Belajar Mengenal Diri

Admin Senin, 17 Februari 2020 21:35 WIB
268x ditampilkan Headline Opini

Beberapa tahun terakhir, dinamika sosial politik mencuat ramai. Terlebih pada saat Pilkada Serentak 2018, Pilpres 2019 dan Pileg 2019 lalu, suasananya begitu hangat. Dukung mendukung dan bela membela jagoan terjadi di mana-mana. Bukan saja di momentum kampanye politik tapi juga di luar itu, bahkan di berbagai laman media sosial. 

Pada kondisi semacam itu, saya menyaksikan fenomena yang paradoks, misalnya, kampanye demi rakyat tapi kerap mengadu rakyat, demi bangsa tapi mengangkangi nilai luhur kebangsaan, demi Indonesia tapi merampok sumber daya alamnya demi kepentingan diri, dan masih banyak lagi. 

Belakangan ini, terutama dalam konteks menjelang Pilkada Serentak 23 September 2020 ini, saya kerap berkomunikasi dengan banyak teman, baik yang aktif di partai politik dan media massa maupun para altivis di bebagai lembaga civil society. Materinya banyak, termasuk seputar Pilkada Serentak yang diikuti oleh sekitar 270 daerah (propinsi, kota, dan kabupaten) tahun ini. 

Selain itu, saya juga membaca berbagai berita media massa dan informasi berbagai media sosial seputar sosial-politik, termasuk Pilkada Serentak. Bahkan porsi waktu saya untuk menelisik tema sosial-politik lumayan banyak. 

Dari semua itu saya mendapatkan fakta bahwa politik masih saja dimaknai sebagai momentum untuk saling mencaci maki, merendahkan, menghina dan praktik norak lainnya. Intinya, politik masih kerap dipraktikan secara membabi-buta, bahkan terkesan minus adab. 

Saya tentu tak punya kuasa untuk meluruskan hal semacam itu. Siapalah saya ini. Hanya seorang warga biasa. Sekadar kepala rumah tangga sebuah keluarga kecil. Bukan tokoh yang layak untuk memberi semacam perspektif-edukatif yang mendalam juga panjang mengenai bagaimana semestinya berpolitik yang layak. 

Tapi, dalam kondisi keterbatasan semacam itu, saya terus tergoda untuk mengambil peran. Tentu lagi-lagi semampu saya. Satu hal yang saya lakukan adalah menulis opini. Isinya tentu saja seputar sosial-politik. Bukan untuk menggurui para politisi dan akademisi yang handal pada bidang ini; saya hanya belajar berbagai pendapat atau pandangan. Hanya itu. 

Selanjutnya, saya menyadari betul bahwa saya lama bergulat di dunia gerakan mahasiswa, bergaul dengan banyak politisi lintas partai politik dan menulis seputar sosial-politik untuk berbagai surat kabar, akrab dengan kalangan LSM dan media massa bahkan kerap menjadi narasumber di berbagai forum dan media elektronik seperti Radio dan  TV. 

Selain itu, saya juga sudah beberapa kali diajak oleh beberapa politisi, baik senior maupun yunior, juga beberapa teman dekat juga teman nongkrong untuk aktif di dunia politik praktis. Masuk ini, ikut itu. Dan masih banyak lagi. Ajakan semacam itu bukan sekali, tapi berkali-kali. 

Tapi sampai detik ini saya masih pada posisi sikap dan pilihan saya: tidak berpartai politik. Bukan benci politik. Bukan tak suka politik. Cinta ya cinta. Suka ya suka. Hanya saya tahu diri. Dari sisi pengetahuan saya tak cukup, jaringan pun tak seberapa, dan ini yang tak kalah pentingnya: saya tak cukup isi tas untuk itu. 

Selain itu, saya merasa dan percaya bahwa ada begitu banyak orang di luar sana yang memiliki kapasitas dan berkompeten untuk aktif di ranah politik praktis. Selain untuk menjadi anggota legislatif juga menjadi kepala daerah, dan sebagainya. 

Jadi, hingga saat ini saya masih konsisten dengan sikap dan pilihan saya: tidak terlibat dalam partai politik. Bahkan bukan konsultan politik, dan bukan orang yang berhasrat di panggung kekuasaan. Mungkin saya mesti tetap di sini. Di jalan literasi, teritama literasi diri. Belajar menjadi diri sendiri agar semakin tahu diri. 

Selebihnya, saya fokus menjadikan keluarga kecil saya: istri (Eni Suhaeni) dan kedua anak saya (Azka Syakira) dan Bukhari Muhtadin, serta anak saya yang masih berusia 7 bulan dalam kandungan istri saya, sebagai penggiat literasi. Belajar dan terus belajar di ranah ini. Semoga kelak menjadi pembelajar yang sukses di ranah ini. Itu sudah cukup. Sebab saya mesti tahu diri atau belajar mengenal diri. (*)


Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis buku "POLITICS Membangun Adab Politik"