Ungkap Kejahatan Jaringan Komunitas Pedofil, Direktorat Cyber Mabes Polri Banjir Pujian

Admin Sabtu, 22 Februari 2020 12:09 WIB
146x ditampilkan Headline Jakarta

JAKARTA, -- Sesuai LP No : 0081 pada tanggal 1/ Februari 2020, Subdit 1 Dittipidsiber Bareskrim Polri bekerjasama dengan The US Immigration and Customs Enforcement (US ICE) mengungkap jaringan komunitas pedofil anak laki - laki sesama jenis di media sosial Twitter. Sabtu (22/2/2020) terkininews.com

Komunitas tersebut menurut Karopenmas BJP Argo Yuwono saat pelaksanaan giat di Gedung Bareskrim Jumat (21/02) kemarin bahwa para pelaku  disinyalir telah melakukan kekerasan dan mengeksploitasi seksual terhadap anak, karena telah menyasar anak laki-laki sebagai sarana pemuas nafsu untuk dicabuli dan disodomi di lingkungan sekolah.

Aksi penyimpangan seksual tersebut juga direkam dalam bentuk foto dan video untuk disebarkan ke media sosial Twitter dengan member sesama pedofil untuk bertukar koleksi. Tambah Argo Yuwono.

Lanjut dikatakan bahwa penangkapan dilakukan terhadap tersangka PS (44), seorang penjaga sekolah dan pelatih pelajaran ekstrakulikuler pada Rabu, 12 Februari 2020, di rumah penjaga sekolah daerah Jawa Timur dengan modus operansi :

  1. Tersangka pernah menjadi korban kekerasan seksual (dicabuli dan disodomi) sejak usia 5 - 8 tahun oleh pamannya yang telah meninggal dunia
  2. Tersangka mulai memiliki penyimpangan seksual karena terstimulasi oleh kebiasaan melihat konten pornografi anak di media soail Twitter
  3. Tersangka sebagai pelatih pramuka, pelatih ekstrakulikuler beladiri dan penjaga sekolah, menjadi sarana kontak menyalurkan hasrat/fantasi dan penyimpangan seksualnya.
  4. Korban dibujuk dengan diberikan uang, minuman keras, rokok, kopi dan akses internet oleh tersangka serta diancam tidak diikutkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan tersangka, apabila para korban menolak ajakan tersangka untuk dicabuli dan disodomi.
  5. Jumlah korban sementara sebanyak 7 anak berumur 6 -15 tahun yang telah dicabuli serta disodomi oleh tersangka sebanyak 2 kali atau selama 3 – 8 tahun.
  6. Kekerasan dan eksploitasi seksual dilakukan di lingkungan sekolah (Ruang Unit Kesehatan Sekolah dan Rumah Dinas Penjaga Sekolah) yang direkam oleh tersangka dengan menggunakan handphone milik tersangka kemudian diupload ke komunitas pedofil di media sosial twitter dengan followers sekitar 350 akun.
  7. 2 akun milik tersangka telah disupend oleh platform dan ditangkap oleh sistem aplikasi yang dikelola oleh The National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) Cybertipline yang berkedudukan di Amerika Serikat kemudian diteruskan ke kepolisian.

Diketahui Subdit 1 Dittipidsiber Bareskrim Polri bekerjasama dengan US ICE (The US Immigration and Customs Enforcement) juga mengamankan barang bukti berupa, 1 Handphone berserta 2 SIM card, 1 Memory Card Micro SD merek V-gen 2GB, 2 bantal tidur, 1 celana pendek warna hitam, 1 kaos dalam laki-laki warna putih, 1 botol minuman merek orang tua, 2 gelang tangan berbahan kayu. Terangnya.

Sementar itu Kasubdit l Ditipid Siber Bareskrim Polri, Kombes Reinhard Hutagaol menjelaskan bahwa para pelaku akan dijerat pasal 82 Ayat (1) jo Pasal 76E, Pasal 88 jo Pasal 76I UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 29 jo Pasal 4 Ayat (1) jo Pasal 37 Uu Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Pasal 45 Ayat (1) jo Pasal 27 aayat (1) UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.

"Ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 6 M". Pungkasnya.

Menyikapi keberhasilan tersebut Kepala Biro Kerjasama dan Humas Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Cyber Mabes Polri yang telah berhasil mengungkap kejahatan pedofil melalui jaringan internet.

Sesuai dengan Permendikbud 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan kekerasan di satuan pendidikan atau di sekolah agar setiap sekolah memiliki tim yang terdiri dari guru, murid dan orang tua termasuk dari pihak aparat untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kekerasan di sekolah.

"Kepada guru dan seluruh orang tua untuk lebih melakukan pengawasan dan kesadaran bahwa setiap anak dapat menjadi korban kejahatan maka harus dilakukam langkah-langkah antisipatif". Himbau Erlangga

Dari hasil pengungkapan Direktorat Cyber Mabes Polri tersebut Komisioner KPAI Margaret mengatakan bahwa kasus kekerasan fisik, seksual dan bullying di sekolah pada tahun 2019 kasus yang terlaporkan di KPAI sebanyak 321.

Untuk itu KPAI menghimbau kepada seluruh instansi sekolah ataupun pihak sekolah secara langsung terkait dengan:

  1. Perekrutan guru atau tenaga di sekolah untuk ditanyakan apakah pernah punya riwayat perilaku sosial yang menyimpang
  2. Memberikan edukasi dan literasi digital kepada orangtua dan anak melalui komite sekolah terkait dengan mengenalkan mengenai perlindungan anak
  3. Memasang CCTV di area sekolahnya umtuk menghindari terjadinya kekerasan

Hal senada asisten perlindungan anak dalam situasi darurat dan pornografi KPPA EKA PURWANTI mengucapkan terima kasih kepada Nareskrim yang telah berhasil untuk membuka kasus ini.

Anak-anak yang menjadi korban akan menjadi fokus penanganan psikologis untuk menghadapi trauma dan memastikan semua unsur di pemerintah daerah untuk dapat mendampingi para korban hingga pulih paripurna serta psikososial pemulihan.

Dari pengungkapan itu juga Homeland Security Investigation (HSL) Marco Champion berhara HSL menjadi yang terdepan dalam upaya pemberantasan kejahatan terhadap anak di seluruh dunia yang dilakukan melalui internet.

Dirinya juga berharap dapat melakukan kerjasama dengan Polri guna meningkatkan kapasitas kedua belah pihak dalam upaya melindungi dan menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban serta membawa para pelaku tindak kejahatan ke pengadilan.

"Kasus sukses ini menggambarkan nilai dari kemitraan bilateral antara hak asasi HSL dan Polri serta berkomitmen dalam melindungi aset yang paling berharga dari negara kita yaitu anak-anak". (*/)