Untitled Document
Untitled Document
Untitled Document
Home | Berita Photo | Bahari Kite | Artikel | Redaksi |
Untitled Document


Untitled Document
Rabu, 8 September 2010 22:22
PKS Resmi Dukung Pasangan Nurdin-Rafiq
 
Senin, 6 September 2010 14:14
10 Ribu Pelita Hiasi Malam 7 Likur
 
Sabtu, 4 September 2010 12:05
Kejari Daik Lingga Kembali Tahan 3 Orang Tersangka
 
Kamis, 2 September 2010 20:54
KAMMI Kepri Minta Gubkepri Jadi Penengah
 
Kamis, 2 September 2010 10:36
Pajak Hiburan Turun 10 Persen
 
Rabu, 1 September 2010 11:39
Tahun ini Shalat Ied Dikantor Bupati Lingga
 
Rabu, 1 September 2010 11:27
Rekan Wartawan Keberatan Nama dan Media Dicatut
 
Sabtu, 28 Agustus 2010 14:17
Rumah Warga Batu Belubang Roboh Diterpa Badai
 
Sabtu, 28 Agustus 2010 14:03
Satu Lagi Pejabat Lingga Ditahan
 
Rabu, 25 Agustus 2010 15:45
KPU Pastikan Tolak SK Kepengurusan Parpol Yang Kadaluarsa
 
Untitled Document


Menuntut Profesionalisme Guru
Senin, 15 Pebruari 2010 22:28
Oleh : R. DACHRONI


(Catatan Ringan Pasca Kasus Pemecatan Siswa SMAN 4 Tanjungpinang) Perisitiwa “pemecatan” empat siswa SMA N 4 Tanjungpinang karena dianggap telah “melecehkan” gurunya di situs jejaraingan facebook adalah salah satu fenomena dan bagian dari masalah pendidikan yang tidak boleh didiamkan begitu saja.

Menurut penulis, masalah ini tidak cukup hanya menjadi berita hangat yang menghiasi media massa cetak lokal dan nasional akhir-akhir ini. Akan tetapi, perlu kita ambil hikmahnya, sehingga kita semua berharap peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin menyampaikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Guru yang salah atau murid yang benar dan sebaliknya. Sebab kalau kita memfokuskan kepada masalah siapa yang salah dan siapa yang benar, maka masalah pendidikan Indonesia yang sedemikian kompleks tidak akan selesai. Perlu adanya perubahan dan perlu adanya perbaikan. Salah satu ujung tombaknya adalah pentingnya kompetensi guru dan keprofesionalannya dalam mendidik siswa-siswinya demi kepentingan pendidikan. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal I (1) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut penulis, dari defenisi pendidikan di atas seorang tenaga pendidik atau guru dituntut untuk mendidik dengan memberikan konsep pembelajaran yang nyaman dan membuat siswa-siswinya aktif dalam mengikuti pelajaran sehingga muncullah kekreatifan siswa atau peserta didiknya. Ketidaknyamanan siswa dalam belajar ini salah satu penyebab menurut penulis mengapa peserta didik menyampaikan kegelisahan dan kekesalannya terhadap guru. Haruskah guru marah? Marah mungkin itu sikap yang manusiawi karena guru juga manusia, tetapi dilihat dari sisi profesionalitasnya marahnya seorang guru juga harus professional bukan karena “sakit hati” atau “malu hati”, tetapi “marahnya” juga harus melambangkan sebagai pengajaran dan pembelajaran bagi siswa.

Terkait dengan masalah profesionalisme ini kriteria guru professional itu. Drs. Ary H. Gunawan (2000: 121) dalam bukunya yang berjudul, “Sosiologi Pendidikan” menyebutkan ada sepuluh kompetensi professional guru Indonesia yaitu. Pertama, menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, mampu mengelola program belajar mengajar. Kedua, memiliki kemampuan dalam mengelola kelas. Ketiga, mampu menggunakan media / sumber belajar mengajar.

Keempat, menguasai landasan-landasan kependidikan. Kelima, mampu mengelola interaksi belajar mengajar. Keenam, memiliki kemampuan untuk menilai prestasi siswa untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran. Ketujuh Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan konseling. Kedelapan, mengenal dan mampu menyelenggarakan administrasi sekolah dan terakhir atau yang kesembilan adalah memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Disamping itu, sebagai ujung tombak dan pahlawan pendidikan menurut penulis seorang guru memiliki beberapa kemampuan eksternal dalam rangka menopang keprofesionalannya yaitu cepat berakomodasi, tahu banyak dari yang sedikit dan tahu sedikit dari yang banyak, akui kesalahan, hindari perkataan bodoh, memberikan motivasi, ciptakan suasana yang tidak tegang dan bersikap netral.

