Catatan Kisi Kisi Pendidikan IGI di Hardiknas 02 Mei 2019

Adhie Kamis, 2 Mei 2019 09:18 WIB
383x ditampilkan Headline Nasional Pendidikan

Terkininews.com, -- Hardiknas 2 Mei 2019 bertepatan 130 tahun lahirnya seorang tokoh bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang sejak tahun 1922 berubah nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau mendirikan Taman Siswa dengan harapan ada sebuah lembaga pendidikan yang menjadi tempat yang mendidik, mencerdaskan dan mengembangkan kemampuan siswa tetapi tetap menyenangkan.

Kini pendidikan kita sudah terlembagakan dengan baik namun berbagai masalah masih juga melingkupinya dengan benang kusut "Program Zonasi". Papar Ramli Rahim Ketum IGI Pusat kamis (02/5/2019) terkininews.com

"Kebijakan terbaik dan layak mendapatkan pujian di masa Mendikbud Muhadjir Effendy sekarang adalah Zonasi". Jelas Muhammad Ramli Rahim

Lanjut Program Zonasi ini bukan hanya memaksa siswa bersekolah disamping rumahnya tetapi juga bercita-cita menjadikan semua sekolah sama baiknya. Dengan cita-cita ini, kasta-kasta sekolah yang telah terlembaga puluhan tahun akan segera dihancurkan. Tak ada lagi sekolah unggulan, sekolah favorite,

Sekolah andalah, sekolah RSBI atau sekolah berstandar nasional tetapi semua sekolah diharapkan sama baiknya. Mimpinya adalah sekolah terbaik di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya dan Surabaya sama baiknya dengan sekolah di Puncak Jaya, Maluku Tenggara Barat, Sintang, Mamasa, atau Lubuk Linggau.

Jika program ini terus dijalankan dan dimaksimalkan maka sungguh kebahagiaan akan menjalari seluruh rakyat Indonesia secara merata di Seluruh Indonesia. Kesah Ketum IGI.

Lalu berharap suatu ketika zonasi dilanjutkan ke level perguruan tinggi sehingga siswa perguruan tinggi selevel ITB, UI, UGM juga hadir di Papua, Maluku, Aceh dan daerah lainnya.

Hanya saja program zonasi ini belum secara maksimal dilanjutkan ke zonasi guru dan zonasi fasilitas sebagai "Masalah Pendidikan Kini".

Pertama secara umum masalah utama pendidikan kita hari ini ada tiga, pertama kurikulum pendidikan kita mutar-mutar, bertele-tele dan tidak tepat sasaran serta beban materi yang terlalu besar, kurikulum kita sudah harus berubah dengan fokus utama pada penyederhanaan jumlah mata pelajaran menjadi 4-5 mata pelajaran di SMP, menghapus jurusan di SMA dan cukup 5-6 mata pelajaran saja.

Bagi yang mau spesialisasi atau jurusan, di arahkan ke SMK. Kurikulum harus memberi ruang kepada guru untuk berkreasi sehingga guru mampu menjalankan pembelajaran lebih baik dalam upaya meningkatkan invonasi, kreativitas dan kemampuan siswa dalam hal problem solving.

Kurikulum harus lebih praktis untuk mencapai sasaran, misalnya bahasa inggris harus mampu membuat siswa bercapak bahasa inggris dengan baik, matematika memberikan dasar matematika yang baik dan tidak terlalu tinggi, sains harus lebih mudah diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Pengetahuan jangan berulang, jangan sampai apa yg dipelajari di SD, kembali diulang di SMP lalu berulang lagi di SMA. Kurikulum SMK harus betul-betul mampu melahirkan siswa yang memiliki skill nyata yang dibutuhkan dunia kerja dan selalu kekinian, jangan sampai apa yang ajarkan di SMK sudah ditinggalkan dunia industri dan dunia kerja.

Kedua kualitas guru kita baik dari sisi profesionalisme, padegogik, kepribadian dan sosial masih timpang, ada guru yang sangat bagus tapi lebih banyak yang belum baik, parahnya penempatan guru ini tidak merata, padahal pemerintah sudah memaksa siswa bersekolah di samping rumah mereka dengan sistem zonasi. Tidak meratakan kualitas dan kuantitas guru sama saja negara telah mendzolimi anak-anak bangsa ini.

Ketiga, fasilitas pendidikan kita belum merata sehingga ada sekolah yang fasilitasnya sudah sangat baik tetapi banyak sekolah yang serba terbatas.

Kesejahteran Guru. Kembali ke persoalan guru sebagai prasyarat pendidikan, kesejahteraan guru saat ini tak bisa disebut sudah meningkat karena guru kita masih ada dalam 5 kasta:

