Sekolah Alternatif

Admin Ahad, 17 November 2019 15:36 WIB
427x ditampilkan Headline Opini

terkininews.com, -- Monotonnya sistem pembelajaran, baik di sekolah: dasar, menengah, dan atas maupun Perguruan Tinggi membuat beberapa generasi muda tidak mampu menjawab problem-problem mendasar negara. Seharusnya mereka sudah berbicara tentang pengembangan ilmu dan bukan lagi berdiskusi tentang penemuan ide. 

Tidak banyak sekolah yang mampu menafsirkan hal apa yang menjadi kebutuhan pada masa yang akan datang. Bahkan, apa yang terjadi saat ini, generasi muda mengalami degradasi pengetahuan. Itu karena pertama mereka masih dituntut untuk mengerjakan tugas, sehingga mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk berpikir keluar dari apa yang dipelajari. Kedua, iklim pendidikan yang masih rendah dan ketiga adalah karena terpengaruh oleh lingkungan. Sehingga yang terjadi adalah tidak terbangunnya skill, pengetahuan, pola pikir dan mental sebagai keluaran. 

Saya adalah bagian dari mereka yang mempertanyakan apa yang ingin dicapai oleh pemerintah jika konsep belajar, tugas, dan ujian ditentukan secara seksama. Tentu itu butuh penyaringan kembali bahwa konsep belajar di kota jelas berbeda dengan apa yang ada di remout area. Dengan keterbatasan yang ada, sudah pasti peserta didik di pedesaan akan berlarian mengejar dan memahami tentang pembelajaran. Itu terbukti bahwa, dulu, ketika saya belajar di sekolah dasar, menengah, dan atas tidak banyak materi yang diujikan yang pernah saya pelajari di kelas, sehingga hasil ulangannya pun tak pernah memuaskan. 

Standardisasi Kurikulum 

Remaking kurikulum menjadi agenda tahunan, yang menjadikan peserta didik sebagai sampel pada laboratorium percobaan. Menempati posisi ke 61, Indonesia darurat pengetahuan karena tidak banyak anak-anak Indonesia yang gemar atau suka membaca buku. Sedangkan K-13 yang telah diterapkan tempo lalu sebagai program pembangunan konstruksi pemikiran anak-anak muda belum mencukupi expectation apa yang direncanakan. Bahkan, program full day yang hari-hari ini diterapkan dibanyak sekolahan menjadi program yang banyak menuai kritik masyarakat. 

Alih-alih menjadi program prioritas pemerintah dalam menggenjot pengetahuan dan pembangunan mindsite generasi muda, program ini banyak menciptakan Inklusifitas iklim pendidikan. Konsep full Day ini banyak menyita perhatian publik karena tidak memberikan waktu yang cukup untuk istirahat bagi anak-anak didik. Hal ini menegaskan bahwa sistem copot sulam menjadi ciri khas muka pendidikan Indonesia. 

Meskipun tidak mudah melakukan asimilasi terhadap sistem pendidikan luar negeri karena iklim dan budaya yang berbeda, tapi tidak salah jika melakukan apa yang sudah jelas terbukti. Finlandia, misalnya, adalah salah satu negara yang mempunyai sistem pendidikan yang simple namun mempunyai outcome yang maksimal. Sistem belajar sambil bermain yang diberlakukan oleh negara tersebut memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan cara berpikirnya. Waktu istirahat dan bercengkrama dengan lingkungan yang cukup luas membuat anak-anak Finlandia menjadi lebih produktif dalam belajar. 

Mereka di Finlandia, para staf pengajar, melakukan pendampingan yang intens dan tidak memaksakan anak-anak untuk mengerjakan tugas ini dan itu. Mengapa? Karena hal itu hanya akan menjadi beban mental si anak. Pada fenomena lain, penganugerahan Nobel kepada pasangan suami-istri, Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, tentang penelitian berbasis experimen menjadi sebuah inovasi dalam penelitian. Mereka fokus melihat tentang bagaimana strategi yang digunakan untuk meningkatkan kinerja sekolah di daerah-daerah miskin. 

Penghargaan Nobel sebagai penelitian terbaik bidang ekonomi yang berfokus pada kemiskinan global, baru-baru ini, memperlihatkan bahwa penelitian yang sederhana ini mempunyai keluaran yang jelas dan mencapai target. Dalam penelitian tentang pendidikan ini melihat sesuatu kejadian yang lebih spesifik. Peraihan Nobel ini tentu bukan berasal dari topik penelitian namun sebuah metode yang menarik, simple, dan dapat dipahami yang ditinggalkan. 

