MRR : Ibu Puan Ingin Impor Guru, Apakah Nanti Ada Impor Menteri Juga ??

Admin Jumat, 10 Mei 2019 16:47 WIB
1508x ditampilkan Headline Nasional Pendidikan

terkininews.com, -- Gagasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengundang guru atau pengajar dari luar negeri untuk mengajar di Indonesia sungguh adalah kelakuan yang tentunya teramat sangat membingungkan.

Akan tetapi sebelum membahas lebih jauh keinginan seorang Menteri untuk Impor Guru ada baiknya mereviu kebelakan sejenak yang berdasarkan data termuat di Majalah Dikti bahwa Volume 3 Tahun 2013, ternyata jumlah LPTK saat itu ada 429 lembaga, terdiri dari 46 LPTK Negeri dan 383 LPTK Swasta. Jumlah mahasiswa keseluruhannya mencapai 1.440.770 orang. Ini adalah kenaikan yang sangat mengejutkan karena pada tahun 2010 jumlah LPTK hanyalah sekitar 300an. Artinya ada kenaikan 100 LPTK lebih dalam jangka waktu hanya 3 tahun atau sekitar 30 setiap tahun atau 3 lembaga setiap bulan.

Jadi setiap 10 hari muncul sebuah LPTK baru…! Tentu saja statistik ini akan mematahkan asumsi bahwa minat menjadi guru itu rendah. Ungkap Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Jum'at (10/5/209) yang akrab disapa MRR

Menurutnya LPTK-LPTK itu berdiri justru karena besarnya minat anak-anak kita untuk menjadi guru. Yang hilang itu justru minat untuk menjadi sarjana pertanian (Ironis! Mengingat kita adalah negara agraris)

Dengan jumlah mahasiswa 1,44 juta maka diperkirakan lulusan sarjana kependidikan adalah sekitar 300.000 orang per tahun. Padahal kebutuhan akan guru baru hanya sekitar 40.000 orang per tahun. Artinya akan terjadi kelebihan pasokan yang sangat besar. Bebernya

Perlu diketahui bahwa 100-an LPTK baru yang didirikan tahun 2010-2013 jelas belum memiliki mahasiswa sebanyak kapasitas yang mereka persiapkan dan juga baru akan mulai meluluskan beberapa tahun kedepan. Jadi dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi ledakan bom jumlah lulusan LPTK yang jelas tidak akan mungkin tertampung karena terbatasnya kebutuhan dibandingkan lulusan.

429 LPTK penghasil guru ini tentu saja mendapat suntikan anggaran negara yang tidak kecil. Kemdikbud juga punya 14 P4TK termasuk LP2KS dan LP2KPTK2, memiliki 34 LPMP yang merupakan mantan Balai Pelatihan Guru (BPG). Akan tetapi malah berpikir untuk melakukan Impor Guru,!!! Suatu hal yang sungguh sangat mengerikan dan mengherankan.

Bayangkan, berapa banyak anggaran negara yang dihabiskan untuk mengelola semua lembaga itu, lalu tiba-tiba seorang MENKO angkat tangan dan memilih melakukan impor guru? Terang Ramli Rahim

Jika memang semua anggaran itu dianggap tak berguna, bubarkan saja sekalian biar anggarannya digunakan untuk menggaji guru setara PNS.

Ditengah hebohnya guru-guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun menyelamatkan pendidikan kita dengan pendapatan yang tidak memanusiakan guru. Seorang Menteri justru berpikir untuk melakukan impor guru.

Jika pemerintah punya uang banyak, sejahterakanlah mereka para guru ini maka Indonesia akan mendapatkan anak-anak terbaik Indonesia untuk jadi guru.

Hasil penelitian terbaru kemdikbud menunjukkan bahwa hanya 11 % anak-anak sekolah yang punya keinginan jadi guru, ini tak lain karena gaji guru Indonesia mayoritas sangat rendah dan menyedihkan.

Hanya guru- guru bersertifikasi yang dapat dikatakan sejahtera dan guru PNS yang terbilang cukup. Data ini terlihat tak singkron dengan peminat SMBPTN pada jurusan-jurusan kependidikan, boleh jadi mereka berpikir, tak ada rotan akar pun jadi, tak bisa masuk jurusan bagus, biarlah berharap jadi guru.

Disisi lain, guru-guru kita sebenarnya punya potensi baik tetapi beban kurikulum dan beban administrasi yang begitu berat membuat mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu dan saya yakin jika guru-guru Impor itu bekerja dengan ikatan kurikulum yang sama plus beban administrasi yang sama maka mereka pun tak akan maksimal apalagi kendala bahasa akan menjadi masalah besar.

Persoalan lainnya adalah maukah mereka, para guru luar negeri ini mengajar di daerah terluar, terdepan dan terkebelangannya Indonesia??

Tak bisa kita bayangkan, belajar 6 tahun bahasa inggris tetapi tak mampu bercakap bahasa inggris, apa yang salah, bukan gurunya yang salah tapi kurikulum yang dibuat pemerintah tak mampu menghasilkan siswa dengan kemampuan bercakap bahasa inggris yang baik.

Problem pendidikan karakter pun saya yakin tidak akan maksimal dengan guru asing kecuali jika ingin mengubah karakter orang indonesia menjadi karakter asing. Pendidikan karakter harus diberikan oleh semua guru, bukan hanya guru mata pelajaran tertentu saja.

Jadi daripada melakukan Impor guru, lebih baik dosen-dosen LPTK itu diganti semuanya sama dosen luar negeri biar mampu menghasilkan guru-guru terbaik jika asumsinya orang luar negeri lebih baik dari kita.

Jauh kebelakang, kita bisa melihat bahwa ketika Nabi Muhammad membangun akhlakul karima di Makkah dan Madinah, saat itu Romawi dan Persia adalah dua kerajaan adidaya dengan peradaban yang sangat maju. Tetapi tak sedikit pun Muhammad memanggil ahli-ahli pendidikan dari Romawai dan Persia untuk mendidik anak-anak Islam tetapi faktanya sekarang pengikut Nabi Muhammad tersebar di seluruh dunia.

Lalu mengapa Indonesia tidak memaksimalkan potensi yang ada untuk lebih baik?

Atau begini saja, jika guru harus impor, bagaimana kalau sekalian saja menteri kita juga impor??