Pompa Air Pulau Charos Rusak Dan Kesulitan Listrik serta Pemuka Agama

Adhie Sabtu, 3 Agustus 2019 15:36 WIB
210x ditampilkan Batam Dpu Dt Batam Headline

BATAM – Sejak 2018 lalu, pompa air yang melayani belasan Kepala Keluarga Di Pulau Charos rusak dan tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini cukup membuat kesulitan warga terutama yang memiliki rumah cukup berjarak dari sumur yang konon katanya sudah lebih dulu ada sebelum warga pertama menempati pulau Charos tahun 1952 “perigi (sumur) sudah lebih dulu ada di pulau ini” kata Awang Sabtu (54) ketua Nelayan disana. Pulau Charos adalah salah satu pulau dalam rangkaian pulau-pulau rempang galang yang berada sedikit jauh dari jembatan 6, jembatan Barelang yang paling hujung.

Pompa Air yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 2016 itu menggunakan tenanga kincir angin untuk memompa airnya. Namun mesin kincir angin tersebut sudah rusak pada awal tahun 2018 lalu “sekarang kami terpaksa pikul air kerumah masing-masing” kata awing pada tim Daarut Tauhiid (DT) Peduli yang melakukan survey kondisi warga disana. Disampaikan Awang, bahkan ada warga yang harus berjalan sejauh 1 KM untuk mendapatkan air.

Selain air, Warga Charos yang terdiri dari 60an warga itu juga menghadapi masalah lain selayaknya masyarakat pulau pada umumnya. Listrik juga merupakan kebutuhan lain yang masih bernilai mewah bagi warga Charos. Dengan mesin lompeng tua, warga hanya bisa mendapatkan jatah 5 sampai 6 jam listrik saat malam hari “hidup dari jam 6 sore dan sudah mati jam 9 malam, kalau ada rezeki cukup bagus Alhamdulillah bisa sampai jam 10 malam” kata Awang, Keturunan Muallaf Tionghoa yang sudah setengah abad lebih tinggal di Charos.

Lain halnya dengan aktifitas keagamaan. Akses yang cukup terisolir menjadi kendala bagi para dai’ untuk melakukan pembinaan keagamaan dipulau yang hampir seluruhnya adalah muslim itu “disini ada Masjid, tapi penceramah sudah lama tidak datang kesini. Biasanya ada ustad Maulana dari Mubut tapi sudah lama beliau tidak kemari” ungkap Aminah (48) Istri dari Awang Sabtu. “Kami warga Charos. Khususnya ibu-ibu sangat butuh bimbingan agama, kami ingin sekali bentuk majelis ta’lim” tambah Aminah.

Untuk bersekolah, anak-anak charos harus menyeberang ke pulau mubut karena di charos sendiri belum ada sekolah. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur, Keluarga Nelayan dengan pendapatan tidak pasti ini tidak jarang harus menyeberang ke pulau lain yang memiliki ketersediaan bahan pangan.