Eksekutif Sami: Pihak MA DDI Amparita Ambil Kebijakan Sepihak Tanpa Pertimbangan Amanat UUD Pendidikan

Adhie Ahad, 26 Mei 2019 20:01 WIB
520x ditampilkan Daerah Pendidikan

SIDRAP, -- Musim sekolah telah hampir tiba, pasca ramadhan siswa/siswi kembali di sibukkan dengan persiapan ujian sekolah yang membuat Adik Armayani semakin bersedih kehilangan pelajaran dan candaan bersama teman temannya.

Hal tersebut terjadi lantaran pihak sekolah MA DDI Amparita telah mengeluarkan Armayani yang telah duduk di kelas 2 hanya karena persolan sepele yaitu gaya milenial anak jaman now dengan aplikasi sejenis TicTok. Baca!!!

Menyikapi permasalahan pendidikan yang menimpa Armayani. Direkrut Eksekutif Solidaritas Aktivis Muda Indonesia angkat bicara dan menyayangkan tindakan kepala sekolah yang secara sepihak mengeluarkan siswi dari sekolah MA DDI Amparita yang dikendalikan saat ini.

"Seharusnya siswi tersebut diberi peringatan terlebih dahulu berupa skorsing sebelum dikeluarkan dari sekolah" kata Ardi

Sangat disayangkan ketika Armayani harus putus sekolah hanya karena video sejenis tiktok tersebut jadi pemicu dikeluarkannya sang siswi. Ujar Eksekutif SAMI

"Kami pikir video tersebut sama sekali tidak mengandung unsur pornografi" Tukasnya. Minggu (26/5/2019) terkininews.com

Senada kata Direkrut Eksekutif Solidaritas Aktivis Muda Indonesia. Ketua PGRI Sidrap melalui Prof Yasir juga telah melakukan investigasi terkait permasalahan yang terjadi di lingkup MA DDI Amparita yang menurutnya bahwa dari informasi ketua PGRI kabupaten Sidrap diketahui siswi Armayani pada sekolah MA DDI Amparita telah berulangkali membuat pelanggaran.

"Akumulasi dari berbagai pelanggaran itulah yang membuat kepala sekolah melakukan pemecatan" kata ketua PGRI kabupaten Sidrap

Indikator pelanggaran diserahkan pada siswa dan orang tua ketika seorang dinyatakan diterima sebagai siswa di sekolah tersebut. Peraturan disiplin sekolah dibuat dan dirumuskan oleh seluruh ekosistem pelaku pendidikan. Tambahnya

Lanjut peraturan yang dibuat diberlakukan pada semua siswa tanpa terkecuali. Dengan demikian siswi Armayani tidak dapat diterima lagi kembali ke sekolah tersebut. Terang Prov Yasir.

Adapun tindakan yangg dilakukan oleh PGRI cabang adalah mengupayakan agar anak tersebut dapat diberi surat pindah ke sekolah lain agar anak tersebut tetap dapat menggunakan haknya untuk mendapatkan pengajaran sesuai amanat UUD Republik Indonesia. Kuncinya

Namun terpisah orang tua Armayani kepada terkininews.com saat dihubungi menegaskan bahwa memang tak ada pemberitahuan sebelumnya yang bahkan saat orang tua korban pun menghadap kepala sekolah barulah ketahuan kalo puterinya dikeluarkan lantaran video tersebut.

"Saya menghadap sama kepala sekolah dan menanyakan bahwa dalam video mereka bertiga kenapa hanya anak saya yang dikeluarkan sementara kedua temannya hanya memdapat scorsing selama seminggu tidak masuk sekolah" Tandas Bapak Armayani.

Kedua teman atas nama Nurhalisa dan Yusriana tetap saja sekolah di sekolah itu padahal mereka bertiga adalah pemeran dalam video APPLIKE yang beredar. Tuturnya.

Dirinya berharap kepada kepala sekolah untuk adil dan bijak dalam memberi keputusan. Harap orang tua korban.

Hingga berita ini terbit kembali belum ada tanggapan dari pihak sekolah Ali Rahim yang sempat dikonfirmasi juga telah melakukan pemblokiran nomor kontak. (*)