  1. Guru PNS bersertifikasi, guru ini tergolong sejahtera, selain menerima gaji, juga mendapat tunjangan profesi guru. Bahkan dibeberapa daerah, mereka masih mendapatkan tunjangan kinerja.
  2. Guru PNS belum bersertifikasi, guru ini tergolong sedang karena pendapatan mereka rutin setiap bulan tapi tak menenerima tunjangan profesi guru.
  3. Guru Non PNS Sudah bersertifikasi, guru ini tergolong lumayan karena mendapat TPG setara gaji PNS meski tak mendapat gaji rutin PNS tetapi diterimanya sesuai pencairan TPG 3 bulan sampai 6 bulan sekali.
  4. Guru Non PNS dan Belum bersertifikasi tapi berhonor UMR/UMP/UMK, guru ini meskipun tidak menerima Gaji PNS dan tidak menerima TPG tetapi masih lumayan bagus karena honor mereka diterima setiap bulan setara UMR/UMP/UMK tetapi nasibnya ditentukan setiap tahun karena kontrak mereka mayoritas hanya setahun-setahun. Kelompok ini rawan terimbas masalah politik
  5. Guru Non PNS belum sertifikasi dan Upah jauh dibawah UMR/UMP/UMK, guru ini hidupnya tragis, honornya bergantung dana BOS atau honor daerah yang nilainya menyedihkan. Mereka biasanya menerima honor 3-6 bulan sekali dan jumlahnya menyedihkan, bahkan hingga Rp.50.000,-/bulan

Klasifikasi diatas belum termasuk guru di sekolah swasta yang sangat tergantung kelas sekolahnya, apakah termasuk swasta bonafid atau swasta yang mengandalkan dana BOS.

Maka dari itu pemerintah tak seharusnya menuntut kualitas sebelum memenuhi tanggungjawabnya mensejahterakan guru atau paling tidak memberikan keadilan dengan pendapatan yang cukup.

Upaya Peningkatan Kompetensi Guru adalah upaya paling efisien meningkatkan kompetensi guru adalah membangun gerakan  yang mendorong guru meningkatkan kemampuannya secara mandiri.

Pemerintah tak mungkin sanggup mengerjakan sendiri sehingga pemerintah harusnya fokus pada pemerataan kesejahteran guru. Upaya peningkatan kompetensi guru didorong agar dilakukan secara mandiri dari guru itu sendiri melalu organisasi guru atau organisasi profesi guru.

Pemerintah cukup membuat standar yang harus dicapai oleh seorang guru baik kemampuan dirinya secara pribadi, kemampuannya mentrasfer pengetahuannya pada anak didiknya serta persepsi anak didik terhadap guru.

Diklat guru harus berorientasi hasil dan dapat menyentuh seluruh guru bukan hanya segelintir guru saja karena harapan berimbasnya kemampuan guru pada guru lainnya tanpa gerakan berbagi dan saling menumbuhkan (sharing and growing together) tak akan terwujud harapan berimbas itu

Lalu hal tersebut berlanjut ke Masalah Kurikulum dimana Kurikulum kita menjadi masalah utama saat ini selain guru, kurikulum pendidikan kita mutar-mutar, bertele-tele dan tidak tepat sasaran serta beban materi yang terlalu besar, kurikulum kita sdh harus berubah dengan fokus utama pada penyederhanaan jumlah mata pelajaran menjadi 4-5 mata pelajaran di SMP, menghapus jurusan di SMA dan cukup 5-6 mata pelajaran saja. Bagi yang mau spesialisasi atau jurusan, di arahkan ke SMK.

Kurikulum harus memberi ruang kepada guru untuk berkreasi sehingga guru mampu menjalankan pembelajaran lebih baik dalam upaya meningkatkan invonasi, kreativitas dan kemampuan siswa dalam hal problem solving sehingga siswa mampu berpikir tingkat tinggi yang kita kenal dengan istilah HOTS.

Kurikulum harus lebih praktis mencapai sasaran, misalnya bahasa inggris harus mampu membuat siswa bercapak bahasa inggris dengan baik, matematika memberikan dasar matematika yang baik dan tidak terlalu tinggi, sains harus lebih mudah diaplikasikan dalam kehidupan. nyata.

Pengetahuan jangan berulang, jangan sampai apa yg dipelajari di SD, kembali diulang di SMP lalu berulang lagi di SMA. Kurikulum SMK harus betul-betul mampu melahirkan siswa yang memiliki skill nyata yang dibutuhkan dunia kerja dan selalu kekinian, jangan sampai apa yang ajarkan di SMK sudah ditinggalkan dunia industri dan dunia kerja.

Kurikulum kita harusnya juga mampu mengakomodir siswa yang punya kemampuan tinggi dan unik/khusus sehingga sekolah tak harus 6 tahun SD, tak harus 3 tahun SMP dan tak harus 3 tahun SMA.

Mata pelajaran olahraga perlu direvisi, mata pelajaran olah raga harus berorientasi prestasi, bukan sekedar pengetahuan sehingga pendidikan mampu berkontribusi pada prestasi olahraga Indonesia. Kesimpulannya, kurikulum K-13 sudah ketinggalan jaman dan sudah seharusnya diubah.

Kualitas pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal, baik dalam data beberapa lembaga dunia maupun data internal kemdikbud.

Dalam sisi penguatan pendidikan karakter baik juga masih sangat lemah, ukurannya paling tidak pada budaya corat coret baju setelah ujian, kecurangan dalam ujian, rendahnya rasa hormat pada guru dan orang tua dan hal lainnya. Seharusnya pendidikan karakter betul-betul dikuatkan di tingkat PAUD dan SD, bukan hanya pada sisi pengetahuan tapi pada aplikasi dan pembiasaannya.

Ucapan Selamat Hari Pendidikan Nasional, IGI semoga pendidikan hari Indonesia di masa depan jauh lebih baik. (*)