Jalan lingkar Paluta 24 M Sigama Ujung Gading-Napahalas Terbengkalai 3 Tahun

Admin Jumat, 14 Juni 2019 12:26 WIB
269x ditampilkan Daerah Headline

PALUTA, -- Dua tahun lebih lahan masyarakat desa sepanjang dusun Pangkal Dolok hingga Desa Napahalas telah di Ratakan dengan alat berat dari Dinas PU Paluta yang kisahnya pembukaan jalan itu adalah penganggaran dari APBD Paluta tahun 2017.

Hingga sampai kapan kami di lupakan??? Sudah terlalu banyak bangunan yang sia-sia di paluta ini, saya tidak ingin proyek pembukaan jalan Sp.  Baru - Napahalas itu juga masuk sebagai daftar bangunan sia-sia dan merugikan uang rakyat. Tegas Afgani S Hrp. 

Entah berapa puluh dusun dan desa yang di lewati jalan 24 M tersebut, Ratusan Ha. lahan telah di ratakan dengan tanah di sepanjang jalan tersebut dan entah berapa kepala keluarga kehilangan tanamannya yang merupakan mata pencaharian pokoknya, hasil pertanian setelah  proyekpun itu sudah hangus tanpa solusi,  jalan penghubung pun telah nyaris tidak bisa di lalui terlebih lebih dalam keadaan di musim hujan. Dan banyak lagi kerugian masyarakat atas pembukaan jalan tersebut. Sahut Mantan ketua Hima Paluta Pekanbaru itu.
 
Sebenarnya mayoritas masyarakat menyambut baik rencana pemerintah,  namun setelah tiga kali lebaran tak kunjung ada kelanjutan ke pengerasan keikhlasan itu pasti akan berubah menjadi kekecewaan.

Sejauh penelusuran Mantan ketua Hima Paluta Pekanbaru yang berjalan sambil bercengkramah dengan bayak warga di sepanjang jalur aliran sungai aek sigama, ada tiga poin penting yang menjadi keluhan warga. Sambungnya Lagi. 

Pertama hilangnya Hasil, bayangkan mang!  Ujar seorang warga. Selama kurang tiga tahun ini hasil getah kami berkurang karena pohonnya di tumbngi, sawitpun begitu,  belum lagi gara-gara kondisi jalan akhirnnya toke yang jemput timbangan hasil tanaman warga ke areal perkebunan karena sulitnya untuk melangsir ke pinggir jalan lintas dan sudah pasti toke sawit maupun getah akan memotong jasa langsir beliau dari harga semula. 

Kedua adalah hubungan kemasyarakatan kami terhalang oleh lumpur, kalau musim hujan kami tidak bisa mengunjungi saudara kami di desa jiren apakah itu kemalangan atau keramaian.  Dulu bisa kami lalui oleh roda dua,  angkutan umum,  sekarang hanya bisa di lewati dengan jalan kaki dan roda empat gardan dua. 

Ketiga,  lahan kami tidak produktif lagi sejak ada penebangan di sepanjang ruas jalan, kami ikhlaskan lahan itu untuk di bngun jalan,  bukan di buatkan lumpur dan semak belukar. 

Memang Di balik kekecewaan itu,  kami juga melakukan kajian mungkin sejalan dengan pemerintah, secara tata ruang kota memang jalur itu sangat menguntungkan sepangjang dusun-dusun dan desa-desa yang di lewati jalan lingkar tersebut, potensi ekonomi jangka panjang sangat besar. Akan tetapi kami masyarakat Sigama tidak ridho jika di abaikan lebih dari tiga kali lebaran seperti bang Toyyib. 

Maka kami meminta kepada pihak Eksekutif dan Legislatif agar secepatnya melakukan peninjauan lokasi penuh lumpur dan semak itu, agar turut merasakan secara langsung apa yang telah di rasakan dan disayangkan masyarakat sekitaran pembukaan jalan agar selanjutnya terbuka hatinya untuk melakukan penganggaran kelanjutan jalan yang ter bengkalai itu. 

Jika lebaran tahun depan (selambat- lambatnya) Tidak juga di laksanakan pengerjaan jalan tersebut,  masyarakat pasti akan bersatu  dan satu langkah perjuangan mendesak secara paksa untuk melanjutkan pengerjaan jalan tersebut. Kita masyarakat punya Hak yang sama sebagai pembayar pajak patut di prioritaskan dan sebagai satu langkah percepatan pembngunan tata ruang pembangunan kabupaten Paluta.  Tutup sang pemuda kelahiran sigama ujung gading itu. (P. Siregar/*)