Dalam CNBC, penelitian tentang SD Inpres  yang dilakukan Duflo yang diterbitkan di jurnal American Economic Review pada tahun 2001 merupakan penelitian yang dilakukan untuk melihat geliat pembangunan fasilitas pendidikan di Indonesia pada era Soeharto. Dengan judul "Schooling and Laboratorium Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment,"  yang juga menjadi kajian disertasi Prof. Duflo dengan judul "Essays in Emprical Development Economics" pada tahun 1999 merupakan sebuah penelitian yang dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial kemasyarakatan. 

Program SD Inpres sendiri merupakan program yang dilaksanakan dengan dasar Instruksi Presiden nomor 10 tahun 1973. Program yang direalisasikan dalam pembangunan fasilitas pendidikan berupa 61,8 ribu sekolah untuk memperluas kesempatan belajar masyarakat. 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan iklim pendidikan yang baik akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sebuah daerah. Perlu kiranya kita merefleksi kembali pikiran dangkal kita untuk mengkaji fenomena yang terjadi saat ini. Banyak bangunan dibangun secara berkelanjutan dibangun dengan menghabiskan dana yang luar biasa namun tidak banyak hasil yang dapat diuraikan. 

Diharapkan menjadi ruang belajar yang kondusif dan menciptakan lulusan-lulusan yang berkompetensi, justru malah mendorong peningkatan prosentase pengangguran. Jika hal tersebut memang terjadi secara berkelanjutan maka istilah sindrom sumpit dari Jennifer Chen. Sindrom sumpit adalah kecenderungan masyarakat untuk membangun skycrape dan membunuh bangunan-bangunan di sekitarnya. 

Inovasi Pendidikan

Menurut saya menarik jika saat ini kita juga mempertanyakan kebijakan Nadiem Makarim tentang kurikulum pendidikan Indonesia yang berbasis teknologi. Respon positif Nadiem terhadap permasalahan pendidikan Indonesia terbilang cepat namun tentu membutuhkan banyak fasilitas dan upaya untuk mendaratkannya. 

Respon positif dilakukan oleh Kemenag, yang mana saat ini kementerian ini mendukung sistem pembelajaran di Madrasah Allah berbasis IT. Ada banyak lembaga pendidikan berbasis Islam yang telah menjadi percontohan, dan ke depan Lampung juga akan menjadi sasaran kebijakan ini. Kesadaran Kemenag untuk merespon perkembangan dunia pendidikan dan teknologi sampai saat ini sudah baik, demi menciptakan hasil yang maksimal. 

Tentu pemanfaatan teknologi tidak lantas membiarkan peserta didik berselancar dalam memanfaatkan fasilitas tersebut. Benar yang dikatakan mas Robert beberapa hari lalu dalam forum temu alumni yang mengatakan bahwa pendidikan itu yang harus ada guru dan murid. Dan, fisik guru tidak dapat digantikan dengan robot. Mengapa? Itu karena kedekatan emosional antara guru dan murid harus terbangun dengan baik sehingga menciptakan iklim yang membangun dalam konteks pembelajaran. 

Hadirnya Payungi University - sekolah alternatif yang dibangun dari kesadaran warga -  merupakan counter terhadap lembaga pendidikan yang tidak bersifat fleksibel. Pembangunan skill merupakan konsep utama di dalam kurikulum lembaga pendidikan warga ini. Payungi University merupakan sebuah opsi dan kritik terhadap kampus dan sekolah yang tidak mampu merespon pergerakan sains dan teknologi. 

Kurikulum berbasis lingkungan dan teknologi yang diterapkan di Payungi University akan menciptakan lulusan yang kompeten dalam dua bidang tersebut. Artinya jika Payungi University di bangun di banyak tempat, misalnya setiap desa mempunyai sekolah alternatif seperti Payungi University yang tidak Monoton maka permasalahan terkait ekonomi akan terjawab. 

Maka perlu kiranya desa-desa di Indonesia menciptakan pusat study nya masing-masing sebagai upaya untuk mendegradasi ketimpangan ekonomi dan pengetahuan. Selain sistem pembelajaran yang fleksibel, sekolah alternatif ini tidak membutuhkan fasilitas yang mentereng dan modal yang banyak. Saya rasa ini akan menjadi projek pembangunan yang sekaligus menjadi jawaban problem yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. (*)

 

Penulis : Dwi Nugroho 
Pegiat Ekonomi Kreatif dan Pengurus Payungi University Lampung