Gurindam, Tak Selamanya Milik Raja Ali Haji

Diterbitkan oleh Dachroni pada Senin, 21 Juni 2010 00:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 2.735 kali ditampilkan

Selama ini, ketika berbicara tentang Gurindam maka yang terlintas di dalam pikiran kita adalah Raja Ali Haji. Mengapa? Karena memang sejak Raja Ali Haji menyelesaikan Gurindam Dua Belas pada 1846 Masehi dan diterbitkan pada 1854 Masehi, nyaris tidak adala
Selama ini, ketika berbicara tentang Gurindam maka yang terlintas di dalam pikiran kita adalah Raja Ali Haji. Mengapa? Karena memang sejak Raja Ali Haji menyelesaikan Gurindam Dua Belas pada 1846 Masehi dan diterbitkan pada 1854 Masehi, nyaris tidak adalagi karya fenomenal sastra Melayu klasik selain Gurindam Dua Belas gubahan atau karangan Raja Ali Haji.

Jelas ini merupakan sesuatu yang tak boleh dibiarkan, kendati tidak ada pewarisan budaya menulis gurindam bukan berarti kita melupakan begitu saja untuk menulisnya. Kita sepakat, Gurindam Dua Belas memiliki makna tersurat dan tersirat yang dapat menjadi pedoman dan keteladanan dalam adat-istiadat budaya Melayu Kepulauan Riau. Nah, inilah barangkali yang dilakukan oleh teman penulis Rendra Setyadiharja.

Keuletannya dalam menulis gurindam telah melahirkan sebuah karya sastra Melayu klasik Gurindam dengan judul besar Gurindam Mutiara Hidup yang baru saja diterbitkan oleh STISIPOL Press.

Dalam hal ini, penulis tidak mencoba menyamakan atau menyetarakan karya sastra rekan penulis ini dengan Raja Ali Haji, tetapi penulis berupaya menjelaskan bahwa tradisi menulis Gurindam harus tetap dan terus ada sebab pada prinsipnya karya sastra yang berasal dari negeri Tamil (India) ini merupakan karya sastra indah dan memiliki tutur bahasa yang sangat indah.

Bentuk Gurindam yang terdiri dari bait-bait dan tiap baitnya terdiri dari dua baris serta memiliki rumus persajakan a.a yang hampir mirip dengan Carmina (pantun kilat), bedanya Carmina, baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Sedangkan gurindam baris pertama dan baris kedua adalah isi. Sementara itu, gurindam baris pertama dan kedua merupkan isi, baris pertama dan baris kedua memiliki hubungan sebab akibat. Baris pertama disebut sebagai sebab sedangkan baris kedua adalah akibat atau jawaban dari baris pertama.

Jika Raja Ali Haji membagi karya Gurindan Dua Belas dalam dua belas pasal, Rendra Setyadiharja dalam Gurindam Mutiara Hidup membagi ke dalam 22 bagian yaitu Madah Pembuka, Perihal Niat, Perihal Niat, Perihal Ikhlas, Perihal Salat, Perihal Masa, Perihal Sedekah, Perihal Masa Muda, Perihal Ilmu, Perihal Adab Kepada Guru, Perihal Bergaul Sesama Insan, Perihal Sahabat, Perihal Aurat, Perihal Sang Hawa (A), Perihal Sang Hawa (B), Perihal Lelaki Sang Pujaan Hati, Perihal Cinta, Perihal Menahan Amarah, Perihal Pejabat Negeri, Perihal Malu, Perihal Bergurau, Perihal Penutup dan Madah Penutup.

Semua bagian dari tiap penggalan-penggalan Gurindam Mutiara Hidup mengandung makna yang luar biasa. Mulai pentingnya niat dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Bahkan tidak ketinggalan juga bait-bait gurindam yang menceritakan tentang cinta.

Perihal Cinta

Barangsiapa bermain cinta Mesti tahu cinta bertahta Jangan kamu cinta berlebih Kelak hidup berteman sedih Cinta bertuju pada ilahi Itulah tempat cinta sejati Jangan berlebih cinta manusia Kelak kamu akan tersiksa Jangan berlebih cintakan dunia Akhirat nyata seakan tiada

Di atas merupakan bait-bait Perihal Cinta yang merupakan salah satu pasal dalam Gurindam Mutiara Hidup. Tak hanya tentang Cinta yang menjadi sorotan menarik dalam karya ini, tetapi Gurindam Mutiara Hidup ini juga memberikan ulasan dan penjelasan ringkas terkait pentingnya kita memiliki tujuan dan niat yang ikhlas dalam menjalani kehidupan ini.

Perihal Niat

Barangsiapa hendak berbuat Semua berpulang kepada niat Barangsiapa hendak berbuat bagus Iringi dengan niat yang lurus Barangsiapa yang hendak berbuat bagus Iringkan dengan niat yang tulus Tahukan kamu niat yang berkah Itulah niat hanya karena Allah Tahukah kamu niat yang mulia Itulah niat yang berdasarkan taqwa Tahukah kamu niat berawal Dia timbul di mula amal Jikalau niat tiada bersalahan Lakukan niat untuk kebaikan Barangsiapa hendak beribadah Luruskan niat jangan menyalah

Contoh beberapa pasal atau bait gurindam di atas yang tertuang dalam karya Gurindam Mutiara Hidup cukup positif untuk kita resapi bersama karena di dalamnya terkandung banyak sekali makna. Masih banyak hal dan pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan melalui buah pena Rendra Setyadiharja ini. Melalui bait-bait Gurindamnya, dia mencoba menyentil fenomena-fenomena dan masalah-masalah kehidupan yang terjadi pada masyarakat.

Dengan munculnya Gurindam Mutiara Hidup ini, penulis meyakini merupakan awal bangkit dan berkembangnya karya sastra Melayu klasik di Kepulauan Riau dan hal ini sekaligus membuktikan bahwa Gurindam, Tak Hanya Milik Raja Ali Haji. Tapi gurindam adalah satu karya di dunia kepenulisan Melayu klasik yang berisikan nasehat-nasehat dan ianya bisa dipelajari untuk kemudian menjadi koleksi kepenulisan sastra masa kini. Semoga!

Penasaran! Ingin mendapatkan Gurindam Mutiara Hidup ini Anda bisa menghubungi:

1. Donny KOK (Manajer Marketing / STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang 0852 7227 6756) 2. Nurul Azizah (STAI MU Tanjungpinang / 0857 6604 1908) 3. Puri Suryani (Kampus Politeknik Batam / 0852 6451 0428) 4. Miza (Umrah Tanjungpinang / 0857 6538 0845) 5. Toko buku 171 Tanjungpinang 6. Toko buku Cendekia Tanjungpinang 7. Kantor Redaksi Portal Situs Berita Terkininews.com Tanjungpinang - Kepulauan Riau Kompleks Bintan Centre

Harga buku promo: Rp 25.000,-

1. 20 Pembeli pertama @ Rp 20.000,- 2. Beli 4 buah gratis 1 kitab Gurindam Mutiara Hidup (@Rp 25.000)

Note: Menerima pesanan dari luar di daerah ditambah dengan ongkos kirim pembayaran bisa dilakukan via transfer ATM Bank Muamalat 906 9012599 An. R.Dachroni (0852 7227 6756)

*) Pemred Terkininews.com