BRSDM dan KKP Panen INTAN-AP Serta PANDU di Lahan Idle

Adhie Ahad, 5 Mei 2019 22:50 WIB
71x ditampilkan Daerah Headline

BARRU, -- Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan panen hasil Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi Air Payau (INTAN-AP) padi udang windu (PANDU) di lahan idle (menganggur) di Dusun Uring, Desa Lawallu, Kecamatan Soppengriaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel),

Panen dilakukan di lahan seluas ± 1 hektare (± 30 persen untuk caren udang dan ± 70 persen untuk lahan padi). Lahan tersebut merupakan lahan persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja Minggu (5/5/2019). mengatakan bahwa INTAN-AP PANDU merupakan teknologi baru, yang mencoba menggabungkan udang windu yang biasanya hidup di wilayah laut, dengan padi yang biasanya hidup di air tawar.

“Ternyata dengan teknologi mereka bisa didekatkan. Padi dengan varietas khusus yang mampu bertahan dengan air payau sampai 10ppt. Kemudian udang windu yang tadinya 45ppt bisa diturunkan menjadi 10ppt. Setelah panen pertama berhasil, panen kedua ini luar biasa, berhasil juga, jadi kita lihat teknologi ini sudah mapan untuk bisa dikembangkan di masyarakat secara luas,” jelas Sjarief Widjaja.

INTAN-AP PANDU merupakan integrasi teknologi budidaya udang windu dengan padi varietas toleran salin untuk memanfaatkan potensi lahan idle yang disebabkan oleh intrusi air laut. Kegiatan riset ini diinisiasi oleh Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) pada 2018 melalui sinergitas riset antara Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) Kementerian Pertanian.

Dijelaskan bahwa tokolan udang windu yang digunakan adalah hasil riset perakitan strain udang windu unggul BRPBAP3, sedangkan varietas padi toleran salin yang digunakan adalah INPARI 34 dan 35 yang merupakan hasil riset perakitan varietas BBPadi.

“Perbaikan teknologi budidaya minapadi air payau pada tahun ini yaitu pencegahan serangan hama pada tanaman padi tidak lagi menggunakan pestisida kimia, namun menggunakan biopestisida atau pestisida nabati yang aman bagi kehidupan udang dan ramah lingkungan. Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi karena udang windu dan padi mempunyai toleransi salinitas yang berbeda,” terang Sjarief.

Keberhasilan INTAN-AP Pandu serta pengembangan dan keberlanjutan teknologi ini, lanjutnya, membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, tak hanya pemerintah pusat, namun juga pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel, Sulkaf S Latief menyampaikan bahwa kegiatan ini mendukung Program Gubernur Sulsel bagi Kebangkitan udang windu di Sulawesi Selatan.

“Ini sejalan dengan perintah gubernur di sektor kelautan dan perikanan, bahwa kita harus mempertahankan udang windu yang merupakan (spesies) asli Indonesia. Dengan bantuan semua stakeholder, terutama KKP yang mendorong Sulawesi Selatan untuk mengembangkan udang windu,” ujar Sulkaf.

Pihaknya menyampaikan akan ada beberapa daerah yang akan menjadi wilayah pengembangan udang windu di Sulawesi Selatan untuk meningkatkan produksi diantaranya Barru, Pinrang, Bone, Bajo, Talakalar, Bulukumba, Sinjai. Hal ini diharapkan agar kajian riset INTAN-AP PANDU dapat menjadi informasi yang berguna bagi masyarakat dalam pemanfaatan lahan yang tidak termanfaatkan secara optimal akibat adanya interusi air laut.

Berdasarkan hasil panen, lahan idle dengan teknologi INTAN-AP PANDU mampu menghasilkan beras 2.5 ton (lahan 0,7 hektare) dan 216 kilogram udang (lahan 0,3 hektare), dalam satu kali masa tanam.

Dengan harga pasaran udang Rp 75 ribu per kilo serta harga beras Rp 4 ribu per kilo, pembudidaya minapadi mampu mendapatkan hasil senilai Rp 26 juta dalam satu kali masa tanam.

Sebelumnya, riset teknologi budidaya minapadi air payau telah diujicobakan pada musim kemarau dan musim penghujan. Berdasarkan hasil percontohan dilokasi ini, potensi produksi udang adalah 216 kg / lahan minapadi dengan padat tebar 4 ekor/m², sedangkan produksi padi adalah 2.450 kg / lahan minapadi.

Hasil riset ini juga merupakan bagian dari perwujudan program BRSDM dalam menciptakan desa inovasi digital 4.0 di sejumlah daerah. Sebelumnya BRSDM telah mengembangkan desa inovasi digital 4.0 di Kampung Gabus di Ciseeng, Kampung Sidat di Cilacap, dan Kampung Nila di Sleman.

Disela panen Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yg di wakili oleh Moch Anugrah menyampaikan apresiasi kepada tim pandu dan menyampaikan harapannya agar program pandu bisa dimasifkan di sulsel agar lahan-lahan ide yang disebabkan intrupsi bisa kembali membawa manfaat bagi masyarakat. (*),