Demokrasi untuk Peradaban

Admin Rabu, 20 November 2019 22:53 WIB
258x ditampilkan Opini

terkininews.com, -- Pemilu 2019 telah berlalu kini hadir babak baru Pemilihan Kepala Daerah  Serentak tahun 2020. Tugas berat menanti KPU untuk mengantarkan pemimpin daerah 5 tahun kedepan.

Total 270 daerah yang melaksanakan pemilihan serentak di tahun 2020 terdiri dari 9 Provinsi, 224 Kabupaten dan 37 Kota. Termasuk di dalamnya Provinsi kepulauan Riau dan 6 Kabupaten Kota lain di antaranya adalah Batam, Tanjungpinang,  Karimun, Lingga, Anambas dan Natuna. Kecuali kota Tanjungpinang yang tidak melaksanakan Pilkada karena telah melaksanakan Pilkada pada tahun 2018 lalu.

Pemilihan Kepala Daerah Serentak tahun 2020 atau yang akrab di masyarakat dengan istilah sebutan Pilkada atau Pemilu Kada. Pemilihan kepala daerah secara serentak pada tahun 2020 merupakan yang ketiga kalinya di selenggarakan di Indonesia dimana masyarakat tentunya akan berpesta kembali karena sejatinya pemilu adalah pesta rakyat untuk memilih pemimpin suatu Daerah.

Namun ajang ini jangan hanya di jadikan ajang mencari pemimpin 5 tahunan dan Pesta Demokrasi semata tetapi dijadikan suatu teladan yang lebih baik kedepan untuk daerah yang melaksanakan Pilkada.
Rutinitas pemilu lima tahun sekali tentu menjadi ajang bagi masyarakat dan bukan hal yang baru untuk mencari dan memilih pemimpin mereka 5 tahun ke depan.

Janji-janji manis para peserta pemilu pada masa kampanye di harapkan tidak hanya menjadi rayuan manis para calon saja, namun dapat di realisasikan pada saat sudah duduk dan menjabat sebagai Kepala Daerah.

Mengingat Pemilu di Indonesia rasanya sudah cukup dewasa dengan pengalaman pemilu yang sudah beberapa kali di laksanakan mulai dari tahun 1955 pada masa orde lama, orde baru hingga ke reformasi sampai sekarang pemilu terakhir 2019, dan ini menjadi contoh negara demokrasi terbesar dan sukses di dunia.

Indonesia tentunya sudah dapat melahirkan tokoh-tokoh luar biasa untuk membangun negeri dengan mengatasnamakan rakyat di atas kepentingan pribadi.

Memang dari sisi positif uvoria pemilu 2019 terasa sangat membekas di masyarakat hal ini dibuktikan dengan antusiasme masyarakat sebagai pemilih yang hadir ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) pada hari H pemilihan untuk memberikan hak pilih,  dengan angka persentase pemilih 82,78% ini merupakan suatu capaian yang lebih baik karena sudah melebihi target nasional yang di tetapkan oleh KPU yaitu 75%.

Tingkat partisipasi yang meningkat pada pemilu tahun 2019 tentu menjadi suatu kebanggaaan menandakan demokrasi indonesia yang lebih baik, namun ada hal yang harus di perbaiki dari tatanan Demokrasi kita, begitu banyak Pekerjaan Rumah untuk penyelenggara pemilu kedepan apalagi tahun 2020 akan dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah Serentak Seluruh Indonesia pada tanggal 23 September 2020.

Salah satu yang menjadi pekerjaan rumah terberat bagi KPU tentunya tidak lain adalah masalah Daftar Pemilih yang selalu bermasalah dan menjadi kontrofersial di tengah-tengah masyarat baik data ganda mau data anomali.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri dari sisi lain bahwa di sebagian daerah pada Pilpres dan Pileg 2019 menyisakan berbagai macam persoalan. Beberapa permasalahan yang menjadi kendala keberlangsungan pemungutan suara selalu saja terjadi, tetapi tidak signifikan.
Contohnya lambatnya distribusi logistik ke tempat pemungutan suara, akurasi daftar pemilih, dugaan politik uang, surat suara hilang dan terjadinya pemungutan suara ulang di beberapa TPS, dan meninggalnya para penyelenggara pemilu.

Pengalaman berdemokrasi dalam laga Pimilu 2019 seharusnya menjadi catatan dan pelajaran penting bagi kita semua. Tidak hanya penyelenggara pemilu namun semua elemen mayarakat dapat terlibat demi terjaminnya azas pemilu yang LUBER JURDIl (Langsung Umum Bebas Rahasia Jujur dan  Adil).

Ajang demokrasi yang sudah dilaksanakan ini tak hanya dijadikan sebagai prosedur hajatan lima tahunan, tetapi sejatinya mampu menghasilkan pemimpin daerah yang berkualitas, prorakyat, inovatif dan mengutamakan kepentingan rakyat diatas segala-galanya

Tidak hanya itu, kini masyarakatpun sudah cerdas dan dewasa dalam menentukan kandidat kepala daerah, Ini menandakan bahwa demokrasi lokal di Indonesia semakin matang. Harapan rakyat menjadikan Pilkada 2020 sebagai pintu masuk lahirnya demokrasi yang beradab.

Sedikit mengutip dari Francis Fukumaya ilmuwan politik, ekonom politik dan penulis Amerika Serikat. (2011) mengatakan, demokrasi di abad ke-21 seperti berada di persimpangan jalan, yang tampil dengan wajah variatif dan berbeda. Ini artinya demokrasi yang diaplikasikan di era "zaman now" ini bukan lagi demokrasi yang membasi, tetapi demokrasi yang memberadabkan rakyat untuk menjadi pemilih rasional serta mampu memperjuangkan kebutuhan nyata dengan kesadaran tinggi.(*/)