Cepat berakomodasi, akomodasi atau penyesuaian perlu dilakukan oleh seorang guru yang ingin mencapai tingkat keprofesionalan, apalagi sekarang perubahan kurikulum dan revisi-revisi di bidang pendidikan sangat begitu pesat mengalami perubahan. Itulah sebabnya, seorang guru dituntut untuk cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan-perkembangan tersebut.

Tahu banyak dari yang sedikit dan tahu sedikit dari yang banyak, motto inilah yang kerap kali digunakan seorang penulis untuk mengembangkan karya tulisnya, ternyata motto ini tidak hanya untuk seorang penulis, seorang guru juga perlu meniru motto ini untuk mengembangkan tekhnik mengajarnya. Seorang guru harus mengetahui sedikit ilmu di luar mata pelajaran yang diajarkannya dan ia juga harus tahu banyak tentang mata pelajaran yang diajarkannya agar dalam tatap muka dengan murid, sang guru tidak kaku dalam menghadapi murid dan murid pun akan menikmati pelajaran.

Akui kesalahan, guru juga manusia jadi tidak tertutup kemungkinan kalau saat mengajar di kelas ada kesalahan-kesalahan dan kehilafan-kehilafan saat menjelaskan materi pelajaran atau salah dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid. Kalau sudah terjadi kesalahan seperti ini guru harus mau mengakui kesalahannya. Jangan gengsi lantaran takut dibilang guru yang tidak profesional. Sebaliknya kalau guru tersebut tidak mengakui kesalahan maka si murid akan selamanya terjerumus dalam lembah kesalahan.

Hindari perkataan bodoh, perkataan bodoh kerap keluar ketika seorang guru tengah mengalami sikap emosional yang nyaris meledak-ledak karena merasa telah optimal memberikan mengajarkan bidang studi tertentu, tetapi murid tidak juga paham dengan apa yang diajarkannya. Namun perlu diingat, bukan berarti itu menjadi dalih atau alasan untuk seorang guru dengan semena-mena memarahi bahkan mengucapkan kalimat yang tidak pantas dan layak untuk diucapkan.

Memberikan motivasi, bodoh erat kaitannya dengan malas jadi di dunia ini sebenarnya tidak ada manusia yang bodoh. Nah, salah satu jalan untuk memberantas kemalasan, guru harus selalu memotifasi setiap murid yang malas dengan tutur kata yang tidak menyinggung perasaan. Sehingga murid yang malas tadi merasa mendapat perhatian lebih dan akhirnya iapun mau menghilangkan rasa malasnya seperti bolos sekolah, malas mengerjakan PR dan lain-lain. Oleh karena itu, Seorang guru harus sabar dan tidak boleh putus asa dalam memotivasi murid-muridnya.

Bersikap netral, dimata Allah SWT, tidak ada manusia yang tinggi derajatnya kaya, miskin, pintar dan bodoh. Begitu juga selaku guru haruslah bersikap netral. Dalam arti, tidak menomorsatukan salah seorang siswa-siswi yang memiliki kelebihan saat PBM berlangsung atau istilah lainnya adalah anak emas. Karena hal ini bisa membuat murid yang lain menjadi pesimis dan merasa tidak diperhatikan.

Inilah beberapa hal yang diterapkan dalam bimbel yang saya gagas bersama rekan-rekan di Tanjungpinang dan diskusi panjang terkait dengan sistem pengajaran yang selama ini diajarkan oleh guru dan keprofesionalan guru juga menjadi tuntutan tersendiri mengingat lajunya perkembangan zaman yang mengharuskan seorang guru untuk kreatif dalam melakukan proses belajar-mengajar (PBM).

Pemred www.terkininews.com
 

Kami dari redaksi menerima kiriman artikel dari anda dan akan diseleksi sebelum dipublikasikan . Artikel yang sudah diterima redaksi sepenuhnya menjadi milik Terkininews.com. Silahkan kirim ke redaksi@terkininews.com



Senin, 6 September 2010 12:07
Melanggengkan Ibadah Setelah Ramadan

Senin, 30 Agustus 2010 14:53
Secercah Harapan Untuk Sani - Soerya

Senin, 30 Agustus 2010 10:40
Tepati Janji atau Tebar Pesona (Catatan Lepas Pasca Pelantikan Dua HMS)

Kamis, 19 Agustus 2010 21:38
Dua HMS dan Nasib Pembangunan Dompak

Kamis, 12 Agustus 2010 10:57
Essay Tentang Manusia-manusia Kecil

Selasa, 10 Agustus 2010 10:58
Rekrutmen dan Profesionalisme PNS

Sabtu, 7 Agustus 2010 11:45
Menyingkap Pentingnya Pendidikan Karakter

Kamis, 5 Agustus 2010 11:46
Menanamkan Ruh Intelektual ke Dalam OSPEK

Selasa, 3 Agustus 2010 09:30
Skandal Century yang Hilang di Telan Bumi

Selasa, 7 September 2010 21:21
Lebaran, Momentum Reformasi Akhlak (Catatan Lepas Menyambut Hari Kemenangan)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Untitled Document