Pelajaran Adab Islamiah Dalam Perlombaan 17 Agustus Daarut Tauhiid Batam

Saiful Sabtu, 17 Agustus 2019 17:41 WIB
215x ditampilkan Batam Dpu Dt Batam

BATAM – Selain upacara peringatan, pesta rakyat juga salah satu wujud semangat merayakan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejumlah perlombaan yang sudah menjadi tradisi seperti balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang tidak pernah absen menghiasi ramainya pesta rakyat 17 Agustusan. Mulai dari Istana Negara hingga lapangan RW, tiang-tiang panjat pinang tertancap bergantungkan hadiah-hadiah dipuncaki bendera merah putih sebagai perwakilah hadiah utama, tambang yang biasanya mengikat kapal diangkut ketengah lapangan untuk ditarik orang-orang kuat. Kerupuk Palembang digantung setinggi telinga para bocah dan pemandangan lain yang mungkin hanya bisa ditatap mata kala perayaan 17 an. Itu semua sudah menjadi syaarat kecil merasakan kemerdekaan.

Guna melengkapi syarat kecil tersebut, keluarga besar Daarut Tauhiid Kota Batam juga turut ambil bagian. Usai pelaksanaan upacara 17 Agustus perdana di sekolah SMP Daarut Tauhiid Batam, sejumlah perlombaan penyemarak dilaksanakan disana. Namun ada pemandangan tidak lazim pada perlombaan makan kerupuk. Jika biasanya para peserta lomba berupaya memakan habis kerupuk sambil berdiri, maka pada perlombaan makan kerupuk yang diadakan Daarut Tauhiid Batam para peserta justru duduk diatas kursi. Bukan tanpa alasan, hal ini diakui pelaksana sebagai upaya menyadarkan semangat adab Islam dalam hal apapun “dalam Islam, Rasulullah mengajarkan kita untuk makan sambil duduk. Itu adalah adab Islam. Sebagai bentuk penyesuaian maka kami berinisiatif agar lomba makan kerupuk dilakukan sambil duduk” ujar Deden Muhidin, Kepala Sekolah SMP Daarut Tauhiid Batam.

Selain makan kerupuk, ada beberapa perlombaan lain yang juga di upayakan agar mengutamakan nilai-nilai Islam didalamnya. Dalam perlombaan yang menuntut gerakan aktif seperti balap karung, para santri akhwat (murid perempuan) tetap mengenakan kaos kaki dan atribut penutup aurat yang lengkap. Bahkan santri yang biasanya mengenakan cadar tetap mengenakan atributnya tersebut.