tertunduk. Terkait dampak kesehatan yang kami saksikan dari resiko kerja mereka, Bu Ziah sudah tidak memperdulikan lagi karena ini memang menjadi resiko kerja bagi mereka dengan debu arang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka setiap hari saat bekerja.

Pantauan wartawan portal ini dilapangan, pekerjaan dapur arang ini memang tidak tergolong mudah, tapi sangat membantu masyarakat. Bahan baku kayu arang ini diambil dari kayu mangrove atau kayu bakau yang ada di sekitaran kawasan hutan yang menjadi kawasan hak pakai dari pemilik dapur arang. Untuk Dapur Arang seluruh kabupaten Lingga segala urusan dibawah koperasi Mangrove Lestari Lingga. Khusus dapur arang desa Kudung ini memiliki luas lahan kerja kurang lebih 400 Ha, dengan kewajiban menanam kembali kayu mangrove sebesar 50 - 60 ribu benih setiap tahun, dengan masa tanam 2 kali dalam setahun.***