Memerangi Hoak

Indah Feliya Santika Rabu, 30 Oktober 2019 06:43 WIB
573x ditampilkan Opini Suara Mahasiswa

Berita bohong atau berita hoax sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ditengah perkembangan teknologi yang begitu cepat informasi dapat diterima oleh siapapun tanpa melihat usia, jenis kelamin, maupun status sosial.

Mengapa demikian? Seiring perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan dari berbagai aspek kehidupan, masyarakat cenderung semakin malas dan lalai dalam melakukan segala hal. Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi seakan menghipnotis semua orang dan menjadikannya lupa diri. Pengaruh teknologi yang begitu besar menjadi momok tersendiri bagi seluruh manusia terkhusus masyarakat Indonesia.

Sebenarnya apa yang menyebabkan masyarakat Indonesia mudah menerima berita hoax? Minat baca masyarakat Indonesia semakin menipis dan bahkan dapatdikatakan hampir punah. Hal ini sangat miris jika kita melihat jumlah populasi masyarakat Indonesia. Sebagaimana survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) merilis peringkat literasi negara-negara dunia pada Maret 2016. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasarkan lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. 

Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di ujungperingkat literasi ini dengan peringkat pertama adalah Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman.Indonesia memang masih unggul satu peringkat diatas negara Botswana. Namun apakah hal ini merupakan prestasi yang harus dibanggakan? Jika kitabercermin dari jumlah populasi Indonesia yang berjumlah 268 juta penduduk hal ini sangat jauh dari yang seharusnya.

Salah satu penyebab mudahnya berita hoax menyebar adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap suatu berita. Masyarakat Indonesia dominan lebih menyukai dan mempercai apa yang mereka dengar daripada apa yang mereka baca. Hal ini  dikarenakan satu masalah klasik yang sangat umum yakni malas membaca.Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Ghufron Mukti sebagai berikut,

 

“Selama ini minat baca dan tulis masyarakat Indonesia masih kurang. Kebiasaan masyarakat Indonesia lebih pada kebiasaan mendengar dan bercakap-cakap," kata Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti, Rabu (2/12).

Lantas langkah apa yang sebaiknya dilakukan? Kebiasaan atau hal besar harus diatasi dari hal-hal yang kecil sebagai contoh penanaman kebiasaan membaca sejak dini.Hal ini menjadi penentu besar kesuksesan literasi di Indonesia khususnya. Tidak hanya itu,menggalakkan budaya membaca kepada seluruh masyarakat juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya.Karenaketika masyarakat sudah memiliki minat membaca, mereka akanmulai kritisterhadap informasi-informasi yang mereka dapatkan. Hal ini tentunya menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk memerangi hoax di Indonesia. Dengan munculnya minat membaca masyarakat tentunya akan lebih bijak dalam memilah informasi yang diperoleh. Dan hal yang sangat penting lainnya adalah masyarakat diharapkan lebih cerdas dalam menggunakan media sosial dan teknologi. Dalam era globalisasi, teknologi merupakan hal yang tidak dapat kita elakkan. Oleh karena itu mau tidak mau kita harus dapat menggunakannya sebaik mungkin agar kita selalu mendapatkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif dari teknologi.

Dari pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia harus ditanamkan sejak dini kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya generasi muda.Tidak hanya itu,peran pemerintah sangat dibutuhkanuntuk menggalakkan budaya membaca dalam menyelesaikan masalah yang lawas ini agar Indonesia dapat membentuk Sumber Daya Manusia yang berkualitas demi Bangsa dan Negara. Disamping itu, jika kita melihat pada permasalahan teknologi, lagi-lagi diminta kebijakan dari masing-masing individu untuk menyaring informasi yang mereka dapatkan.

*)Penulias adalah Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji dan Reli Kepri Menulis