Opini Fenomena Gaya Hidup Hedonisme dan Seorang Prostitusi Online

Admin Kamis, 28 Maret 2019 20:54 WIB
83x ditampilkan Opini Tanjungpinang

Tanjungpinang, -- Belakangan ini gaya hidup hedonisme telah erat melekat dalam hidup kita. Hedonisme merupakan satu istilah yang menunjukan paham kesenangan atau suatu pandangan tentang kenikmatan dunia menjadi tujuan hidup manusia. Seperti pemalas, individualisme, matrealistis, pergaulan bebas, boros, egois, berfoya-foya, Plagiat,  Diskriminasi dan lain-lain. Kamis (28/3/2019) terkininews.com

Gaya hidup hedonisme ini bisa dikatakan virus karena dia menyerang dari anak - anak hingga orang tua yang tak luput dari serangan virus ini. Generasi yang paling tidak aman terhadap sebutan hedonisme adalah remaja.

Remaja sangat antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya hidup hedonisme sangat menarik bagi mereka. Mereka ingin termasuk dalam golongan berduit, mereka juga ingin berdandan yang selalu mengikui mode. Beruntung bagi mereka yang termasuk dalam golongan berduit, sehingga memenuhi kriteria tersebut, akan tetapi bagi yang tidak mampu dan ingin cepat seperti itu maka jalan pintaslah yang diambil.

Tidaklah mengherankan, jika saat ini muncul fenomena di sekitar kita yaitu Prostitusi online.Gaya hidup hedonisme ini banyak terjadi dikalangan perempuan remaja, dimana mereka mencari kesenangan sesaat dengan profesi yang dianggap paling enak dan gampang menghasilkan uang yaitu dengan cara Prostitusi Online.

Beberapa contoh kasus Prostitusi online yang dapat kita lihat adalah VA (27 tahun)  seorang aktris yang tertangkap oleh pihak kepolisian polda jawa timur (5/1/2019) lalu di dalam kamar sebuah hotel bintang lima di Surabaya.

Dalam kasus portitusi online tersebut, VA memasang tariff Rp. 80 juta untuk sekali kencan. Setelah berjam jam menjalani pemeriksaan penyidik, VA akhirnya diperbolehkan pulang pada minggu (6/1/2019) sore dan menyandang status sebagai saksi.

Contoh prostitusi online yang kedua yaitu Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang meringkus seorang mucikari prostitusi online, mucikari tersebut adalah M (19 tahun) seorang oknum mahasiswi di Tanjungpinang disalah satu Rumah kos pada rabu (13/02/2019) malam. B (17 tahun) telah melakukan perbuatan asusila untuk melayani pria H berusia (41 tahun) berhidung belang.

Beberapa faktor yang menyebabkan akan terjadinya penyimpangan itu adalah tingginya kebutuhan sehingga memanfaatkan nafsu, perasaan, dan keinginan. Dan lemahnya keyakinan agama seseorang juga berpengaruh terhadap perilaku sebagian masyarakat yang mengagungkan kesenangan dan bura-hura semata.

Binzar Situmorang mengatakan bahwa,  kerohanian seseorang menjadi tolak ukur dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi mereka yang suka mengejar kesenangan. Dan para pelaku seolah-olah telah kebal hukum , adat, dan aturan, sehingga mereka lebih mementingkan kenikmatan sesaat daripada massa depan.

Kasus prostitusi online tidak dapat dilepaskan dari adanya pelaku dan korban. Pelaku di sini berdasarkan pasal 12 UU PTPPO adalah. Setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktek eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dengan pidana penjara minimal tiga tahun dan maksimal lima belas tahun.

Pasal 1 butir 3 UU PTPPO menjelaskan yang dimaksud dengan korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, ekonomi dan atau social yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang. Apabila sesorang yang menjadikan PSK( pekerja seks komersial) sebagai pekerjaan yang tidak mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, ekonomi akibat dari tindak pidana perdagangan orang maka tidak dapat dikatakan sebagai korban.

Pernayataan kepolisian menyatakan para artis yang melakukan prostitusi online sebagai korban patut dipertanyakan mengingat tidak ada fakta-fakta yang menunjukan bahwa mereka mengalami penderitaan psikis, fisik maupun ekonomi akibat dari ekspoitasi seksual.

Patut diduga para artis bekerja sambilan sebagai PSK untuk memenuhi biaya hidup yang glamour.Dalam penanganan kasus prostitusi online, kepolisian diharapkan lebih aktif didalam mengurai keterlibatan jaringan dari kasus perdagangan orang, tidak hanya berhenti pada mucikari namun juga orang-orang yang melakukan recruitmen dan mengambil keuntungan dari perdagangan orang.

Sealin itu untuk melindungi dan memperjuangkan hak-hak korban trafficking, kepolisian dapat bekerja sama dengan psikolog, psikiater, ahli kesehatan, rohaniawan dan anggota keluarga selama proses penyelidikan. Korban harus dikuatkan dan diselamatkan sehingga mereka mendapatkan keadilan dan tidak terjerumus kembali sebagai PSK.

Zaman makin berkembang begitu juga dengan kebutuhan semakin lama semakin bertambah. Begitu juga dengan kebutuhan para remaja, makin lama makin bervariasi kebutuhan mereka.

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka harus ada yang namanya uang. Bagi yang orangtuanya tergolong berduit tentu bukan hal yang sulit jika mereka ingin bersenang-senang dan memenuhi apa yang mereka inginkan, misalnya membeli baju, handphone, perhiasaan dan lain-lain. Tapi bagi mereka yang tergolong orangtuanya tidak mampu tentu akan mengalami kesulitan untuk memenuhi apa yang mereka inginkan seperti bersenang-senang berhura-hura.

Karena itulah bagi mereka yang sulit dalam hal keuangan akan mengambil jalan pintas, misalnya Prostitusi Online tersebut. Jika kita memilih gaya hidup hedonisme ini sesungguhnya tidak akan pernah membawa kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Bagi yang sudah terkena dampak hedonis segeralah ubah perilaku tersebut, karena sesungguhnya kebahagiaan itu sebenarnya berada pada hati dan jiwa disetiap individu.

Tulisan ini meningatkan kita bahwa jauhkan lah sifat dan gaya hidup hedonisme tersebut, wujud kepedulian yang bisa kita lakukan adalah mengawasi dan melakukan tindakan preventif (mencegah) apalagi harus menjual diri untuk membeli barang atau untuk memenuhi kebutuhan yang Glamour.

Menghindari dari pergaulan bebas baik yang mengarah pada pelecehan seksual. Bersikaplah terbuka kepada sesama, berhemat untuk membuat anggaran, selektif dalam memilih pergaulan. Lebih menghargai orang lain dan memikirkan resiko yang akan terjadi sebelumnya, dengan melakukan penuh pertimbangan. Dan untuk para orangtua hendaklah meningkatkan kontrol terhadap anak-anak.

Tanamkan nilai moral yang nantinya berguna bagi mereka. Misal tanamkan sikap hidup hemat, arahkan mereka pada pergaulan yang baik dan didik mereka untuk mandiri. Sedangkan bagi para remaja, berpikirlah dulu sebelum bertindak jangan hanya mengejar kesenangan saja. Masa depan masih panjang, masih banyak hal yang berguna yang dapat mereka lakukan tanpa harus hura-hura dan berfoya-foya.(*/)

Tulisan Mahasiswi jurusan ilmu administrasi publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang jadi pertanggungan Oleh :Adisty Febriany.