Menteri BUMN Sebaiknya Fokus Sehatkan BUMN Dengan Hutang Terbesar

Admin Senin, 4 November 2019 20:33 WIB
108x ditampilkan Headline Jakarta Nasional

JAKARTA - Sepuluh perusahaan pelat merah yang memiliki utang terbesar mendapat perhatian anggota DPR RI Komisi VI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nevi Zuairina.

Nevi meminta Menteri BUMN dalam satu tahun kedepan lebih fokus dan lebih menyehatkan sejumlah BUMN yang menjadi kebanggaan. Namun memiliki hutang yang luar biasa banyaknya.

Perusahaan pemilik utang terbesar yang dimaksud Nevi antara lain : PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Pertamina, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Taspen, PT Waskita Karya Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan PT Pupuk Indonesia.

“Perusahaan Perbankan, Energi, Telekomunikasi dan Infrastruktur, semua adalah andalan negara sebagai perwajahan kekuatan bangsa dalam mengelola sumber daya. Ini perlu penyehatan yang kuat agar lebih mandiri, merdeka dari hutang sehingga mampu memberikan sebesar-besarnya kontribusi dan manfaat untuk mayoritas rakyat Indonesia”, ucap Nevi.

Anggota Legislator Sumatera Barat ini mengatakan, Kementerian BUMN agar terus waspada terhadap utang BUMN ini. Tercatat lima tahun terakhir, utang BUMN telah melonjak sangat besar. Pada Juli 2019, Utang Luar Negeri (ULN) BUMN Indonesia mencapai US$ 52,8. Meski hutang-hutang BUMN ini masih belum mengganggu arus kas, namun keadaan ini sangat mengkhawatirkan karena akan berdampak pada adanya risiko kontijensi atau ketidakpastian untuk RI.

Politisi PKS ini menambahkan, bahwa utang luar negeri BUMN RI telah mengalami peningkatan sehingga tergambar sebagai tren. Kenaikan lebih dari US$ 6,3 miliar atau sekitar 13,8% hanya dalam waktu 6 bulan saja di periode Januari sampai Juli 2019. Angka ini memiliki proporsi sebesar 26,7% bila dibandingkan dengan total utang luar negeri swasta pada Juli 2019.

Hingga saat ini, lanjut Nevi, hutang dan Kinerja buruk BUMN itu yang menjadi salah satu faktor mengapa hanya 2 BUMN Indonesia yang berhasil menembus deretan 500 perusahaan terbesar di dunia versi majalah Fortune. Padahal, Indonesia memiliki size ekonomi di peringkat 16 besar dunia dalam kategori Negara dengan perekonomian terbesar. Indonesia pun masuk anggota G20.

“Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) senilai US$ 862 miliar (tahun 2016), diperkirakan tahun 2030 nanti ekonomi Indonesia akan menduduki ranking 7 besar dunia, sejajar dengan Amerika Serikat dan China”, katanya.

Sayangnya, tambah Nevi, size korporat (BUMN) tak merefleksikan size ekonomi Nasional yang besar itu. Dari ratusan BUMN, hanya Pertamina dan PLN yang masuk Fortune 500. Sayangnya, BUMN harusnya cerminan aset yang dibanggakan sebuah Negara. Kemajuan pembangunan dan kesejahteraan rakyat disebuah Negara, ditandai dengan performa BUMNnya sebagai The True Player In The World.

“Untuk mengurus BUMN ini, pak Menteri perlu dukungan banyak pihak karena ini sebagai salah satu penyebab, apakah negara akan maju atau akan hancur tergantung cara mengelolanya. Utang memang tidak salah, tapi harus tetap waspada. Bukan saja masalah harga diri bangsa, namun ini menyangkut masa depan seluruh rakyat Indonesia”, tutup Nevi Zuairina. (rilis)