Cerita DT Peduli Batam Salurkan Qurban Sapi Ke Pulau Seraya

Saiful Selasa, 13 Agustus 2019 06:42 WIB
66x ditampilkan Batam Dpu Dt Batam Headline Kepri Terkini

BATAM – Dihari tasyrik, tepatnya pada hari kedua usai Idul Adha tanggal 13 Agustus 2019, Daarut Tauhiid (DT) Peduli Kota batam menyalurkan Qurban berupa seekor sapi ke Pulau Seraya, Kelurahan Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, Kota Batam.

Qurban Sapi yang beratnya mencapai 400 Kg tersebut diantar kepulau seraya dari pelabuhan rakyat sekupang menggunakan (perahu) pompong. Sejumlah warga dari pulau seraya dilibatkan dalam penjemputan sapi yang berukuran cukup besar “kita sempat khawatir karena kelihatan sapinya cukup besar dan pompongnya agak kecil. Alhamdulillah ada pompong yang kebetulah hendak mengantar es batu ke Pulau Seraya. Jadi sebagian dari kami pindah ke pompong yang lain” kata Anang, Kepala Bagian (Kabag) Program DT Peduli Kota Batam ketika  menceritakan bagaimana mereka sempat kebingungan. Pasalnya sapi yang berukuran besar itu sempat berontak ketika hendak dimasukan kedalam pompong.

Sepanjang perjalanan juga ternyata tidak mudah. Sapi sepertinya cukup gelisah karena pompong yang ia tumpangi cukup sempit. Berkali-kali sapi tersebut berupaya mencari posisi duduk yang nyaman ditengah lajunya pompong menuju pulau seraya. Diatas kedalaman air, tingkah sapi terus membuat pompong yang juga ditumpangi 7 manusia oleng kiri dan kanan “saya sudah siap-siap, Handphone sudah saya masukan ke kantong plastik. Takutnya pompong bakal terbalik” Ujar andi, staf program DT Peduli Kota Batam menceritakan kepasrahannya.

Sapi yang terus membuat pompong oleng juga turut membuyarkan konsentrasi nahkoda. Karena sibuk memberi intruksi pada penumpang lain untuk membatu menenangkan sapi, ia tidak sadar kalau ujung pompongnya kian menuju pompong lainnya. Alhasil tabrakan tidak bisa dihindari. Beruntung sesaat sebelum tabrakan, kedua pompong sempat mengurangi kecepatan dan hanya terjadi tabrakan ringan.

Beruntungnya di sepertiga akhir perjalanan, sapi mulai tenang. Namun tingkah sapi kali ini cukup membuat geli. Sapi tersebut terus menundukkan kepalanya seperti tidak berani melihat ke laut. Sesekali  ia mendongak untuk melihat laut tapi sesegera mungkin ia kembali menunduk. Bahkan ia menunduk sampai tanduk besarnyapun tak terlihat dan hanya menyisakan punggung besar berlemaknya untuk dipandang “sapinya mabuk laut” ujar Amri Nazar, Imam Masjid Annur Pulau Seraya sambil tertawa geli.

Setiba di bibir pantai Pulau Seraya, sapi sepertinya terlihat merindukan daratan. Ia segera lompat dan beberapa orang sigap menangkapnya. Sapi segera digiring menuju salah satu pohon kelapa dan di ikat. Sekerumun orang datang mendekati selebriti baru mereka. Pak imam pun lekas menuju masjid dan menghidupkan mesin jengset kampung. Mesin jengset yang biasanya hanya mampu mengaliri listrik dari jam 6 hingga 9 malam di Pulau Seraya, secara khusus dihidupkan disiang hari agar bisa menghidupkan pengeras suara di masjid untuk memanggil warga berkumpul membantu proses penyembelihan sapi qurban. Dan hasilnya, seketika saja puluhan warga sudah berkumpul dengan masing-masing senjata tajamnya (untuk membantu penyembelihan qurban). Ada juga rombongan anak-anak lengkap dengan pakaian adat nusantara turut meramaikan kerumunan warga. Rupanya saat itu tengah ada pawai persiapan hari kemerdekaan. Namun dandanan mereka cukup serius meski itu hanya sekedar latihan.

Ketika tiba saatnya sapi di sembelih, adegan menegangkan kembali terjadi. Sapi yang jago mengamuk kembali ditambah warga yang kurang pengalaman membanting sapi membuat prosesi itu memakan waktu setidaknya lebih dari 40 menit “maklum pak, warga sudah lama sekali tidak kedatangan sapi Qurban” ujar Amri, mengenang begitu lamanya  mereka tidak menyembelih sapi. Bahkan parang yang ia gunakan untuk sembelih sapi qurban sudah tersimpan cukup lama “saya hampir lupa punya parang panjang ini” lanjut Amri Nazran, Imam yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai Imam di pulau yang sudah lebih dulu ada sebelum Kota Batam Dicetuskan.

Tarik menarik tali  dalam usaha menjatuhkan sapi akhirnya berbuah hasil. Sapi tumbang dan pasrah. Digotong menuju liang sembelih dan dibaringkan. Sesekali ia merontak dan menyadarkan para awak sembelih untuk waspada menahan bobot 400 kg yang cukup bertenaga besar itu. Jelang penyembelihan, Imam Amri Nazran tak lupa ucap doa untuk para muqorrib (orang-orang yang berqurban) “Kita berdoa agar saudara-saudari kita Yunaiti Alenta Dewi, Abdul Mansyur, Abdul Kholiq, Munfatonah, Siti Rolik,Nadhilah Atiqah Dewi, Ashimah Dinilah Irnawanto, Semoga mereka yang sudah berqurban senantiasa dirahmati Allah, diterima amal ibadahnya. Semoga apa yang mereka qurbankan menjadi manfaat bagi warga pulau seraya ini” do’a Amri diiringi aamiin segenap warga disana. Sesegera mungkin dengan iringan takbiran sembelihan parang Amri mulai naik turun membelah tenggorokan sapi perkasa itu. Namun bukan darah mengucur yang menjadi perhatian semuanya, tapi air mata yang terus mengalir dari sapi mengiringi sisa-sisa nafasnya. Bahkan jejak air matanya begitu jelas membekas dikulit coklat gelapnya.

Prosesi ini nyaris usai. Beberapa warga diantara kerumunan kemudian segera melaksanakan tugasnya menguliti dan mencacah kecil-kecil sapi besar itu. Hingga akhirnya seluruh rangkai tugas tim DT Peduli usai kala selesai mendistribusikan daging kurban kerumah-rumah warga. Ucap syukur dan terimakasih membalas semua kebaikan para muqorrib dan upaya DT Peduli Batam dalam mengantar sapi qurban ke kampung mereka, Pulau Seraya.