Empat Program Kebijakan Pendidikan, Nadiem Makarim Bangun Kembali Kasta Sekolah

Admin Rabu, 11 Desember 2019 18:23 WIB
223x ditampilkan Headline Jakarta Pendidikan

JAKARTA, -- Nadiem Makarim menggumumkan 4 program pokok kebijakan pendidikan yang disebutnya sebagai mereka belajar

Menurut Pengurus Pusat (IGI) Ikatan Guru Indonesia, 4 program ini telah membuat nadiem Makarim mengembalikan kasta - kasta sekolah, sistem zonasi sekolah mengalami kemunduran dengan adanya penambahan kuota jalur prestasi menjadi 30%.

MRR menyebut bhwa penambahan kuota ini mengakibatkan cita-cita kita untuk membuat pemerataan pendidikan di seluruh sekolah di Indonesia menjadi buyar kembali, mengapa?

Karena dengan adanya jalur prestasi yang demikian besar porsinya mengakibatkan kembali terbentuknya sistem sekolah unggulan, sistem sekolah teladan, sistem sekolah favorit yang selama ini sebenarnya menjadi perjuangan kita untuk menghilangkan kasta-kasta sekolah. Ungkap Muhammad Ramli Rahim Rabu (11/12/2019) Ketum IGI kepada terkininews.com

Kasta - kasta sekolah ini selama ini telah menimbulkan berbagai masalah di masyarakat seperti misalnya upaya segelintir orang untuk mengupayakan segala macam cara agar anaknya mampu terakomodir di sekolah- sekolah unggulan, terjadinya ketimpangan antara sekolah unggulan dan bukan sekolah unggulan kemudian masih banyak lagi masalah yang ditimbulkan oleh keberadaan kasta-kasta sekolah ini dan akhirnya Nadiem Makarim kembali membangun kasta-kasta sekolah tersebut dengan menaikkan porsi jalur prestasi menjadi 30%. Tambahnya

Terkait Ujian Nasional sebenarnya kami berharap Ujian Nasional dihapuskan bukan di tahun ajaran 2020-2021 tetapi seharusnya sudah dihapuskan di tahun ajaran 2019-2020. Pemerintah harus mengupayakan segala cara agar anggaran yang dibutuhkan untuk pengangkatan guru mengingat 52% guru kita saat ini tidak jelas statusnya, tidak jelas pengangkatannya dan juga tidak jelas pendapatannya. Ujarnya

Ujian Nasional ini faktanya tidak memberi manfaat signifikan baik terhadap respon Pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang tertinggal maupun upaya-upaya pemerintah sebagai dampak dari hasil ujian nasional tidak terlihat sama sekali di lapangan dan Karena itu jika Ujian Nasional dianggap sebagai sebuah pemetaan maka sesungguhnya Ujian Nasional ini tidak berarti sama sekali. Ujian Nasional turut berpartisipasi terhadap semakin menurunnya kemampuan anak-anak Indonesia karena anak-anak kita bukan lagi belajar bagaimana mengembangkan kemampuannya sesuai dengan minat dan bakat mereka, bukan lagi bagaimana mengembangkan kemampuan daya Nalar mereka, bukan pula bagaimana mereka mampu menguasai teori-teori dasar tetapi yang mereka lakukan adalah melakukan segala macam cara untuk mendapatkan nilai tinggi di ujian nasional. Bimbingan bimbingan belajar berjamuran untuk kebutuhan Ujian Nasional dan seleksi masuk PTN bukan untuk meningkatkan kemampuan siswa tetapi hanya ada untuk membuat siswa - siswa kita mampu menjawab soal dengan benar meskipun tidak paham maksud dari soal tersebut.

Terkait RPP kata Ramli Rahim sangat mengapresiasi kebijakan nadiem Makarim terkait RPP karena selama ini RPP yang dibuat oleh kawan-kawan guru yang harus 20 sampai 30 halaman sesungguhnya sangat tidak efektif dalam pembelajaran guru guru kita lebih sibuk dengan urusan administrasi daripada mengurusi siswa mereka untuk masa depan anak didik kita untuk itu ikatan guru Indonesia sangat mengapresiasi peraturan baru yang dibuat Pak nadiem Makarim yang cukup RPP itu satu halaman saja tapi sudah mencakup unsur-unsur yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Penyederhanaan RPP ini diharapkan agar guru lebih punya waktu membangun pendidikan karakter. (*)