DPRD Anambas Desak Desperindag Untuk Lakukan Sidak Terkait Beras Sintetis

Diterbitkan oleh pada Ahad, 24 Mei 2015 09:29 WIB dengan kategori Anambas dan sudah 1.353 kali ditampilkan

ANAMBAS - DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas mendesak Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (Disprindagkop dan UKM) setempat untuk melakukan sidak apakah beras sintetis masuk ke Anambas.


Ketua Komisi II DPRD Anambas, Yusli mengungkapkan, Disprindagkop dan UKM harus segera mensidak ke pasar-pasar yang ada. Selain itu Distributor serta warung-warung kecil yang menyediakan sembako juga harus disidak, jangan sampai masyarakat mengkonsumsi beras sintetis karena sangat berbahaya. 

"Bukan hanya mengecek apakah  ada beras sintetis saja namun barang kadaluarsa dan kecukupan sembako juga harus diawasi," kata Yusli.

Sebagai daerah perbatasan Anambas sangat rentan masuknya beras sintetis. Apalagi rentang kendali yang jauh tak dapat dipungkiri akan menyulitkan pengawasan.

"Disperindag jangan fokus di Tarempa saja tapi juga harus kepulau-pulau tempat pengecer disana juga harus ditinjau," pintanya. 

Mulai saat ini, masyarakat diminta cermatlah memilih beras. Jangan sampai perut kita dipaksa mengonsumsi nasi dari beras plastik, sebab, beras yang mengandung bahan sintetis sangat berbahaya bagi kesehatan. 

Yusli kembali menjelaskan , plastik memang tidak layak dikonsumsi. Bahan sintetis hanya boleh digunakan sebagai pembungkus. Itu pun harus dalam pengawasan. 

"Ada standarnya juga. Tidak semua jenis plastik bisa untuk membungkus makanan," katanya. 

Dengan banyaknya bahaya yang ditimbulkan, Yusli mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat membeli beras. Bahkan, pihaknya juga meminta masyarakat untuk melihat dengan jeli memilih beras yang akan dikonsumsi. 

Dijelaskan Yusli, ada tiga kandungan yang terdapat dalam beras. Yakni, karbohidrat, protein, dan vitamin B1. 

"Kandungan vitamin B itu yang membuat beras berwarna putih pudar," bebernya.

Yusli kembali menjelaskan bahwa, beras sehat dilihat dari warnanya yang tidak terlalu putih dan tidak bening. "Biasanya putih pudar, lalu ada bintik di tengah," jelas dia 

Yusli berharap, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas untuk sigap dengan maraknya peredaran beras plastik, jangan sampai masuk ke n Kepulauan Anambas dan merugikan masyarakat, selain itu yang paling ditakutkan beras sintetis tersebut dioplos dengan beras biasa. Mengoplos beras sangat merugikan konsumen. 

"Mudah-mudahan di Anambas jangan sampai hal itu terjadi," tukasnya. 

Secara terpisah Kasi Perdagangan Disperindagkop Yoel Wijaya mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengkomunikasikan dengan pelaku usaha yang ada seperti distibutor besar dan pengecer-pengecer kecil. 

"Bahkan kita sudah komunikasikan ini dengan BP POM Batam dan Dinas Kesehatan KKA." jelasnya. 

Disamping itu diakui pihaknya,  sampai saat ini masih belum ada ditemukan beras sintetis di Anambas maupun yang telah dioplos. "Kita langsung turun kelapangan saat berita tentang beras sintetis ini mencuat,"jelasnya. 

Yoel juga menyampaikan untuk stock sembako dan barang saat ini tidak ada masalah begitu  juga barang kadaluarsa dapat dikatakan sudah tidak ada dipasaran.

"Jika ditemukan barang kadaluarsa dipasaran maka kami akan tarik seluruh produk barang dari
toko maupun distributornya," jelasnya. (ant)