Pilkada Mabar dan Literasi Publik

Admin Rabu, 19 Februari 2020 16:04 WIB
231x ditampilkan Headline Opini

Pilkada Serentak 2020 tak lama lagi. Hanya tinggal tujuh bulan lagi. Tepatnya 23 September 2020. Manggarai Barat atau Mabar adalah 1 dari 270 daerah (propinsi, kota/kabupaten) yang turut melaksanakan Pilkada Serentak tahun ini. 

Belakangan, dinamika sosial-politik semakin hangat. Bukan saja di tingkat propinsi tapi juga tingkat kota atau kabupaten. Tak terkecuali Mabar. Pemasangan alat praga pun sudah mulai tersebar di mana-mana. Sosialisasi para bakal calon pun mulai menggeliat bak jamur di musim hujan. 

Saya sendiri, karena dorongan berbagai kalangan, baik tua maupun muda atau kalangan milenial Mabar, berupaya untuk ikut dalam kontetasi lima tahunan ini. Alasannya sederhana, saya ingin memajukan Mabar. Karena saya bagian tak terpisahkan dari daerah yang terkenal dengan Komodonya ini. 

Saya sadar betul bahwa dari beberapa bakal calon Bupati atau Wakil Bupati Mabar yang muncul akhir-akhir ini, saya tergolong yang paling muda, menjelang usia 39 tahun. Sebagai bagian dari kalangan muda sekaligus representasi kalangan muda, saya mesti hadir dengan warna yang agak berbeda. 

Salah satu yang saya pilih adalah saya mesti menulis. Tradisi ini sudah menggeliat dalam diri saya sejak lama. Hanya saja belakangan, terutama setelah buku saya dan sahabat saya Syamsudin Kadir yang berjudul "Selamat Datang Di Manggarai Barat" dibedah dan mendapatkan respon yang baik para pembaca, akhirnya kembali menggeliat. 

Saya sangat percaya bahwa tulisan itu menjadi jembatan penghubung antar narator dan narasi. Isinya adalah ide-ide. Dalam politik, tulisan menjadi penghubung antar politisi dan rakyat. Isinya adalah visi-misi yang diturunkan dalam rencana program unggulan atau prioritas. 

Dalam beberapa kesempatan, saya berupaya untuk menulis, terutama menuliskan abstraksi dan deskripsi dari berbagai rencana program yang saya prioritaskan kelak di kala mendapatkan mandat warga Mabar sebagai Wakil Bupati 2020-2025. 

Belakangan saya mempublikasi beberapa tulisan agar mendapatkan tanggapan dari pembaca. Termasuk kritik, saran dan mungkin opini kontra. Bagi saya ini momentum yang paling baik untuk membuktikan bahwa politik itu bukan sekadar jual wajah atau rupa, tapi juga tebar ide naratif yang terbaca publik.

Dengan begitu publik pun secara bebas dan terbuka bisa membaca, memahami, mengukur dan mendebat saya secara intelektual dan tentu mengedepankan kesantunan juga akal sehat. Kelak saya pun bisa dievaluasi oleh publik dari apa yang saya tuliskan. Sederhananya, dalam hal tertentu saya bisa diukur dari apa yang saya tuliskan. 

Dalam makna lain, Pilkada mesti dirayakan dengan baik, riang dan gembira. Salah satunya dengan ide naratif. Publik mesti mendapatkan informasi soal pemikiran dan rencana program saya. Itulah yang disebut dengan literasi publik. Bukan saja berkata, tapi juga menuliskan ide-ide, yang bisa dibaca dan digugat publik. (*)


Oleh: Muhammad Achyar, SH. 
Bakal Calon Wakil Bupati Mabar 2020-2025